AYAM BERKOKOK
oleh: Yessa Yuliana
Dua hari yang lalu, setelah bertandingan ayam hias Aku bergegas ke tempat air terjun untuk memandikan ayam jantan ku. Kakekku sering berkata kalau air terjun itu membawa berkah kepada siapa saja yang mandi di sana, tentu saja ini menjadi kunci keberhasilan. Supri nama ayam ku, selalu memenangkan setiap kejuaraan ayam hias dengan kejantanan yang dikeluarkannya sehingga banyak orang-orang iri dengan pemiliknya yaitu diriku. Sebenarnya tidak ada keistimewaan lain dari diri Supri selain dia berkelamin jantan, selebihnya tidak ada. Setiap orang selalu menanyakan, makanan khusus Supri, kandang Supri, bahkan cara Supri tidur saja ditanya. Supri sangat terkenal dikampung, banyak yang ingin membelinya dan tentu saja aku tidak ingin menjual Supri dengan harga setinggi apapun. Tapi, tidak dengan Ibu ku yang mata duitan dia terus mendesakku untuk menjual Supri kepada siapa saja yang menawarkan harga tinggi dan persoalan itu selalu di bahas oleh Ibu ku.
“Kita sudah kehabisan uang, kau mau makan tanah!” bentak Ibu sambil menunjukkan wadah beras yang sudah kosong. Kenapa ibu menanyakan perkara beras kepada ku, aku saja masih berusia 10 tahun butuh bimbingan hidup apa begini Ibu memberikan misi hidup dengan membentak anak 10 tahun untuk mencari uang.
“Aku tidak tau, Supri butuh beras untuk dimakan”
Kali ini dengan tatapan tajam Ibu melihatku yang masih duduk dikursi makan.
“Ouh, ternyata kau mau jadi keluarga binatang!” perlahan Ibu menjewer kupingku, sampai aku menjerit kesakitan. Sepertinya Ibuku sudah tidak waras dengan binatang saja muncul tabiat iri dengki, itu yang dinamakan Ibu baik aku lahir dari Ibu yang salah rupanya. Dalam satu dorongan aku menjauh dari Ibu menuju kandang Supri, setelah itu kabur terbirit seperti dikejar orang gila aku menuju hutan tempat aman dari segala gangguan manusia kejam.
“Kita aman Supri, apa kau lapar? Akupun lapar” sambil mengelus kepala Supri aku menahan lapar, sepertinya aku dan Supri akan kembali bermalam lagi di hutan gelap ini untung saja aku membawa senter kecil jadi tidak terlalu gelap. Hutan tersebut, sudah dibuat kubuk sederhana yang terbuat dari dahan kecil dan dedaunan kering dan tentu saja kubuk ini adalah tempat yang akan menjadi perlindungan dari malam hari di hutan belantara ini.
***
Malam tiba, Supri memiliki bulu yang hangat dan dari situlah aku mendapat kehangatan. Aku sangat menyayangi Supri, melebihi Ibu ku sendiri sebab aku selalu mengira bahwa Ibu bukan Ibu asli, mungkin aku anak tiri atau bisa saja Ibu memunggutku di samping jalan untuk dijadikan pengamen kerdil sebagai aset keuntungan sementara. Di kampung yang dipenuhi kasus yang sama, itu tidak menutup pikiranku jika benar bahwa Ibu bisa saja menemukanku seperti tiket undian. Pemikiran yang realistis sebab terjalin komunikasi tinggi di dalam kampung yang punya ilmu gini-gini, aku mendapat pembekalan dari temanku Bahri ia anak dari Ibu yang lebih membutuhkan uang.
“Ri, coba tebak apa aku anak uang” tanyaku ke Supri yang ternyata sudah nyenyak tertidur, bodoh bertanya kepada binatang sepertinya memang benar bahwa aku keluarga binatang. Ibu berbicara benar, seharusnya aku dilahirkan menjadi bintang supaya tidak mengalami hal kejam seperti ini. Mata ku paksa untuk tidur, supaya besok matahari muncul menandakan takdir baru aku selalu berdoa agar kembali pada Ibu asli bukan Ibu kejam yang selalu meminta uang.
