TAK-TIK SESUDAH MAGRIB
Oleh: Yessa Yuliana
Satu minggu yang lalu terjadi peristiwa penculikan yang tidak diketahui siapa dalangnya. Berbagai pendapat di lontarkan, ada yang beranggapan itu arwah Mbah Nonok yang sedang mengintai jiwa-jiwa muda, pendapat lain mengatakan itu hanyalah ilusi belaka. Tentu ini situasi yang genting. Semenjak kepergian Mbah Nonok desa menjadi kacau, banyak peristiwa-peristiwa aneh yang sering terjadi di depan mata. Ketika aku meletakkan sepiring nasi di atas meja dan meninggalkannya sejenak untuk mengambil air putih. Setelah aku kembali yang terlihat hanyalah piring kosong. Sepintas aku berpikir ini perbuatan kucing, tetapi kucing mana di desa ini yang suka nasi tanpa lauk. Setelah kejadian itu, aku selalu menutup berbagai makanan dengan tudungen alat yang biasanya digunakan untuk menjaga suhu makanan dan terhindar dari serangga.
Hari ini upacara itu akan tiba, sebagai permohonan kepada yang maha kuasa agar keselamatan seluruh warga desa tetap terjaga. Sebenarnya perayaan itu bukan suatu hal yang menyenangkan, sebab ketika upacara itu dilakukan setiap rumah akan menaruh garam kasar di depan pintu. Hal ini dipercaya untuk perlindungan dari segala kesialan. Maka pada saat itu pula Ibu tidak pernah memperbolehkan diriku melangkahkan kaki keluar dari rumah. Tetapi aku memiliki janji dengan teman-teman ku, bahwa kami akan berkumpul di pondok desa untuk bermain permainan yang belum sempat kami selesaikan kemarin waktu. Peristiwa penculikan itu membuat para orang tua terlalu berlebihan dan membuat kami tetap terkurung di dalam rumah. Itu membuatku frustasi seakan aku tidak memiliki ruang bermain. Mempercayai mitos rendahan, jika seseorang keluar dari rumah maka penghalang rumah akan hilang bersamaan datangnya kesialan untuk penghuni rumah tersebut. Aku tidak percaya dan saat tengah hari tiba, aku akan menyelinap keluar dari kamar dan bergegas berlari menuju pondok desa.
“Upacara itu akan dimulai tengah hari nanti, sehabis salat zuhur. Jadi, berpikir untuk keluar tidak akan pernah diizinkan,” ucap Ibu sambil menutup semua ventilasi udara yang ada di dalam rumah.
“Mitos zaman dulu tidak sama dengan sekarang. Ibu terlalu banyak mendapat ilmu yang tidak benar. Lalu dengan menutup ventilasi rumah, apa Ibu mau membuat Fahri kepanasan terus hidrasi dan kehabisan udara?.”
Mendengar celotehku yang panjang, Ibu mendekat dan mencubit bibirku dengan tangannya. Tatapan Ibu yang dipenuhi amarah, sembari meletakkan tangannya dipinggang. Aku sudah mengetahui gaya itu. Suatu ciri khas ibu-ibu yang tengah siap melancarkan omelannya dan ketegasan tubuh yang menandakan situasi perkataan yang tidak sesuai dengan pikirannya. Aku pun sudah berancang-ancang untuk segera masuk ke dalam kamar.
“Maksud kamu pikiran Ibu kolot, bodoh? Begitu kamu, ya!. Kalo dinasehati orang tua itu didengerkan bukan dilawan. Upacara itu sudah turun-temurun di percaya. Jika masih ngotot mau keluar rumah, itu bisa mendatangkan kesialan. Kalo ibu bilang jangan keluar ya jangan! Eh…Mau kemana kamu? Ibu belum selesai bicara, Fahri…!.”
