KUDEP

Karya: Ike Selviana Prawolo
Ia lahir sebagai putri seorang lelaki yang mencintai kebudayaan, yaitu Pak Joko yang mencintai Kuda Lumping atau yang lebih dikenal Kudep, singkatan dari Kudo Kepang sebutan masyarakat Desa Kasang Pudak tempat Yuli dibesarkan.
Kudo Kepang adalah tarian yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggangi kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang dianyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Tarian Kudep biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda akan tetapi beberapa pertunjukan Kudep menyuguhkan kesurupan, kekuatan magis seperti atraksi memakan beling dan aksi kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Musik yang mengiringi tarian ini adalah gamelan, bende, gendang, dan lain-lain.
Tarian Kudep ini berasal dari Jawa Tengah, sama seperti Ayah Yuli. Maka dari itu, Ayah Yuli bergelut di dunia Kudep sebagai mata pencahariannya. Yuli hanya dibesarkan oleh seorang Ayah. Ibunya sudah lama meninggalkan mereka karena permasalahan rumah tangga yang dialami kedua orang tuanya, yaitu masalah perekonomian. Ayah Yuli yang waktu itu hanya mampu mencukupi untuk makan sehari-hari saja, itupun terkadang Ibu Yuli harus mengutang agar Yuli bisa makan dan sekolah jika ayahnya tidak memiliki uang. Orang tua Yuli telah berpisah sejak Yuli berusia enam tahun. Walaupun dibesarkan oleh sosok laki-laki, tidak membuat Yuli berpenampilan atau berperilaku seperti laki-laki yang selalu digambarkan pada cerita-cerita ataupun sinetron-sinetron di televisi.
“Anak kau tu, dijodohkan be samo anak aku si Rian. Cantik dio tu padek bedandan, cocok la dengan Rian, kan gagah.”
“Apo hal kau ni, budak beduo tu barula SMA belum tamat lagi, lah nak bejodohan be.”
“Abisnyo, kau padek nian didik anak, awak lanang anak betino tapi anak kau dak pulak kek lanang.”
Percakapan itu sebelum khitanan Oman-anak Pak Budi berlangsung. Pak Budi adalah Ketua RT 06 di Desa Kasang Pudak. Ia memiliki 2 anak laki-laki, Rian dan Oman. Pak Budi sama seperti Ayah Yuli berasal dari Jawa Tengah dan menggemari kuda kepang. Maka dari itu khitanan Oman mengundang Pesatuan Eka Jaya milik Ayah Yuli untuk mengisi acara hiburan pada malam hari. Adanya kudep pada setiap perayaan sunatan, nikahan, syukuran, ulang tahun, acara 17 Agustus, acara festival, dan acara lainnya menjadi acara hiburan masyarakat Desa Kasang Pudak.
Malam ini, sepeti biasanya Yuli akan tampil bersama Ayahnya pada penampilan utama untuk melakukan beberapa atraksi. Sebelum itu Ayah Yuli biasanya mengadakan ritual pada tempat pementasan agar hujan tak turun, katanya. Saat alunan musik dimulai, penampilan pertama adalah penari Buto Lawas, ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari lima orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan. Tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.
Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, akan hadir Ayah Yuli sebagai warok, yaitu yang memiliki kemampuan supranatural, berpenampilan baju serba hitam bergaris merah dengan kumis tebal. Warok akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.
Penampilan selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari Senterewe dan saat tarian Senterewe ini biasanya Yuli dan Ayahnya beratraksi. Yuli mulai menari dengan gerakan enerjik dan semakin cepat hingga tidak terkendali, pada saat itulah ayahnya akan memberikan pecahan beling yang perlahan dimakan Yuli tanpa menggores mulutnya sedikit pun. Setelah itu, Yuli akan dipecut tetapi tidak merasakan kesakitan namun malah semakin bersemangat. Pada penampilan terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda kepang.
Setelah penampilan usai, warga dihebohkan karena sepeda motor warga desa sebelah yaitu Desa Lopak Alay hilang. Kejadian ini sudah terulang kesekian kalinya, membuat warga semakin resah. Anehnya kemalingan sepeda motor ini terjadi selalu setelah pertunjukan kudep selesai.
