Mahasura

Oleh: Aprilia Kartika Putri

“Lewat pintu yang itu, Mahasura.”
Aku terdiam.
Sudah lama aku tidak dipanggil dengan nama itu. Mahasura. Guru-guruku selalu memuji nama itu. Katanya bagus. Teman-temanku juga menyanjung nama itu. Mereka bilang nama itu sangat “anak senja.” Teman baikku, Romi, suka meledek nama itu: Susur, Sure, Surai, Video Syur. Ah, toh, dia tidak ada di situ. Aku sendiri.

***

“Syur.”
Wah, padahal masih pagi. Pura-pura tidak mendengar sambil main HP sepertinya bukan ide buruk. Untung aku pakai headset, walaupun sedang tidak mendengar apa pun.
“Syur.”
Namun, kupingku akhirnya gatal juga.

“Kan, situ yang kemarin cerita kalau headset yang ini enggak bisa dipakai untuk dengerin apa-apa.”
Baiklah. “PR Matematika, kan? Ambil aja di tasku,” kataku sambil menunjuk ransel biru kesayangan yang aku letakkan di atas meja.

Romi, sang pengganggu ketenangan itu pun mengambil buku PR-ku sambil menyengir.

“Gitu, dong,” katanya sambil memukul pelan pundakku.

Romi kemudian duduk di bangku sebelahku dan mulai menyalin PR. Aku lanjut menjelajahi Instagram. “Sur, kamu tahu tidak? Ada murid baru, lho.”

“Cantik, enggak?”

Romi langsung berhenti menyalin PR. Dia kemudian memandangku. Tatapannya sinis. Gantian, aku yang menyengir.

“Cantik. Tahu saja kalau perempuan. Cuma dia bisu. Pakai kursi roda lagi.”
“Paket lengkap. Ngapain sekolah di sini? Kok, enggak di SLB?”

Romi menunjuk kata “inklusi” yang ada di emblem pakaian seragamku. “Coba googling ini artinya apa.”

***

“Sayang banget, ya, cantik-cantik bisu. Kadang Tuhan itu Maha Adil.”
“Hush, mulut! Dia cuma bisu, dodol. Bukan tuli.”
“Bukannya bisu sama tuli itu berhubungan?”

“Heh, bagaimana kalau percakapan problematik ini aku
bikin thread Twitter…?”

Namanya Tina. Nama yang biasa saja untuk kondisinya yang “istimewa”. Anaknya juga cantik dan cerdas. Bu Sulastri adalah guru pendampingnya. Beliau pernah memberikan pelatihan bahasa isyarat untuk siswa-siswa yang berminat belajar bahasa isyarat. Salah satu pesertanya adalah aku. Bu Sulastri juga pernah menanyakan apa mungkin Tina bisa diikutsertakan dalam kegiatan klub pecinta alam sekolah. Kebetulan aku adalah ketuanya.
“Wah, Bu.”
“Tentu saja akan ada Ibu, terapisnya, dan salah satu anggota keluarga yang mendampingi. Cuma saat kalian di tempat yang datar saja atau kalau mendaki bukit yang medannya tidak begitu sulit. Kalian tidak selalu mendaki gunung, kan?”
“Tidak, sih, Bu. Kadang kami juga melihat air terjun.”
Bu Sulastri tertawa, kemudian dengan nada sedikit serius berkata, “Cobalah ananda diskusikan terlebih dahulu dengan teman-temannya. Ibu hanya ingin Tina merasa dilibatkan, tidak sendiri. Bisa bersosialisasi dengan teman-teman yang lain.”

***

Siswi Difabel Tewas Dibully Teman-Teman Klub Pecinta Alam Perundungan atau bullying kembali terjadi di dunia pendidikan Indonesia. T, seorang siswi di sebuah sekolah menengah atas swasta di Jakarta menjadi korban perlakuan keji teman-temannya. Aksi perundungan itu diduga diprakarsai oleh Ketua Klub Pecinta Alam, M. Siswi penderita bisu-tuli yang menggunakan kursi roda itu meregang nyawa usai mengikuti kegiatan klub yang diadakan di kawasan Bukit….

