Menjadi Manusia dengan Sastra

    Menjadi Manusia dengan Sastra

Oleh Budi Darma

Manusia sangat dipersyarati oleh sastra untuk kemanusiannya

(pernyataan Emha Ainun Najib dalam salah satu esainya, dikutip oleh Teguh Afandi dalam pengantar kumpulan cerita Seno Gumira Ajidarma, Dunia Sukab)

        Pendahuluan

    Dalam forum ini perkenankanlah saya mengucapkan terimakasih banyak kepada  Noura Publishing atas jasa  penerbit ini dalam usaha untuk  mengembangkan sastra Indonesia ke arah  yang lebih baik. Banyak buku sastra serius diterbitkan, disebarkan, dan diperbincangkan, agar semangat untuk membaca buku sastra serius  makin meningkat. Sementara itu semua orang tahu, buku sastra serius biasanya tidak laku, sebab perhatian pembaca pada umumnya adalah buku sastra yang ringan dan bersifat menghibur . Penerbitan dan penyebarluasan buku sastra serius, dengan demikian, tidak akan mendatangkan keuntungan yang berarti, namun, karena idealisme Noura Publishing  sangat tinggi, maka buku-buku sastra serius tetap diperhatikan.

    Sementara itu, Forum “Menjadi Manusia dengan Sastra” ini akan menampilkan  karya Iwan Simutupang Ziarah, karya saya Orang-Orang Bloomington serta Rafilus, karya Koentowijoyo Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, karya Seno Gumira Ajidarma Dunia Sukab, dan karya Bondan Winarno Petang Panjang di Central Park. Dalam kesempatan ini Noura Publishing menampilkan acara Tribute to Bondan Winarno sebagai bentuk penghargaan kepada almarhum Bondan Winarno, disusul dengan peluncuran  penerbitan ulang karya Iwan Simatupang Ziarah dan Merahnya Merah. Untuk memantabkan peluncuran karya Iwan Simatupang, Violetta Simatupang, anak Iwan Simatupang, memberikan testimoni mengenai kepengarangan ayahnya.

        Kreativitas

    Pasti kita sudah tahu, bahwa salah satu penyakit yang dapat menyengsarakan anak-anak sepanjang hidupnya adalah polio. Penderita polio, apabila tidak dirawat dengan baik sejak tahap awal, kakinya akan mengecil, sementara pertumbuhan bagian tubuh lainnya biasanya normal. Dengan demikian, penderita polio terpaksa tidak mampu berjalan dengan wajar, dan karena itu, kegiatannya terbatas.

    Untunglah, ada seorang ilmuwan yang sangat berjasa, Jonas Salk (1914-1995) namanya, yang karena dedikasinya terhadap kemanusiaan dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan, melalui penelitiannya yang mendalam telah menghasilkan serum untuk pencegahan penyakit polio. Laboratorium Salk terletak di kawasan San Diego, California, Amerika.

    Jonas Salk mempunyai sahabat, Jacob Bronowsky (1908-1974) namanya, seorang ilmuwan Inggris, pakar dalam mathematika, biologi, dan sejarah sains, dan kendati Bronowsky bukanlah orang humaniora, pendapatnya mengenai kreativitas sangat dihargai oleh para ilmuwan sains, dan juga ilmuwan humaniora. Dalam pandangan Bronowsky ada tiga pencapaian manusia yang sangat berharga, yaitu kreativitas, penemuan (invention), dan penemuan wilayah (discovery).

    Bagi Bronowsky, baik invention maupun discovery sifatnya impersonal, sedangkan kreativitas sifatnya personal. Contoh penemuan wilayah atau discovery bisa dilihat dari keberhasilan Christopher Columbus dalam menemukan benua Amerika. Andaikata sebelum sampai benua Amerika Columbus menghembuskan nafas terakhir di tengah samudra, pada suatu saat pasti akan ada orang lain yang akan menemukan benua Amerika. Karena itu, sifat discovery adalah impersonal, yaitu, kalau perlu dapat tergantikan oleh orang lain, karena kalau Columbus gagal, benua Amerika akan tetap ada, dan tidak mungkin hilang ditelan bumi.

    Invention, bagi Bronowsky, juga impersonal: andaikana Graham Bell tidak mampu menemukan pesawat tilpun, pada suatu saat pasti akan ada orang lain yang berhasil menemukan pesawat tilpun, demikian pula mengenai penemuan serum polio. Andaikata Jonas Salk gagal, pada suatu saat, entah kapan, pasti ada ilmuwan lain yang mampu menemukan serum polio.

