Baju BJ

Oleh: Siti Fitriah


Pagi itu langit sangat indah. Matahari bersinar begitu terang, ditambah semilir angin yang menggoyangkan dedaunan pepohonan karet, membuat suasana pedesaan itu semakin hangat dan penuh keceriaan. Suara bebek dan ayam peliharaan Ibu juga tidak mau kalah. Suara mereka begitu riuh, meminta jatah sarapannya yang masih direbus. Dan pagi itu adalah pengumuman kelulusanku sebagai siswi kelas 6 SD. Aku tak sabar berangkat ke sekolah.

Sebagai ketua kelas, aku harus datang lebih awal karena aku yang bertanggung jawab membawa kunci ruangan kelas kami. Suasana di sekolahku tentu masih sepi pagi itu. Hanya ada beberapa siswa yang telah tiba di sekolah. Kubuka pintu ruang kelasku yang berada di ujung lorong. Terpampang pemandangan yang tak menyenangkan. Letak kursi tak beraturan, sampah berserakan, dan papan tulis masih penuh dengan coretan kapur.

Tiba-tiba terdengar suara kaki-kaki berlarian secara bergerombol. Aha, teman-temanku sudah mulai berdatangan.

Seorang siswi yang baru saja masuk mendekatiku.

“Eh, kenapa di bukumu ditulis N-Y-L-A bukan N-A[1]I-L-A?” ucapnya sembari mengeja nama di sampul bukuku.

Namanya Kak Memei. Seharusnya ia sudah lulus SD dua tahun yang lalu. Namun, takdir berkata lain. Sudah dua kali ia gagal lulus dan tertinggal di kelas 6 SD. Ada yang bilang ia terlalu rajin. Pernyataan itu pasti hanya bualan belaka.

“Apa, Kak?”

Aku menoleh ke arahnya sembari tersenyum. Aku perhatikan penampilannya sekilas. Seragam putihnya terlihat kusam dan ada bintik-bintik kehitaman di lipatan ujung lengannya. Hal itu seolah menunjukkan tidak ada yang peduli dengan penampilannya. Kerudung putihnya yang seharusnya berkibar terkena angin, seolah hanya tersipu malu mengikuti belaian angin yang melewatinya. Masih tersisa resapan keringat yang menggelayuti kerudungnya.

“Aku juga enggak tahu, Kak. Tulisannya sudah seperti itu sejak di akta lahir,” jawabku sambil menyibukkan diri dengan menggambar bunga di buku tulisku. Kemudian ia pergi ke bangkunya sambil merapikan tempat duduknya.

Aktivitas pagi itu sangat riuh seperti pagi-pagi lainnya. Ada yang berjalan gontai ketika masuk kelas dan langsung menempelkan kepalanya di atas meja kayu yang penuh coretan. Ada yang berbinar-binar dan senyum-senyum sendiri melihat pujaan hatinya melewati kelas kami, mungkin terlihat keren di matanya. Ada yang suka menggosip, sesekali diselingi dengan tawa cekikikan yang menggema di ruang kelas ukuran 4 m x 4 m itu. Ya, ruangan kelas itu sangat cukup menampung 8 orang siswa-siswi kelas 6 ditambah seorang anak pindahan, dan seorang anak yang tinggal kelas. Jadi, total ada 10 siswa di ruangan yang menurutku agak sempit itu, tetapi tidak ada seorang pun yang pernah mengeluh.

Tiba-tiba temanku yang bernama Zahra datang dan langsung duduk tepat di sampingku.

“Kak Memei, Nai!” sapanya dengan penuh semangat sambil meletakkan tas Helo Kitty-nya di atas meja. Matanya berbinar-binar seolah ada kejutan yang hendak ia lontarkan.

“Kira-kira, kita lulus semua enggak, ya?” ucapnya dengan penuh harapan dan semangat.

“Kasihan, kan, kalau ada yang enggak lulus. Apalagi Kak Memei, tuh. Dia sudah dua kali enggak lulus,” celotehnya sembari membenarkan letak kerudungnya di depan kaca kecil berbingkai Hello Kitty yang selalu ia bawa.

“Yaaa…, semoga Kak Memei lulus. Kasihan juga kalau dia harus mengulang lagi di kelas yang sama selama tiga tahun,” ucapku kemudian.

Setelah puluhan menit berlalu, Bu Guru pun muncul di depan kelas kami. Dengan serta merta para siswa berlarian memasuki kelas ketika ada yang berteriak, “ Bu Zulfa datang…!” Teriakan itu sungguh luar biasa, seolah hampir merontokkan dinding bata kelas kami, yang terlihat kusam dan tua, yang diselingi coretan bertuliskan “Ridho cinta Ayu” yang mungkin ditulis dengan pena hitam seharga seribuan.