***

Ibu sering berkata bahwa salah satu momen yang paling membanggakan dalam hidupnya adalah saat ia memberiku nama. Beliau mengambil nama Mahasura dari sebuah kamus lama Indonesia–Sansekerta, artinya “pemberani”. Kamus itu diberikan oleh mantan kekasihnya saat mereka masih duduk
di bangku kuliah. Ibu dulunya merupakan mahasiswi jurusan Ekonomi. Kekasihnya mahasiswa Sastra Jawa. Kata Ibu mantan kekasihnya itu tinggi, tampan, pintar, dan berwawasan luas. Mantan kekasihnya juga yang menjadi salah satu penyebab pernikahannya dengan Ayah tidak bertahan lama.

Ayah membenci nama Mahasura. Beliau selalu memanggilku Nak ataupun Abang, walaupun aku hanyalah anak tunggal mereka. Bagi Ayah, aku bukanlah anak tunggal, tetapi anak pertama.

Setelah berpisah dengan Ibu, Ayah menikah dengan Tante Dewi. Ayah memiliki tiga anak dari pernikahannya dengan perempuan itu: dua anak perempuan kembar dan satu anak laki-laki. Ayah selalu bilang, sebagai anak pertama tugasku adalah mengayomi dan mendisiplinkan mereka jika mereka melanggar aturan Ayah.

Ibu tidak pernah suka jika aku berkunjung ke rumah “keluarga ayah.” Setiap aku kembali dari rumah Ayah, Ibu selalu bertanya, apakah masakan Tante Dewi enak? Apakah si kembar masih suka tantrum? Apakah Faruq masih suka mengurung diri di kamar? Ibu akan senang jika aku menjawab dengan satu “Tidak” dan dua “Iya”. Kemudian, Ibu akan menyuarakan pendapatnya mengenai Tante Dewi. Bahwa Tante Dewi hanya mencintai Ayah karena uangnya. Bahwa Tante Dewi itu sebenarnya masih cinta dengan mantan suaminya. Meski begitu, tak pernah sekali pun aku menyuruh Ibu bercermin.

“Mahasura itu artinya pemberani.”

“Tidak boleh takut, ya, Bu?”

“Betul. Pemberani itu artinya tidak takut. Tidak takut kepada orang lain. Tidak takut terhadap diri sendiri. Mengakui kesalahan kalau memang berbuat salah. Meminta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.”

***

Aku ingat betul apa yang terjadi pada hari nahas itu. Setiap detail aktivitas yang aku lakukan dari bangun tidur hingga malam harinya bersiap tidur. Aku ingat “bersiap tidur” karena malam sehabis kejadian itu aku tidak bisa tidur sama sekali.

Aku membayar kesalahanku. Aku menyesali perbuatanku. Aku masih tidak tahu apakah aku menyesal

karena aku menyadari kesalahanku atau karena Tina berakhir seperti itu. Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah tradisi sederhana yang biasa kami lakukan kepada anggota baru dan selama hal itu berlaku, tidak pernah ada masalah. Aku ingin mengatakan aku hanya berniat membuat Tina merasa ia diterima di Klub Pecinta Alam seperti anjuran Bu Sulastri. Aku ingin mengatakan kami hanya bergurau selayaknya remaja
seusia kami. Aku hanya bergurau selayaknya remaja seusiaku. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa pada akhirnya Tina tidak pernah ikut tertawa bersama kami.