    Kreativitas, sebaliknya, bersifat personal, yaitu tidak mungkin digantikan orang lain. Lihatlah, misalnya, William Shakespeare (1564—1616), seorang dramawan yang boleh dikatakan tidak pernah menciptakan cerita dramanya sendiri. Sebelum Shakespere lahir, bahan untuk dramanya sebetulnya sudah tersedia, seperti misalnya Hamlet dan Romeo and Juliet. Tragedi Hamlet berasal dari kronikel (semacam babad) dari Denmark, dan tragedi Romeo dan Juliet berasal dari cerita rakyat di Verona, Itali. Dengan kreativitasnya yang luar biasa dahsyat, Shakepeare mampu mengolah kembali bahan-bahan yang sudah ada menjadi serangkaian karya agung. Andaikata pada waktu masih kanak-kanak Shakespeare meninggal, tidak akan ada orang lain yang mampu menggantikan posisinya.

    Sekarang, lihatlah kisah anak-anak muda cemerlang bernama Blake Ross (lahir 1985) dan Dave  Hyatt (lahir 1972), penemu perangkat mozzila firefox. Pada waktu menemukan perangkat itu umur Blake Ross baru sepuluh tahun, dan umur Dave Hyatt baru 23 tahun. Karena itu sangat pantas untuk dikatakan, dua anak ini, khususnya Blake Ross, adalah anak-anak jenius. Sekarang bayangkan, andaikata Blake Ross dan Dave Hyatt meninggal pada waktu mereka masih balita, pasti aka nada orang lain yang mampu menciptakan perangkat yang sama, atau mungkin lebih baik.

        Berdiri di Dua Kaki

    Jacob Bronowsky bukan sekedar saitis, tetapi juga mendalami masalah humaniora, antara lain sastra. Dengan demikian, Bronowsi boleh dianggap sebagai manusia yang mampu berdiri di atas dua kaki. Dalam kurikulum tahun 1990-an, sementara itu, ada mata kuliah Basic Humanities atau Ilmu Budaya Dasar dengan tujuan, agar mahasiswa ilmu-ilmu sosial tahu secara kompprehensif humaniora dan sains, dan mahasiswa sains tahu secara komprehensif ilmu-ilmu sosial dan humaniora, dan mahasiswa humaniora tahu secara komprehensif ilmu-ilmu sosial dan sains. Titik berat pada ilmunya masing-masing, ditambah dengan ilmu-ilmu lain sebagai tambahan.

    Gagasan untuk memperkenalkan Ilmu Budaya Dasar didasari oleh kenyataan, bahwa ilmu makin berkembang, demikian pula spesialisasi. Perkembangan ilmu dan spesialisasi memang diperlukan, akan tetapi, supaya ada keseimbangan, ilmu-ilmu lain di luar ilmunya sendiri perlu diketahui secara komprehensif untuk penyeimbang.

    Kita tahu, meskipun usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan selalu dilakukan, pendidikan selalu “ketinggalan jaman,” dan karena itu, maka pendidikan kurang mampu untuk menyediakan tenaga siap kerja. Pendidikan, dalam praktek, hanya mampu menghasilkan tenaga siap latih untuk menghadapi pekerjaan. Begitu lulus dari pendidikan, seseoang harus “dilatih” dulu untuk menghadapi pekerjaan tertentu.

    Makin maju perkembangan jaman, makin “jauh” jarak antara kondisi pendidikan dan kondisi lapangan. Lembaga-lembaga pendidikan, mulai tingkat bawah sampai dengan tingkat atas, sering “dikalahkan” oleh perkembangan jaman. Perilaku anak didik, dengan demikian, lebih banyak ditentukan  oleh keadaan di luar lembaga pendidikan. Peran keluarga juga makin berkurang, karena peran di luar keluarga dan di luar lembaga pendidikan juga makin dominan.

    Pasti tidak ada orang tua dan lembaga pendidikan yang menginginkan anak-anak tawuran, melawan guru, melakukan seks bebas, dan hal-hal negatif lain. Tapi karena keadaan di luar keluarga dan lembaga pendidikan banyak memberi contoh negatif, maka anak-anak pun bisa dengan mudah terpengaruh oleh contoh-contoh negatif tersebut.