“Assalamu’alaikum, Anak-Anak…!” seru Bu Zulfa yang berdiri di depan papan tulis menghadap ke arah siswa-siswi kelas 6 SD itu.

“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh,” jawab kami serentak.

Bu Zulfa kemudian mengumumkan nama siswa-siswi yang lulus UAN (Ujian Akhir Nasional), hingga pada akhirnya seluruh nama telah disebutkan tak terkecuali nama Kak Memei. Semua dinyatakan lulus.

“Alhamdulillah….,” ucap Kak Memei. Matanya berkaca[1]kaca. Ia kemudian berlari mendatangi Bu Zulfa dan mencium tangan beliau.

“Saya lulus, Bu?” tanyanya seperti tidak percaya akan keajaiban yang telah ia alami. “Iya, Memei,” ucap Bu Zulfa sambil mengusap kerudung kusamnya. Kemudian, Bu Zulfa mengakhiri kelas dengan membagikan buku rapor.

Setelah Bu Zulfa meninggalkan kelas, seolah suara lebah kembali menggaung. Hiruk-pikuk siswa-siswi kelas 6 SD itu memenuhi seantero ruangan. Suasana kelas kembali tidak kondusif.

Kumasukkan buku rapor yang diberikan oleh Bu Zulfa ke dalam tas Pokemon warna biru, pemberian kakakku yang kini berada di sebuah pondok pesantren di Demak. Sudah 5 tahun tas sekolah itu membersamaiku. Warnanya sudah pudar dan terlihat bercak-bercak tinta pena akibat sering hilang tutupnya. Aku jadi teringat tas sekolahku yang pertama. Waktu itu sedang tren tas kaca, biasa orang menyebutnya begitu. Sebenarnya bahannya bukan dari kaca, melainkan berbahan plastik transparan tebal dan tembus pandang, sehingga kau akan tahu isi di dalam tas tersebut. Ibu membelikanku tas kaca dan menjubeli jajanan kacang Garuda di dalamnya agar aku mau berangkat sekolah… dan itu berhasil.

“Nai…!” teriak Kak Memei sembari memukul pundakku.

“Aku senang sekali, Nai. Akhirnya aku bisa lulus juga,” ucapnya dengan begitu antusias.

“Wah… selamat, ya, Kak. Akhirnya kita lulus semuanya.” Kutimpali ucapannya dengan segenap sukacita.

Matanya berbinar penuh cahaya. Tak kusangka, setelah dua tahun ia tinggal kelas, tetapi tidak pernah menyurutkan tekadnya untuk tetap bertahan sampai selesai. Kalau aku berada di posisinya pasti aku sudah malu dan tak mau sekolah lagi. Atau jika memungkinkan, aku akan meminta orang tuaku untuk pindah sekolah. Namun, ia berbeda dengan diriku maupun dengan anak-anak lainnya. Mentalnya sungguh kuat. Padahal ia hanya seorang anak kelas 6 SD. Kata orang, ia berjuang dengan gigih untuk sekolahnya itu. Selesai pulang sekolah ia membantu ayahnya ngasak (mencari rontokan buah sawit hasil panen di kebun orang). Setelah itu, ia melanjutkan pekerjaan dengan mencari rumput untuk makanan kambing peliharaannya.

Hari itu terasa begitu membahagiakan karena aku dan semua temanku akhirnya bisa lulus. Kulangkahkan kakiku dengan sukacita. Kami pulang dengan berjalan kaki. Aku dan Zahra berjalan bersama karena rumah kami satu arah. Kami bercerita tentang banyak hal.

Baru kali itu aku memperhatikan Zahra secara seksama karena mungkin kami akan berpisah setelah kelulusan itu. Baju seragamnya yang selalu terlihat rapi dan wangi. Sepatu sekolahnya yang hitam mengilap. Dan tas punggung bergambar Hello Kitty yang sedang tren saat itu. Orang tuanya begitu baik memperhatikannya. Sepintas ada rasa iri yang menjalari tubuhku. Kulirik seragam sekolahku yang kudapat dari lungsuran kakakku. Seragam berwarna putih yang sudah terlihat kekuningan. Rok hitam yang terlihat mengilap akibat seringnya digosok dengan setrika arang dan kerudung selobokan putih yang sedikit berjerabut.