@user1: 10 TAHUN UNTUK MENGHILANGKAN NYAWA ORANG. HUKUM NEGERI INI EMANG
NGADI-NGADI.
@user2: enggak kebayang perasaan orang tuanya, Ya Allah.
Serem amat anak jaman sekarang.
@user3: Suhu di sana dingin banget loh, apalagi untuk
temannya yang difabel itu. Ya iyalah akhirnya koma. Untung
keluarganya sigap tetap lapor polisi. Mbok ya kalo memang
tradisinya begitu, ditoleransi sedikit. Isi kepala tik tok semua
enggak dipakai buat mikir, itu akibatnya.
@user4: Adek cantik udah enggak sakit lagi. InshaAllah mati
syahid.
@user5: Fix, dari ketua klub sampai kepala sekolah masuk
NERAKA JAHANNAM jalur xpress.
@user6: Gw bukannya ngebela si ketua klub ini ya, jelas dia
salah. Tapi gimana ceritanya, pihak keluarga mengizinkan

anak gadisnya yang maaf, bisu tuli, terus pakai kursi roda lagi,
pergi ke acara TIDAK RESMI klub pecinta alam seminggu
SEBELUM acara resmi yang akan ada guru pendampingnya
dan terapisnya. Periksa semuanya!!!
@user7: Ini gunanya bayi baru lahir dikasih ASI ya, bund,
bukan air comberan.

“Mahasura?”
Aku tersadar dari lamunanku. Petugas ramah yang ternyata dari tadi memanggilku itu pun tersenyum.
“Lewat pintu yang itu, Mahasura,” ulangnya.
Aku pun berjalan menuju pintu besar tua yang ia tunjuk. Dari kejauhan aku dapat merasakan semuanya. Di balik pintu itu ada polusi Ibu Kota yang sudah sepuluh tahun tidak kuhirup. Juga hiruk-pikuk suara kendaraan bermotor. Para pedagang kaki lima nangkring di halaman depan lapas. Namun, di tengah pintu itu ada sebuah pemandangan yang sangat aku kenal. Dua orang yang selalu aku tolak kunjungannya. Karena aku takut. Karena aku malu. Bukan salah mereka aku menjadi seorang pembunuh. Bukan salah perceraian mereka. Bukan salah mantan kekasih Ibu. Bukan salah kecemburuan Ibu terhadap kehidupan baru Ayah. Bukan salah keluarga baru Ayah, ataupun anak-anak Ayah yang lain. Hal itu murni kesalahanku sendiri.

Ada perasaan ringan saat kakiku terus melangkah ke arah mereka. Semakin aku mendekat, semakin aku melihat perubahan pada diri mereka. Rambut mereka telah memutih. Kulit mereka juga sudah keriput.

Namun, masih ada hal-hal yang tidak berubah. Ayah dan Ibu masih berdiri sambil menjaga jarak, sama seperti saat terakhir kali aku melihat mereka, sepuluh tahun yang lalu. Ayah masih berdiri tegap. Ibu masih menggunakan sepatu merah favoritnya. Kedua wajah lelah itu masih tersenyum memandangku dengan senyuman yang manis sekali. []


Tentang Penulis

Aprilia Kartika Putri, biasa dipanggil April ataupun Putri, adalah seorang pecinta bahasa dan karya sastra
yang lahir di Bukittinggi, 5 April 1991. Saat ini, April bekerja di Universitas Jambi sebagai dosen pada
Program Studi Sastra Indonesia.

Sebelum bermukim di Jambi, ia menghabiskan hari-harinya dengan membaca cerpen, novel, dan karya sastra lainnya di rumah orang tuanya di Kota Padang, Sumatera Barat. Beberapa penulis favoritnya antara lain Pramoedya Ananta Toer, J.S. Khairen, Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, dan Madelline Miller.

Kecintaannya pada dunia sastra membuatnya memilih berkuliah di Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Negeri Padang. Ia pun kemudian melanjutkan pendidikannya di Magister Ilmu Linguistik,
Universitas Andalas. April dapat dihubungi di akun Instagram @ aprilia.kp ataupun surel apriliakp@unja.ac.id

Februari 27, 2024

Tinggalkan Balasan