    Satu contoh saja: carilah sebuah data yang bermanfaat di internet, lalu apa yang terjadi? Pasti ada sisipan-sisipan gambar cabul, iklan tidak bermoral, dan banyak hal negatif lain. Keluarga dan lembaga pendidikan tidak akan mungkin mengontrol anak-anak sampai sejauh itu.

        Dunia yang “chaotic.”

    Masing-masing jaman pasti mempunyai tuntutan sendiri yang mungkin tidak dituntut oleh jaman lain. Karena standard kehidupan kita makin tinggi, maka tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup berselera tinggi menjadi dominan pada jaman kita sekarang. Keinginan untuk selalu “up to date” inilah yang akhirnya menjadi akar penting lahitnya pop culture atau kebudayaan pop.

    Baju yang masih bagus harus dibuang karena mode sudah berubah, gedung yang masih baik harus dibongkar untuk menyesuaikan dengan arsitektur mutakhir, gawai masih bagus fungsinya harus dibuang karena ada gawai yang lebih “trendy,” inilah salah satu ciri kebudayaan pop, kebudayaan yang lebih mementingkan kebaruan dan penampilan daripada substansi.

    Keinginan untuk memiliki dan melihat yang serba baru dengan sendirinya memengaruhi dunia industri: kualitas tetap dijaga, akan tetapi titik beratnya tetap pada kebaruan dan penampilan, dan apakah awet apa tidak kurang diperhitungkan. Produk yang dipakai hanya dalam waktu pendek justru menguntungkan orang banyak.

    Sekarang tengoklah cerita seorang anak kecil pada tahun 1950-an ketika pada suatu hari Minggu dia diajak ayahnya untuk mengunjungi pabrik pecah belah tempat ayahnya bekerja. Dengan bangga ayahnya mengambil sebuah gelas, membantingnya keras-keras ke lantai, dan gelas berguling-guling sebentar tapi tetap utuh, tidak meninggalkan cacat sama sekali. Kalau semua industri masa kini memproduksi barang-barang yang awet, apa lagi penampilannya tidak bervariasi, maka kebanyakan orang tidak memerlukan barang sama dalam waktu lama. Industri akan melambat, atau bahkan mati, dan akibatnya, banyak mulut yang tidak bisa makan. Karena itu, produk tidak perlu benar-benar awet, harus serba baru, dan penampilannya harus menarik.

    Budaya pop dan industri pada hakikatnya sama, bagaikan saudara kembar siam, didampingi oleh saudara kembar siam lain, yaitu konsumerisme. Seorang pegawai rendahan yang, maaf, gajihnya kecil, misalnya, “terpaksa” memiliki banyak kartu kredit supaya dapat mengkuti perkembangan jaman. Akibatnya, tentu saja, hutang menumpuk.

    Mungkin kita tidak sadar, bahwasanya kita sebenarnya sudah terlibat dalam perang proxy, yaitu perang di mana musuh kita sudah ada di dalam negara kita sendiri. Musuh kita mungkin teman baik kita sendiri, mungkin tetangga kita sendiri, mungkin juga kerabat kita sendiri. Siapakah yang menyebarkan konten porno, hoax, ujaran kebencian, dan lain-lain dengan tujuan merusak bangsa Indonesia? Mungkin bukan orang luar, tapi justru orang kita sendiri. Siapa pula yang memasukkan narkoba dan barang-barang berbahaya lain, misalnya produk kecantikan palsu, beras plastik, dan lain-lain? Mungkin juga orang kita sendiri, meskipun ada hubungannya dengan dunia luar.

    Korupsi mungkin juga terjadi karena konsumerisme, yaitu keinginan untuk hidup mewah dengan jalan pintas, dengan melanggar hukum dan merugikan kepentingan banyak orang. Birokrasi dan politik justru diciptakan bukan untuk kepentingan pelayanan, tapi kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

    Budaya pop, industrialisasi, dan konsumerisme memang bisa memberi keuntungan bagi masyarakat luas, tapi kalau masyarakat tidak hati-hati, justru bisa merusak masyarakat. Dan apabila masyarakat rusak, terjadilah ”chaos,” yaitu kekacauan di berbagai lini, termasuk moralitas.