Keesokan harinya, warga lebih dikejutkan lagi karena mendapatkan surat edaran baik itu berupa file yang dikirim menggunakan gawai ataupun membaca pada papan pengumuman di dekat kantor kepala desa. Surat tersebut berisi bahwa ditetapkan peraturan desa yang melarang adanya hiburan malam dikarenakan kegiatan tersebut dapat merugikan berbagai pihak. Hal tersebut membuat warga kebingungan, apalagi yang akan menyelenggarakan hajatan dalam waktu dekat, mereka telah memesan jaranan Ayah Yuli untuk mengisi hiburan pada malam hari. Walaupun Jaranan bisa ditampilkan pada siang atau sore hari, namun itu membuat sedikit masyarakat yang datang karena mereka lebih menyukai pertunjukan Kudep di malam hari dengan suasana yang mendukung. Pengumuman ini sudah diketahui Yuli, ia merasa ayahnya akan sangat dirugikan karena peraturan ini dan membuat kebudayaan menjadi tergeser. Ia mengajak teman dekatnya, Amat untuk melakukan protes ke kepala desa.
“Bapak tidak bisa menerapkan peraturan ini tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dengan perwakilan warga yang berperan di desa kita.”
“Itu benar. Biasanya jika desa kita akan membuat suatu peraturan perwakilan RT RW dan sebagainya diundang untuk rapat. Kenapa sekarang bapak mengambil keputusan sepihak?”
“Ini semua karena adanya orang-orang yang tidak bertanggung jawab saat hiburan malam berlangsung. Apalagi jika Kuda Kepang mentas di malam hari. Kurangnya keamanan selama pementasan dilakukan, karena banyak kejadian yang meresahkan seperti kehilangan motor dan mabuk-mabukan sehingga banyak kekacauan yang terjadi. Selain itu banyak warga yang ikut kesurupan tidak jelas yang membuat pementasan rusuh, karena semua itulah hiburan malam saya larang. Termasuk pertunjukan Kudep di malam hari.”
“Kesenian Kuda Kepang sudah mulai ditinggalkan, dimata orang-orang sekarang Kuda Kepang ini akan semakin kurang bagus karena adanya larangan pada peraturan desa kita ini. Padahal. Kuda Kepang ini hanya melestarikan seni daerah dan sebagai hiburan juga. Iya kan, Yul?”
“Iya, Pak. Pementasan kuda kepang sekarang sudah mulai jarang dibeberapa daerah Kota Jambi. Jika peraturan ini berlangsung, maka Desa Kasang Pudak termasuk ke dalam daerah tersebut. Sekitaran tahun 2014 pementasan Kuda Kepang masih sering diselenggarakan hampir setiap minggu diberbagai acara hajatan di rumah warga maupun perayaan tertentu. Namun, dengan adanya peraturan ini akan mengakibatkan jarangnya acara hajatan yang mengundang Kuda Kepang sebagai salah satu hiburannya. Kuda kepangkan lebih sering diselenggarakan pada malam hari, bapak tahu itu. Alasan kuda kepang sering diselenggarakan pada malam hari karena biasanya dari pagi hingga sore hiburannya adalah organ tunggal.”
“Jadi tujuan kalian berdua kemari untuk protes karena kesenian kalian akan jaramg dilakukan atau karena kalian takut menganggur?”
“Pekerjaan bisa dicari di mana saja, tetapi kesenian Kudep ini tidak bisa kita temukan di mana saja. Lagi pula, peminat Kuda Kepang sendiri di Desa Kasang Pudak sebenarnya lumayan banyak walau sudah berkurang seiring perkembangan zaman. Tetapi, di desa kita sudah terhitung banyak dibandingkan desa lainnya, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.”
“Warga desa bisa menonton pertunjukan di gawai mereka masing-masing.”
“Jika seperti itu, kebudayaan perlahan-lahan ditinggalkan, Pak. Dengan teknologi yang ada membuat masyarakat berfikir praktis, dari pada menjangkau jarak yang jauh untuk menonton Kuda Kepang lebih baik menggunakan handphone dan membuka youtube sudah bisa menonton Kuda Kepang yang dapat diakses lebih mudah.”