“Aaah….” Kuhela napas cukup panjang. Kemudian, aku teringat betapa Bapak dan Ibu telah bekerja begitu keras untuk menghidupiku dan kedua kakakku. Bapak yang sudah berangkat pagi mengayuh sepeda bututnya untuk menjajakan jasa “tukang gigi” ke rumah-rumah. Tidak jarang juga jasa Bapak hanya dihargai dengan sebungkus gula dan kopi. Bahkan kadang hanya berupa janji-janji manis yang diutarakan berulang kali. Kalau sudah begitu, Bapak hanya pulang dengan tangan hampa dan nelangsa yang bergelayut di dadanya.

Ibu juga turut membantu perekonomian keluarga kami. Kata Bapak, Ibu dulu sempat berjualan sayur di pasar dan merasa malu jika dikunjungi oleh Bapak. Namun, sejak aku lahir, Ibu tidak lagi berjualan di pasar. Ibu membuat kerupuk ubi dan menitipkannya ke warung-warung. Dimulai sejak pagi buta, sambil menyiapkan sarapan untuk kami, Ibu merebus ubi, lalu menumbuknya di palung kayu sampai lembut. Aku pernah sesekali mencoba memegang kayu penumbuknya. Begitu berat. Tangan kecilku tak mampu mengangkatnya.

Waktu berlalu, aku tersadar dari pikiranku saat Zahra menepuk bahuku untuk berpamitan. Ia telah sampai di depan rumahnya. Ia kemudian melambaikan tangan dan aku balas dengan lambaian tangan juga. Rumahku dan rumah Zahra hanya terpaut lima rumah saja dan kami biasa bermain bersama setelah pulang sekolah.

Akhirnya, aku pun tiba di depan rumahku, sebuah rumah berdinding papan bercat putih, dengan jendela berbingkai merah marun, dan lantai yang masih beralaskan tanah, yang selalu kubayangkan setiap ada tamu pasti melepas sandalnya karena mengira berlantai mester. Rumahku memang tidaklah besar, tetapi cukup membuatku nyaman.

“Assalamualaikum,” sapaku kepada penghuni rumahku. Namun, tak ada sahutan.

Sayup-sayup kudengar suara beras yang sedang diayak di tampah. Aku ke belakang dan mendapati Ibu sedang memilah pasir dan kutu dalam beras sambil duduk di bangku berwarna merah yang telah pudar dan hampir rapuh karena dimakan totor. Kuciumi tangan kasarnya, tangan yang menjadi bukti kerja kerasnya untuk membantu perekonomian keluarga kami. Ibu hanya tersenyum dan memintaku untuk mengganti pakaian seragamku.

Kakak perempuanku belum pulang sekolah. Bapak pasti juga sedang menjajakan jasanya. Lalu, aku ke kamarku dan mengganti seragam sekolahku. Kubuka lemariku yang dipenuhi tempelan gambar Barbie yang berjejer rapi di depan cerminnya, hadiah jajanan kuaci yang berharga seratusan. Kupilih baju kurung berwarna hitam. Ada renda di sekelilingnya dan motif bunga kecil putih. Yang aku tahu, baju itu khusus didatangkan langsung dari luar negeri. Orang kampungku biasa menyebutnya baju BJ. Meski hanya baju bekas, aku tetap merasa cantik saat dibalut olehnya. Kupandangi diriku di depan cermin. Seorang gadis kecil berwajah oval, bermata sipit, dan berpostur pendek dengan rambut bercepol seperti buntut bebek di bagian belakangnya.

Baju BJ itu mengingatkan diriku betapa indahnya untuk tidak bertekuk lutut kepada putus asa. Seperti Kak Memei yang tidak pernah menyerah untuk sekolahnya. Seperti Bapak dan Ibu yang tidak menyerah untuk bergelut membantu mencari nafkah. Seperti baju BJ itu, yang meskipun telah dibuang oleh pemiliknya, nyatanya dia masih bisa berguna untuk menghangatkan tubuh orang lain. Dan aku berjanji tidak akan kalah dengan keadaan hidupku saat itu. Siapa tahu 10 atau 15 tahun di masa mendatang aku bisa mengukirkan senyuman di wajah Bapak dan Ibu karena bangga akan keberhasilanku. Sumpahku itu selalu kuulang-ulang setiap aku berada di depan cermin lemariku. []


Siti Fitriah, lahir di Sarolangun, 25 Maret 1993. Alumni S2 Universitas Gajdah Mada konsentrasi Ilmu Linguistik. Penulis merupakan dosen tetap di Universitas Jambi. Ketertarikan penulis terhadap karya sastra telah dipupuk sejak mengenyam pendidikan Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Darul Istiqomah, Pakuniran, Bondowoso. Menurutnya, menulis adalah suatu warisan yang tidak lekang oleh masa dan kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh banyak manusia.

Februari 27, 2024

Tinggalkan Balasan