        Sastra Bukan Panasea

    Hakikat sastra adalah kontemplasi, bukan panasea atau obat untuk menyembuhkan semua penyakit dan mengatasi semua masalah. Andaikata sastra adalah lagu, maka sastra yang baik mempunyai ciri “sustaining,” karena itu mengajak pembacanya secara tidak langsung untuk merenung dan memikirkan hakikat kehidupan. “Sustaining” berarti bergema, tidak mendadak berhenti, seperti halnya kalau kita menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tidak mungkin kita menyanyikan baris terakir lirik Indonesia Raya “Hiduplah Indonesia Raya,” langsung stop, tapi “Hiduplah Indonesia Raya….” dengan gema panjang.

    Makin bagus sebuah karya sastra, makin kuat daya “sustaining”nya. Cobalah kita tengok kehidupan para sastrawan besar, misalnya para pemenang Anugerah Nobel Sastra. Yang membuat mereka mampu menulis karya sastra yang bagus, antara lain adalah bacaan mereka. Juga cobalah tengok para negarawan yang mampu mengubah kehidupan manusia atau bangsanya, seperti misalnya Bung Karno dan Winston Churchill. Bacaan sastra mereka bukan hanya banyak, tapi juga berkualitas. Dan tentu saja, bacaan mereka bukan semata-mata karya sastra saja, tapi juga berbagai jenis bacaan lain, sebagaimana yang didambakan oleh Jacob Bronowsky.

    Contoh terbaru dapat disimak dari kehidupan Elon Musk (lahir 1971), seorang jenius baik dalam sains maupun dalam bisnis. Dialah pencipta SpaceX, dan Tesla, Inc, dan dia pulalah orang terkaya di dunia urutan ke 53. Meskipun sangat sibuk, dia masih punya waktu luang untuk banyak memnaca, termasuk karya besar sastra.

    Lalu, apakah sebetulnya kebutuhan primer manusia disamping tubuh yang sehat dan pikiran yang cemerlang? Tidak lain adalah jiwa yang sehat, sebab dengan adanya jiwa yang sehat, spiritualitas yang sehat serta merta akan mengiringi jiwa yang sehat. Mengenai hubungan sastra dan psikologi, tengoklah sebuah  buku klasik  tahun 1950-an, Theory of Literature hasil kolaborasi penelitian Rene Welek dan Austin Warren. Mereka berpendapat, bahwa dalam masalah wawasan kejiwaan, sastrawan yang baik lebih pandai daripada psikolog dengan latar belakang pendidikan psikologi. Karya sastra yang baik, memang, tidak mungkin lepas dari masalah psikologi, meskipun pada umumnya tidak mencolok. Mereka menyatakan, bahwa”the novelists can teach you more about human nature than the psychologists” (1950:23).

    Dengan membaca karya sastra yang baik, tulis mereka mengenai pendapat E.M. Forster, instink pembaca mengenai motivasi seseorang yang dihadapinya bertambah peka. Pembaca ini akan tahu apakah dia sedang berhadapan dengan orang jujur, tulus, munafik, jahat, atau egoistis. Mereka juga mengutip pendapat seorang psikoanalis Karen Horney dengan pendaptnya, bahwa karya sastra yang baik merupakan sumber studi psikologi yang tidak akan habis kendati terus menerus digali.

        Generasi Milenial

    Ada Generasi Diam (Silent Generation), ada Generasi Baby Boomers, ada Generasi X, dan ada pula Generasi Y. Generasi Diam dinamakan “diam,” karena selepas PD I, sistem patriaki di Barat masih sangat kuat, dan karena itu perempuan diam saja: diberi anak tiga tidak apa-apa, lima tidak apa-apa, tujuh tidak apa-apa, berapun jumlah anak tidak apa-apa.

    PD II, sementara itu, menciptakan kesedihan yang luar biasa hebat: banyak korban nyawa, banyak korban cacat seumur hidup, banyak juga orang-orang yang linglung tanpa tahu harus berbuat apa. Disadari atau tidak, naluri manusia berkata hendaknya kekosongan akibat PD II ini, yang oleh Ernest Hemingway dinamakan “The Lost Generation” (“Generasi Yang Hilang”), harus diganti oleh generasi baru yang sehat tubuhnya, mentalnya, dan kekuatan spiritualnya, dan untuk menciptakan generasi baru ini diperlukan banyak bayi, dan dari sinilah lahir Generasi Baby Boomers.

    Masa Generasi Baby Boomers adalah masa ketika perkembangan IT masih sangat lambat. Komputer generasi awal sudah ada, tapi untuk ukuran sekarang masih sangat primitif: memeorinya sangat terbatas, besarnya bukan main, dan karena itu memerlukan ruang yang sangat besar.

