KUNANG-KUNANG
Karya: Egi Cahya Prameswari
Aku tinggal di sebuah desa kecil yang terletak di tepi hutan. Bertahun-tahun selalu mencari ranting pohon untuk di jadikan api unggun sebagai penerangan saat malam hari. Sore ini pun begitu, aku dan adikku Jani pergi ke tengah-tengah hutan, menyapu dedaun kering yang bergelimpangan di tanah dengan kaki. Jika jumlah ranting yang telah jatuh dari pohonnya sedikit, maka kami langsung mengambil dari pohonnya.
“Ingat Jani, ambil cabang pohon yang sekiranya sudah mati,” ucapku mengingatkan Jani untuk tidak sembarangan mengambil ranting pohon. Sebab jika salah, maka ranting itu tidak akan bisa terbakar.
Jani menuruti perintahku, kami pulang saat lembayung senja sudah muncul di balik daun akasia. Cantik, meski ia selalu malu dan bersembunyi di balik daun-daun yang ingin melindungi keindahannya. Sebelum sampai ke rumah, langkah kami terhenti. Sebab secara tiba-tiba cahaya hijau terbang melingkari tubuh, dia lebih indah dari warna jingganya api. Oleh tertarik, aku dan Jani mengikuti cahaya itu. Kami berlari kencang mengejarnya, menjatuhkan setengah ranting yang telah kami peroleh. Jani melompat berusaha untuk menangkap cahaya itu, sayang—lututnya menghantam batu saat terjatuh. Aku memeluk Jani, menenangkan dirinya agar tak berisik di tengah hutan yang telah menjadi gelap gulita. Anehnya, cahaya itu datang ketika kami tak mengejarnya.
“Siapa dirimu? Mengapa kau begitu indah? Namun sulit sekali menggapaimu,” ucapku dengan keluhan dan nafas yang terengah-engah.
Tiba-tiba cahaya hijau itu menghilang dan muncul dalam jarak tiga meter di depan. Aku dan Jani terheran-heran, tetapi Jani masih penasaran, ia memintaku untuk kembali mengejar cahaya itu. Matanya yang sembab dan bibirnya gemetar seolah memberikan isyarat bahwa dia akan mati jika tidak tahu apa yang ada di balik cahaya hijau itu.
“Kejar dia kak!” desak Jani sambil mendorong punggungku.
Aku mendengus, sebelum pergi aku nyalakan api unggun dengan ranting sisa carian kami. Demi penerangan Jani selama aku menangkap cahaya itu. Jani semakin merengek, dia takut kalau cahaya itu menghilang lagi. Aku menoyor kepalanya seketika rengekan itu berhenti dan aku kembali berlari. Semakin ku dekati, maka semakin jauh pula ia terbang.
“Jika kau tak ingin dimiliki, maka katakan lah!” bentakku, lelah sekali mengejarnya, bahkan sampai nafasku tersendat-sendat ia tidak perduli. Aku mengagumi keindahan cahaya itu, tetapi keindahannya sangat menyiksaku.
Aku teringat kejadian sebelumnya lalu melipat kedua kaki dan memejamkan mata. Nafasku mulai teratur dan aku perlahan membuka mata—benar saja. Dia datang lagi saat aku tak mengejarnya.
“Mengapa kau datang di saat aku tak mengejarmu lagi?” mataku berkaca-kaca, tak sanggup menahan kesedihan kemudian mengalirlah air bening di antara sudut mata. Ah, apa penyebabnya? Apa mungkin karena aku sangat tertarik dengan cahaya itu? Tetapi aku telah mengorbankan semuanya. Ranting pohon, Jani dan waktu!
“Cahayamu membuat aku jatuh cinta! Jika kau tak menginginkan kehadiranku matilah dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku!” murka ku saat menyadari bahwa aku telah kehilangan segalanya demi ingin memiliki keindahan dari cahaya itu.
Dia mendekat, hinggap di telingaku. Sayup-sayup ku dengar kepak sayap. Oh! Rupanya dia makhluk hidup. Mungkin, sejenis lebah penghasil madu. Aku tersenyum saat menitihkan air mata terakhir, ingin sekali menyentuhnya tetapi aku paham dia akan pergi jika aku berusaha memilikinya. Maka aku definisikan perasaan ini ‘rasa bahagia tanpa harus memiliki’.
“Pergilah, aku tahu kau makhluk yang sudah memiliki keluarga. Mereka pasti sudah menunggumu, terutama untuk cerita malam ini,” tuturku berpasrah dengan keadaan ini.
Benar saja, seolah dia mengerti bahasaku. Makhluk itu pergi, setidaknya rasa penasaranku sudah terjawab meski menyisakan bekas gigitan di telinga kananku, aku berjalan ke belakang mencari Jani di tempat semula yang aku tinggalkan. Aku tak pernah merasa kehilangan seberat ini, pertemuan singkat dengan rasa bahagia yang membombardir hati berakhir perpisahan. Membaca kepedihan atas kenyataan, melihat semuanya hilang termasuk Jani adikku tersayang.
Oh malangnya, sekarang aku tinggal seorang diri tanpa penerangan. Pandanganku hitam dan tak tahu arah pulang, surai rambut panjangku akhirnya menutup wajah. Merentangkan tubuh di atas tanah, hangat. Itu artinya Jani baru saja pergi dari tempat ini, aroma gosong menyalip udara lalu memasuki lubang hidung. Sembari menunggu matahari terbit, entah kapan. Esok, lusa atau bahkan pagi tidak akan pernah muncul lagi. Keindahan sudah selayaknya untuk di pandang, tidak untuk dimiliki. Maka aku menyadari bahwa akhirnya aku menyesatkan diri oleh pilihanku yang ku anggap terbaik. Namun apabila diberi kesempatan, aku akan mencari ribuan alasan untuk tak melewati takdir malam ini. Mungkin jika terjadi lagi, aku harap lewat mimpi.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.