Pesan Abak

Oleh: Yoga Mestika Putra

HUJAN sore itu belum begitu reda, masih menyisakan gerimis. Hasril baru saja menyerahkan semua persyaratan berkas administrasi untuk upacara wisudanya yang akan digelar dua bulan lagi. Sepuluh meter setelah keluar dari ruangan Biro Akademik dan Kemahasiswaan itu, raut mukanya berubah. Di tangannya ada sebuah surat undangan wisuda berlogo Makara kuning. Ia tatap lagi undangan yang sebelumnya ia terima dengan senyuman itu. Ia menghela napas panjang. Sesuatu yang mengharukan muncul kembali di pikirannya.

Ia sedang bahagia dan sedih pada saat bersamaan. Bahagia karena dua bulan lagi perjuangannya di kampus ternama itu akan segera selesai dan ia akan membawa pulang gelar sarjana sains secara resmi. Ia menjadi mahasiswa yang paling awal wisuda di angkatannya karena lulus lebih cepat, hanya 3,5 tahun saja. Namun, pada saat yang sama ia juga merasa sedih. Tangan kirinya memegang sebuah ponsel usang. Ia buka dan baca lagi obrolan di SMS terakhir kali dari abaknya, satu bulan yang lalu, ketika ia baru saja selesai sidang skripsi dan mengabarkan pada abaknya mengenai kelulusannya itu.

“Selamat ya, Nak, Semoga Hasril menjadi anak yang sukses.”

“Iya, Bak. Terima kasih doanya,” balas Hasril.

“Abak sangat bangga padamu. Abak ingin sekali datang ke wisudamu, tapi bagaimana ya, Nak? Belum ada biaya untuk ke Jakarta.”

Hasril tidak menjawab pesan itu. Ia hanya menahan sesak di dadanya dengan mata berkaca-kaca sembari membaca pesan Abak—panggilannya kepada ayahnya itu.  

Lalu, pesan di bawahnya, “Mudah-mudahan Hasril sehat selalu.”

Pikirannya melayang ke masa kelulusannya dari SMA di kampungnya, Pariaman. Waktu itu ia lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur undangan di universitas favorit di Jakarta. Hal tersebut tidak mengherankan karena Hasril adalah siswa yang pandai. Bahkan ia selalu jadi langganan juara dan meraih penghargaan dalam berbagai perlombaan yang diikutinya. Tidak hanya itu, sejak SMA ia juga aktif di OSIS. Pendek kata, Hasril adalah siswa yang membanggakan.

Sewaktu menerima surat keterangan lulus, Pak Amri, kepala sekolah menanyainya. “Jadi, kapan kamu mendaftar ulang ke kampus UI, Hasril?”

“Belum tahu, Pak.” Hasril menautkan jemari tangan kanan dan kirinya di atas pahanya. Keningnya turut berkerut. Tatapannya lurus ke arah Pak Amri, tetapi tatapan itu tampak kosong. Pikirannya turut melayang ke berbagai arah.

“Maksudmu?”

………….

Selengkapnya dapat dibaca di: https://yogamestikaputra.wordpress.com/2023/06/10/pesan-abak/

Juni 7, 2023

Tinggalkan Balasan