    Pada waktu generasi berikutnya, yaitu Generasi X lahir dan kemudian menjadi dewasa, kemajuan IT sudah lebih cepat dibanding pada masa generasi sebelumnya, tapi tetap lambat, misalnya, CPU-nya masih sangat besar dan sangat berat, sementara memorinya juga sangat terbatas. Kemajuan IT makin cepat dan terus makin cepat, sampai akhirnya lahirlah Generasi Z, yaitu ketika kemajuan IT sudah luar biasa cepat, dan melahirkan berbagai gawai dengan kemampuan besar.

    Karena perkembangan  IT sangat cepat, maka sebagian dari Generasi X yang masih muda dapat juga dimasukkan ke dalam Generasi Z. Generasi X yang masih muda dan Generasi Z itulah yang dinamakan Generasi Milenial. Pencipta Mozilla Firefox Blake Ross dan David Hyatt dapat dimasukkan dalam katagori Generasi Milenial, demikian pula siswa klas dua SMA Palangkaraya, pencipta antivirus SMADAV (SMA Dua Anti Virus).

Generasi Milenial tidak mungkin lepas dari gawai, dan hampir selamanya mereka abai terhadap lingkungan karena perhatian mereka lebih tertuju pada gawai mereka sendiri. Di ruang publik masing-masing orang memainkan gawainya sendiri-sendiri, seolah-olah di sekeliling mereka tidak ada orang lain. Karena itulah, setelah terjadi beberapa kali kecelakaan lalu lintas di Hawaii, Pemerintah Hawaii mengancam denda berat kepada mereka yang mengoperasikan gawai di jalan-jalan. Nafsu selfie antara lain juga muncul karena generasi ini abai akan lingkungannya. Karena itu ada selfie diri sendiri, ada pula selfie bareng-bareng yang kadang-kadang mengundang bahaya: jatuh dari jendela, tergelincir dari karang laut, terseret arus sungai, dan terlindas kendaraan.

Berita mengenai anak perempuan melarikan diri karena tergiur oleh rayuan laki-laki melalui media sosial sudah banyak kita dengar. Anak-anak perempuan itu ada yang sudah kembali tapi sudah tidak utuh moralnya, atau sudah dijual oleh laki-laki perayunya, dan bahkan ada pula yang dibunuh.

    Sebagaimana halnya selfie, mereka juga ingin bebas, tidak mau dikekang orang lain. Karena itu, mereka suka pindah pekerjaan, dan berusaha untuk mendirikan usaha sendiri baik perseorangan maupun bersama kelompoknya. Perusahaan-perusahaan start-up pun bermunculan. Di lain pihak, perusahaan-perusahaan, baik yang sudah mapan maupun masih baru, tidak suka mempekerjaan seseorang dalam waktu lama. Dari sini muncullah sistem outsourcing, yaitu kontrak kerja, tanpa jaminan masa depan.

    Karena hampir semua data pekerjaan ada di dalam gawai, mereka tidak lagi ambil pusing soal kantor. Mereka bisa bekerja di mana pun mereka berada, selama ada colokan listrik dan wifi. Inilah salah satu pemicu tumbuhnya cafe, tempat mereka bekerja, bersantai, bertemu dengan teman-teman, dan menciptakan koneksi-koneksi baru.

    Kepandaian mereka mengoperasikan gawai menyebabkan mereka akrab dengan iklan-iklan promo, antara lain promo pesiar ke luar negeri. Karena itulah, berkelana ke mana-mana, baik di dalam maupun di luar negeri, menjadi salah satu gaya hidup mereka. Mobilitas mereka bukanlah sekedar untuk berplesir, tapi, langsung atau tidak, untuk mencari inspirasi inovasi. Karena itulah, menurut Elon Musk, inovasi disruptif pada umumnya dimulai dari orang-orang yang mobilitasnya tinggi, baik mobilitas fisik, yaitu sering berkelana dalam dunia nyata, maupun berkelana di dunia maya. Boleh dikatakan mereka tidak memikirkan mau tinggal di mana, selama mereka tetap bisa berkaitan dengan gawai. Namun akhir-akhir ini ada perkembangan baru, yaitu, mereka sudah mulai memerlukan rumah untuk tempat tinggal. Meskipun mereka bisa pergi ke mana-mana baik di dalam negeri maupun di luar negeri, akhirnya mereka akan pulang pula ke rumah.