“Nah, itu kamu tau. Itu lebih baik, Yuli. Lebih aman untuk warga desa. Tidak ada lagi nanti yang melaporkan kehilangan sepeda motornya dan meminta ganti rugi kepada saya. Itukan bukan hajatan saya kok saya yang bertanggung jawab.”
“Kalau begitu, saya mohon beri kami sekali saja kesempatan untuk melaksanakan pertunjukan jaranan besok malam. Kami akan membuktikan bahwa warga mendukung adanya hiburan Kudep di waktu kapan pun dan kami akan pastikan keadaan aman.”
“Seharusnya, Pak Kadeslah yang bertindak mengamankan desa, Yul, bukan kita. Bukan begitu, Pak?”
“Saya tidak mau mengeluarkan biaya desa hanya untuk menyewa keamanan dalam setiap hajatan warga. Berapa dana yang akan dikeluarkan desa ini kalau begitu? Baiklah, saya kan mengizinkan hanya satu kali ini saja.”
Mendengar persetujuan Pak Kades membuat Yuli sangat bersemangat. Ia dan Amat langsung mengabarkan Ayah Yuli dan anggota jaranan Eka Jaya lainnya agar berlatih sebelum pertunjukan besok malam. Setelah itu, mereka membuat pengumuman agar warga datang menyaksikan pertunjukan Kudep.
Persiapan sudah matang. Warga sudah berbondong-bondong datang memadati lapangan sepak bola di RT 24. Keamanan sudah dijaga oleh kenalan Yuli, yaitu para supir angkot yang sangar ditakuti sebagian warga karena kehebatan mereka dalam berkelahi. Pertunjukan sudah dimulai sepeti biasanya dimulai dengan tari Buto Lawas, kemudian tari Senterewe. Saat tari Senterewe, Yuli tidak tampil dalam pertunjukan karena ia sedang menyamar menjadi warga biasa agar bisa mengawasi keamanan. Siapa tau bisa menangkap pelaku pencurian, pikirnya.
Tidak disangka, pemikiran Yuli sangat tepat. Maling itu kembali beraksi. Kali ini aksinya tidak akan mulus karena Yuli dan teman-teman supir angkotnya mengawasi gerak gerik dan siap menangkapnya. Maling itu sedang memilih sepeda motor mana yang akan ia pilih untuk dibawa pulang. Saat ia mulai menggerakkan salah satu sepeda motor untuk didorong, Yuli sudah berada tepat di ban belakang sepeda motor itu sehingga gerakannya terhenti. Maling itu terkejut, lalu bergegas lari. Namun, kali ini ia tidak berhasil lagi, gerakannya sudah dibaca oleh salah satu supir angkot, yaitu Anton. Maling itu segera mereka ikat. Tertangkapnya maling tersebut berbarengan dengan selesainya pertunjukan Kudep. Maling langsung mereka gotong ke tengah lapangan.
“Kami sudah menangkap malingnya, Pak Kades.”
“Buka penutup mukanya, Yuli.”
Saat penutup muka dibuka, terlihat pelaku tersebut. Lelaki yang tampan, rambut cepak, kulit putih, hidung mancung, mirip dengan Pak Kades, karena maling itu adalah anak kandung Pak Kades, Lamane. Pak kades sangat terkejut dan terpukul. Ia adalah sosok yang penting dan disegani di desa namun anaknya sendiri malah menjadi maling di usia baru 17 tahun. Lamane mengakui perbuatannya tersebut karena ia sangat menginginkan sepeda motor tetapi Pak Kades tidak mau membelikannya. Maka dari itu, Lamane nekat maling agar bisa membeli motor impiannya dengan menjual motor-motor hasil curian. Setelah kejadian malam itu, Pak Kades tidak menghapus peraturannya tentang dilarang mengadakan hiburan malam. Kudep Eka Jaya milik Ayah Yuni masih tetap diundang dalam berbagai acara di siang hari untuk memberikan hiburan. Namun, nama Kuda Kepang sekarang sudah mulai tercemar sejak adanya peraturan desa dan sering terjadi rusuh saat pertunjukan, sehingga peminat Kuda Kepang untuk sekarang sudah mulai menurun.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.