Aku tidak sanggup mendengar ocehan Ibu, apalagi perihal zaman itulah, zaman inilah. Tentu saja Aku tidak mempercayai kumpulan mitos klasik itu, buat pikiran makin pendek saja. Setelah kejadian yang tidak pasti benar atau salahnya itu, kami sebagai anak-anak merasa tidak bisa bermain dengan puas, tidak bisa bercanda ria. Bahkan kami tidak bisa bermain di lumpur ataupun menangkap ikan di sungai bersama-sama. Sungguh keterpurukan yang tidak menyenangkan, tapi rencana hari ini akan aku lakukan dengan diam-diam menyelinap keluar dari jendela kamar. Aku akan menemui para seperjuanganku.
***
Setelah berjam-jam aku menunggu terdengar suara ramai lewat di depan rumahku. Tentu itu warga desa yang sedang berjalan menggelilingi desa, aku pun sudah siap membawa makanan yang akan kami makan bersama nantinya. Perlahan aku membuka jendela dan keluar dari kamar. Untung saja jendela kamarku jaraknya tidak terlalu jauh untuk melompat ke tanah.
“Saatnya berjumpa teman-teman. Pasti mereka sudah pada sampai di sana, Aku harus berlari cepat menuju pondok desa,” ujarku sambil berlari kencang dengan membawa tas yang penuh dengan makanan.
“Fahri…Fahri…Fahri, sini!”
Seorang anak muda yang tidak lain temanku Haris, memanggil namaku dengan kencang. Aku segera berlari ke arahnya untuk segera menutup mulutnya yang ceroboh itu. memang si Haris ini, bodoh atau apa, dia selalu tidak bisa di ajak bekerja sama.
“Bodoh, nanti kedengeran kau mau kita di tangkap? Setelah itu diomeli habis-habisan sama Ibu kita?,” ucapku pelan sambil menutup mulut Haris.
Seakan takut dengan apa yang Aku ucapkan. Kami berdua bergegas menuju pondok desa. Sesampai di sana kami melihat teman-teman lainnya sudah banyak berkumpul. Mereka sudah mempersiapkan peralatan bermain. Kami memilih pondok desa ini, sebab pondok ini adalah markas kami sebelum peristiwa penculikan itu terjadi. Pondok ini jauh dari pemukiman dan sangat luas. Apalagi berdekatan dengan sungai. Dan, dengan kesepakatan bersama tempat ini menjadi kumpulan kami untuk mengisi waktu luang.
“Kalian yakin tidak ada yang mengetahui rencana ini?” tanyaku kepada teman-temanku.
“Tentu saja, aku sangat mengingat strategi yang kau buat untuk menyelinap diam-diam dari rumah,” jawab Haris dengan ekspresi senang.
Tanpa pikir panjang lagi, kami memuaskan dengan bermain congklak terlebih dahulu. Sungguh hari ini adalah kegembiraan yang luar biasa. Tidak ada orang tua yang suka mengomel, tidak ada kesunyian dan tidak ada mitos-mitos tidak berguna.
***
Tiba-tiba terdengar suara azan magrib. Sontak aku terkejut, sebab kami bersama sudah berjanji akan pulang sebelum mendekati magrib. Situasi ini membuat kami panik dan tergesa-gesa untuk pulang. Pasti orang tua sudah menyadari anaknya tidak ada di rumah. Kami memikirkan rencana tentang penculikan tersebut dan menyatakan bahwa kami sudah di culik oleh orang yang misterius. Perlahan kami berjalan keluar dari wilayah pondokan kami. Supaya saat kami berteriak dapat terdengar oleh warga desa. Tetapi entah kenapa jalan yang biasa kami telusuri seakan lama dan jauh. Kami kembali berteriak sekuat-kuatnya, tapi tidak ada pertanda sebuah permukiman atapun warga yang lewat. Terlihat di depan mata tugu desa kami. Melihat tugu itu kami berlari menuju permukiman desa. Sesampainya di sana terlihat gubuk-gubuk tua yang hampir roboh dan anehnya sikap para warga seperti tidak wajar. Mereka menatap kami seperti sebuah santapan. Aku berpikir inilah kesialan yang dikatakan oleh ibu dan sebuah akhir dari permainan kami.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.