    Generasi milenial adalah generasi yang akan menguasai masa depan kehidupan pada semua bangsa, termasuk Indonesia. Sementara itu, karena keterikatan mereka pada gawai, minat baca mereka kurang. Berita-berita di media sosial biasanya instant, kurang diteliti kebenaranya, dan cara mereka membaca pun cenderung cepat-cepat, tidak perlu sampai tuntas.

    Kemampuan daya serap verbal cenderung menurun, digantikan oleh kenaikan kemampuan untuk menyerap hal-hal audio visual, seperti yang tampak pada minat mereka terhadap Video, Youtube, W.A., F.B, Instagram dan lain-lain yang makin lama makin mudah diakses. Dengan demikian adalah wajar kita mempertanyakan apakah mungkin mereka tertarik pada sastra, sebuah media verbal, dan panjang. Pertanyaan ini berat, jawabannya berat, dan realasi usaha untuk mengawal minat baca karya sastra juga berat.

    Untuk menjawab pertanyaan yang berat ini, mungkin kita perlu menengok makna “literasi sastra,” yaitu segala kegiatan yang bersangkutan dengan sastra. Bedah buku sastra, diskusi mengenai sastra, meminjam buku dan meminjamkan buku sastra, mengunjungi perpustakaan, tukar menukar buku, memberi hadiah buku, serta membaca sastra itu sendiri, inilah yang dinamakan “literasi sastra.” Komunitas Goodreads, misalnya adalah salah satu wadah penyebaran literasi sastra, dan kebetulan, mayoritas anggota Komunitas Goodreads adalah anak-anak Generasi Milineal.

    Pertanyaan lain muncul, yaitu, apakah pinjam meminjam buku, memberi hadiah berupa buku, tukar menukar buku, benar-benar bisa mengangkat  minat baca Generasi Milenial? Belum tentu, tapi perlu tetap diusahakan.  Lagi pula, sebagaimana yang telah dijelaskan tadi, sekarang mulai ada gejala bahwa Generasi Mileneal ingin mempunyai tempat tinggal tetap. Alasannya bisa macam-macam, mungkin, antara lain karena usia mereka bertambah, dan mungkin juga karena merekmana, sebetulnya ada juga di antara mereka yang mengisi waktu luangnya dengan membaca berbagai macam bacaan, termasuk bacaan sastra. Waktu luang itu misalnya pada waktu mereka menunggu pesawat terbang, duduk di ruang tunggu dokter gigi, istirahat di hotel, dan lain-lain. Perjalanan individu, generasi, dan manusia pada umumnya di mana-mana sama, yaitu bagaikan bandul jam. Pada suatu saat mereka akan menyadari, bahwa ada sesuatu yang kosong dalam diri mereka, dan pada saat-saat semacam inilah mereka akan mencari ketenteraman spiritualitas, antara lain lain sastra, dan tentu saja agama.

        Novel dan Cerpen: Perbincangan Ringkas

    Sekarang marilah kita bicarakan serba ringkas novel Iwan Simutupang Ziarah, karya saya kumpulan cerita Orang-Orang Bloomington dan novel Rafilus, kumpulan cerita karya Kuntowijoyo Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, kumpulan cerita karya Seno Gumira Ajidarma Dunia Sukab, dan kumpulan cerita Petang Panjang di Central Park. Kalau perlu, ringkasan ini dapat kita diskusikan lebih lanjut dalam acara selanjutnya. Sementara itu, karena ada acara khusus “A Tribute to Bondan Winarno” disertai dengan trailer mengenai beberapa kegiatan ketika Bondan Winarno masih bersama kita, kumpulan cerita Bondan Winanro tidak kita bicarakan secara ringkas di sini.

        Novel Iwan Simatupang Ziarah

    Latar belakang pendidikan Iwan Simatupang banyak, antara lain kedokteran, antropologi, drama, dan filsafat. Pengalamannya juga banyak, antara lain menjadi anggota TRIP (pasukan pelajar dalam Perang Kemerdekaan melawan Belanda, tahun 1945-1949), guru, redaktur majalah Siasat, dan wartawan Warta Harian, serta penulis untuk berbagai media. Dari pendidikannya, tampaknya yang paling menarik bagi Iwan Simatupang dan kemudian memengaruhi corak berbagai essai, cerpen, dan novel Iwan Simatupang tidak lain adalah sastra dan filsafat. Pengalamannya sebagai anggota TRIP, guru, dan wartawan dengan sendirinya juga memengaruhi karya-karyanya.