Cahaya kuning masuk dicelah-celah dedaunan yang kubuat sebagai atap, tentu itu takdir yang membangunkanku dengan cara yang baru. Mataku yang masih berat perlahan terbuka, seperti ada yang kurang, Supri aku kehilangan dia dimana ayamku. Aku bergegas keluar gubuk mencari keberadaan Supri, tidak ada ia menghilang atau diambil seseorang. Panik, itu yang terjadi sekarang Supri ayam terlatih ia tidak akan pergi jauh dari pemiliknya, ia butuh pemiliknya, Supri pasti diculik seseorang. Tanpa pikir panjang, aku berlari kearah rumah untuk mencari keberadaan Supri. Sesampai disana, pintu terkunci di rumah tidak ada orang jangan-jangan Ibu palsu itu mengambil Supri dan menjual kepenawar tinggi.
“Awas saja kalau wanita itu sudah pulang dan tidak ada Supri” Amarah dengan segala situasi, sebab tidak ada Supri dan sekarang aku hanya tinggal menunggu kedatangan wanita yang menggaku sebagai Ibu itu datang ke rumah ini. Aku duduk di depan pintu, terdengar seorang wanita sambil tertawa bahagis, itu si penipu.
“Di mana Supri! Di mana ayam ku! Di mana dia?”
Dengan ekspresi bigung Ibu melihat tingkah anaknya yang habis kabur dari rumah
“Mana aku tau, begini tingkahmu setelah lari dari rumah!” Ibu membentak dengan keras, sebab tingkah Tohir anaknya sungguh kurang ajar ia sudah menduganya setelah punya ayam setan Tohir berubah seperti anak setan selalu membantah Ibunya, selalu berbicara kasar, bahkan yang lebih tidak warasnya ia lebih mementingkan ayamnya kenyang dibandingkan dirinya atau Ibunya sendiri. Dan, kemarin ia melarikan diri lagi dengan membawa ayam setan itu ke dalam hutan pasti ayam itu menghasut untuk menuduhku yang bukan-bukan otak ayam.
“Aku tanya sekali lagi di mana ayam ku! Di mana dia!” aku hanya ingin Supri kembali, ia keluargaku, ia paham bagaimana kondisiku, dan ia selalu mengiburku dengan kokokkannya yang merdu. Berhadapan dengan Ibu palsu itu hal yang mudah, aku tau ia sudah menjualnya dengan membawa belanjaan yang penuh dalam genggam kedua tangan ia tidak bisa menipuku lagi, dia bukan Ibuku.
Acuh tak acuh, Ibu pergi ke dapur meninggalkan celoteh gila anaknya Tohir. Jika terus disandingi, si Tohir itu makin membangkang biarkan saja ia pusing mencari ayamnya menuduhku tidak akan mendapat jawaban. Melihat perilaku Ibunya, Tohir mengambil sebatang bilah panjang dan bersiap memukul Ibunya dari belakang. Punggung menjadi sasaran Tohir, ia berpikir jika punggung tidak akan sampai mati hanya hilang kesadaran saja. Tohir memukul keras punggung Ibunya dan tentu saja Ibunya jatuh seketika dari kesadaran. Tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok, Tohir berlari kearah suara ia mengenali suara khas tersebut yang tidak lain adalah ayamnya sendiri yaitu Supri tanpa pikir panjang ia berlari, kembali ke dalam hutan untuk berdiam diri dari segala ancaman.
Keesokan harinya, Supri kembali hilang dan tentu saja Tohir bergegas mencari ayamnya tersebut. Sampai di depan rumah, Tohir melihat ayamnya yang tengah berkokok dan terlihat bendera kuning kecil sekaligus kerumuman orang di depan rumahnya.
Yessa Yuliana
Perantau dari Kuala Tungkal, mengambil pendidikan S1 di Universitas Jambi. Akun Instagram @yessa.ju
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.