Peluk Hangat

Oleh: Gesang Tri Wahyudi

Manusia adalah manusia, jika ia tahu cara memanusiakan manusia. Manusia terkadang lupa bagaimana menjadi manusia, seperti manusia yang tak lagi memiliki kemanusiaan.

            Kakinya masih melangkah di bawah terik sembari mengotak-atik gawai yang ia bawa. Kakinya memiliki cakupan langkah sekitar tiga inci, cukup besar untuk ukuran kaki mungil berukuran 39. Jarinya terus mengusap gawaicanggihnya dengan lihai seakan tanpa keliru. Di tengah perempatan jalan, ia bertemu anak kecil dengan sandal putus serta kaki sedikit berdarah.

            “Loh loh, kenapa, Dik?” tanya manusia itu sambil memasukan gawaike kantongnya.

            “Jatuh, Om. Tersangkut benang layang-layang,” jawab anak kecil itu lugu.

            “Sini Om bantu.”

            Mereka melanjutkan perjalanan ke masjid yang jaraknya hanya tersisa 100 meter lagi ke arah barat.

            Wudu diambil oleh manusia itu dengan penuh penghayatan, seakan ia tahu bahwa dirinya penuh ada noda. Sebelum mengambil wudu, manusia itu punya kebiasan unik. Ia harus ke toilet untuk sekedar buang air kecil walau setetes. Usai wudu, ia memasuki masjid dengan penuh kesegaran, duduk di tengah barisan sembari mendengarkan khotbah.

            Di tengah khotbah, gawaicanggih manusia ini berdering keras, semakin keras saat ia panik bagaimana cara mematikan suara yang membuat seisi masjid itu jadi melirik ke arahnya. Gawaiberhasil dimatikan, suara berisik tak lagi terdengar. Khatib mendengar suara itu, kemudian menyindir secara halus, lembut, seakan ini bagian dari khotbahnya hari ini.

            “Ibadah itu haruslah fokus, jangan bawa-bawa masalah dunia saat sedang ibadah. Jangan sampai menganggu yang khusyuk beribadah.”

            Semua mata melirik ke arah manusia itu, seakan ingin menyeret dirinya keluar dari barisan itu. Di depan melirik ke arahnya, di belakang menatapnya dengan tajam, kiri dan kanannya bernapas dengan panas, manusia itu hanya menunduk sampai khotbah selesai. Ia salat. Hari itu adalah Jum’at, penghulu dari segala hari bagi kepercayaannya.

            Salat usai. Doa telah di aminkan. Manusia itu keluar masjid.

            Manusia itu mencari di mana sandalnya, terlempar entah ke sana dan kemari. Ia bingung. Anak kecil datang kepadanya, sambil menarik lengan baju kanannya.

            “Om! Sandal Om itu.” Tunjuknya dengan tangan memegang kopiah

            “Terimakasih, Dik,” jawabnya sambil tersenyum bangga.

            Manusa itu berjalan meninggalkan area masjid. Namun aneh. Orang-orang masih menatapnya tajam, seakan ia napi yang baru bebas. Semua orang menatapnya, berbisik pada temannya sembari menatap manusia itu. Ada yang berberbisik pelan, sampai hanya lumba-lumba yang mampu mendengar. Ada yang berbisik lantang, seakan opininya pasti benar.

            “Mau salat malah sambil main HP, ganggu orang yang khusyuk saja.”

            “Itu yang tadi dibilang khatib, yang main HP waktu khotbah.”

            Manusia itu hanya mendengar, lalu berjalan sambil menunduk. Gawaiitu masih di kantongnya. Ia berjalan cepat, lebih cepat dari semua mata yang menatapnya. Ia mulai kesal, ia mulai memikirkan untuk kembali ke tempat itu. Manusia itu butuh hiburan.

            Bar dekat ruko elektronik itu cukup terkenal. Katanya di sana bisa menenangkan raga sejenak. Manusia itu pergi ke sana, memesan segelas bir dengan alkohol ringan.

            Manusia itu mengantuk. Ia melamun. Tangannya tak terarah, menyambar gelas di depannya. Tumpah. Basah. Gelas itu terjatuh ke lantai, pecah. Ia kembali panik. Semua mata disekelilingnya tertuju pada dirinya. Ia kembali kesal.

            “Apakah harus di dua tempat aku jadi aneh?” gumamnya sambil mengelap bir di atas meja dengan jaket dari salah satu online shop langganannya.

            Semua mata masih meilirik, namun kali ini berbeda. Mereka tersenyum, lalu tertawa. Pelayan datang dengan tangan memegang lap berwarna merah. Ia mengelap meja manusia itu, lalu memeluk manusia itu dengan hangat.

            “Sudah. Tak apa, ini biasa.”

            “Maksudmu?” tanya manusia itu bingung.

            “Tenang saja, ini biasa. Manusia mana yang tak pernah berbuat salah?”

            Seisi bar itu tertawa, mereka masih menatap. Pelukan itu dilepas. Minuman manusia itu digantikan yang baru, tanpa perlu membayar yang ditumpahkannya.

            Manusia itu tenang. Esoknya ia kembali lagi ke bar itu, namun tidak ke tempat ia ditelepon oleh istrinya kemarin.

Cerpen ini terinspirasi dari twitter dengan nama pengguna @akuluka pada 9 November 2018.

Maret 31, 2020

Tinggalkan Balasan