    Ada pengalaman yang sangat penting dalam kehidupan Iwan Simatupang, yaitu pengalaman intelektualnya ketika dia menjadi redaksi majalah Siasat yang antara lain dikendalikan oleh intelektual muda terkemuka saat itu, yaitu Soedjatmoko, dan kritikus terkemuka HB Jassin. Para intelektual muda dan sastrawan ini mempunyai kebiasaan berkumpul-kumpul untuk berdiskusi mengenai berbagai masalah, khususnya filsafat dan sastra dengan orientasi, pada  umumnya, ke Barat. Mereka tahu nama para filsuf dan sastrawan besar di Eropa, dan dalam diskusi-diskusi itu mereka selalu berusaha mendalami karya para filsuf dan pengarang tersebut.

    Akhirnya, Iwan Simatupang menetap di Hotel Salak, Bogor, dan sebagaimana yang bisa kita saksikan dalam surat-suratnya kepada B. Soelarto, pengarang drama Domba-Domba Revolusi, Iwan Simatupang selalu gelisah menghadapi kondisi dan situasi politik saat itu. Melalui radio dan sumber-sumber berita lain dia tahu, bahwa Indonesia banyak digoncang oleh berbagai demonstrasi, usaha untuk menjatuhkan pemerintah, serta kemerosotan nilain mata uang rupiah secara drastis. Masa depan tidak bisa diprediksi, karena berbagai perubahan cepat terjadi yang pada umumnya cenderung menghancurkan bangsa Indonesia.

    Andaikata Iwan Simatupang itu pengarang realis, maka dalam karya-karyanya dia akan menulis berbagai realita pada waktu itu secara “harfiah,” tapi karena Iwan Simatupang bukan tipe itu, maka realita yang dia hadapi sehari-hari  dia angkat ke dunia abstrak, ke dunia absurd, dan ke dunia surealis. Karena itu, kalau membaca Ziarah dengan pandangan realis, novel ini menyajikan banyak kejanggalan yang menabrak logika, tapi, tentu saja, bukan dengan cara ini kita menghadapi novel Ziarah. Esensi dalam novel ini bukan kejanggalan-kejanggalan itu sendiri, tetapi berbagai ketidak-menentuan dalam realita yang tersembunyi di balik kejanggalan-kejanggalan ini, yaitu, sekali lagi, kekacauan politik dan ekonomi pada masa itu

        Kumpulan Cerita Orang-Orang Bloomington dan novel Rafilus karya saya.

    Karena kumpulan cerita dan novel ini adalah karya saya, sebaiknya saya tidak memberi komentar mengenai dua karya ini, kecuali kalau dalam diskusi nanti ada pertanyaan.

        Kumpulan cerita Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Koentowijoyo.

    Kuntowijoyo adalah seorang spiritualis, seperti yang tampak dalam kumpulan puisinya Sajak Awang Uwung dan novelnya Khotbah Di Atas Bukit, seorang sejarawan, sebagaimana yang tampak antara lain dalam bukunya mengenai Pakubowono X, dan seorang humanis, sebagaimana yang tampak dalam berbagai karyanya, termasuk Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.

    Hampir semua cerita dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga adalah cerita keluarga, yaitu mengenai hubungan antara anak dan orang tuanya, suami dengan isterinya, anak-anak dengan tetangganya, dan hampir semuanya bernuansa domestik. Sebagai sejarawan Kuntowijoyo harus teliti, dan ketelitian itu tampak dalam semua cerita dalam kumpulan ini. Semua detail diciptakan untuk meyakinkan pembaca, bahwa yang terjadi dalam cerita bisa benar-benar terjadi dalam realita. Karena hubungan antar-keluarga tidak selamanya harmonis, maka konflik antar-anggota keluarga pun membuat iba para pembaca terhadap toko-tokohnya. Inilah salah satu kemampuan Kuntowijoyo, yaitu menciptakan empati pada pembacanya, seolah—olah pembaca ikut serta dalam berbagai peristiwa di dalam cerita. Dalam “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” yang kemudian dijadikan judul buku kumpulan ini tampak, misalnya, konflik batin antara anak yang idealis dan ayah yang pikirannya serba praktis. Kalau semua orang seperi ayahnya, maka pembangunan gedung, jembatan, kereta api, dan sebagainya dengan mudah dapat terwujud. Sebaliknya, kalau semua orang seperti anaknya, mengidolakan kedamaian tanpa semangat membangun jembatan, lalu apa yang akan terjadi? Sang anak mau tidak mau harus menggabungkan keduanya, yaitu menjadi manusia idealis dan sekaligus mampu bertindak konkrit untuk membuat jembatan dan lain-lain.

    Sebagai seorang humanis, Kuntowijoyo tidak bisa melepaskan diri dari masalah kematian. Dalam cerita “Serikat Laki-Laki Tua” tampak, bahwa manusia tidak mungkin mengelakkan diri dari ketuaan, penyakit, dan konflik dengan anak atau menantu karena generasi muda menganggap bahwa mereka tidak punya manfaat lagi, dan keberadaan mereka justru mengganngu. Semua tindakan mereka pada dasarnya adalah tindakan untuk mengisi waktu luang sambil menunggu kematian. Cerita “Gerobak Itu Berhenti di Muka Rumah” juga mengenai orang tua yang  miskin, kesepian, diabaikan oleh hampir semua orang, dan melaksanakan tugasnya sebagai pengangkut barang untuk menunggu ajal datang menjemputnya.

Kumpulan Cerita Dunia Sukab karya Seno Gumira Ajidarma

    Seno Gumira Ajidarma terkenal sebagai pengarang yang sangat produktif: begitu melihat atau mendengar sesuatu, maka Seno Gumira Ajidarma mampu menciptakan objek yang dilihat atau didengarnya menjadi sebuah cerita. Sebagai seorang wartwan dan sekaligus juga pengarang, Seno tahu apa perbedaan antara reportase dan fiksi: keduanya sama-sama mengemukakan kebenaran, dengan cara berbeda. Pangkal kebenaran adalah realita, dan reportase mengungkapkan realita sebagaimana adanya, sedangkan fiksi mengungkapkan kebenaran yang tidak mungkin diungkapkan sebagai realita. Faktor imajinasi dan keberpihakan, dengan demikian, menjadi salah satu ciri khas fiksi.

    Semua cerita dalam kumpulan ini dihadiri oleh seorang tokoh bernama Sukab, baik sebagai tokoh “sambil lalu” dan sekonyong-konyong muncul tanpa sebab jelas, sebagaimana yang tampak dalam cerita “Penari Dari Kutai,” maupun sebagai tokoh sentral sebagaimana yang tampak dalam cerita “Khuldi.” Sukab bisa muncul sebagai cameo, bisa juga mendominasi sebuah cerita dari awal hingga akhir.

    Nama Sukab, tampaknya, awalnya muncul begitu saja, dan inilah berkah berwujud inspirasi bagi pegarang Seno Gumira Ajidarma. Semua pengarang, memang, pada suatu saat mendapat inspirasi untuk menciptakan nama tertentu, latar tempat tertentu, tokoh-tokoh dengan watak-watak tertentu, yang asal usulnya sukar atau bahkan tidak mungkin dilacak. Inspirasi berfungsi sebagai pemantik pengarang untuk terus menulis, dan itulah sebabnya maka nama “Sukab” menjadi semacam “trademark.” Kendati ceritanya berbeda, temanya tidak sama, tokoh dan penokohannya juga lain, dengan mudah Seno Gumira Ajidarma  “melanjutkan” kehidupan Sukab.

    Sebagai wartawan, pasti Seno Gumira Ajidarma sudah banyak berpetualang, karena itulah baginya menulis dengan latar tempat yang berbeda-beda tidaklah terlalu sukar. Meskipun demikian, karena Seno Gumira Ajidarma tinggal di Jakarta, maka mau tidak mau sebagian besar cerita Seno tidak lain adalah masyarakat urban. Sebagai wartawan yang ingin menangkap gambaran human interest masyarakat urban, maka dengan kiat yang sangat mengena Seno sengaja mengangkat kisah kaum bawah, bukan kaum elit. Kaum bawah memandang Jakarta sebagai dunia impian, dan mereka ingin menjadi warga dunia impian tersebut. Tapi karena dunia impian hanyalah impian, maka orang-orang klas bawah ini justru bisa terperangkap kesengsaraan.

Februari 12, 2018

Tinggalkan Balasan