Teater Kuju Pentaskan “Sepatu Gila”, Satire Pedas dalam Balutan Komedi

Jambi – Sabtu, 31 Mei 2025, Teater Kuju Universitas Jambi kembali menyapa penonton lewat pementasan Teater Sastra Indonesia angkatan 2023 dengan bertajuk “Sepatu Gila,” yang dipentaskan sebanyak dua kali, pukul 15.30 WIB dan 19.30 WIB, bertempat di Gedung Arena Taman Budaya Jambi.

Acara pementasan hari itu dihadiri oleh beberapa tamu undangan yang berkenan hadir untuk ikut serta memeriahkan acara pada malam itu. Diantaranya ada saudara Rilect Amigos selaku ketua Teater Kuju, bapak Dwi Rahariyoso S.S., M. A selaku dosen pengampu, dan bapak Egi Argawan S.E selaku kepala Taman Budaya Jambi. Selain itu acara pementasan “Sepatu Gila” ini juga dihadiri oleh siswa-siswa dari MAN 2 Kota Jambi yang turut meramaikan arena teater Taman Budaya Jambi.

Dalam sambutannya, ketua Teater Kuju tersebut menyampaikan bahwa Teater Kuju merupakan sebuah wadah bagi mahasiswa Sastra Indonesia Univeristas Jambi untuk menyalurkan bakat-bakat mereka dibidang seni teater baik dalam segi penulisan naskah teater maupun naskah monolog. Teater Kuju setiap tahunnya akan menampilkan pementasan baru dengan naskah baru dan tentunya wajah-wajah baru.

Pementasan “Sepatu Gila” ini bukan sekadar cerita tentang alas kaki. Tetapi tentang sebuah sistem yang terus dipertahankan meski jelas-jelas sudah rusak dan menyesakkan. Sepatu ini adalah simbol yang mewakili keterikatan pada sesuatu yang tidak lagi layak dipertahankan. Anehnya, sepatu itu tak bisa dilepas. Sudah dicoba dengan berbagai cara seperti menggunakan sunlight dan minyak goreng. Semuanya sia-sia yang terlihat malah menjadi lucu. Tawa penonton berhasil menggema dalam arena gedung teater dan juga barangkali tawa itu akan tersendat, karena di balik absurditas itu, ada kenyataan yang kita kenali.

“Sepatu Gila” ini membawa penonton untuk bertemu tokoh-tokoh yang mungkin pernah di jumpai dalam kehidupan sehari-hari: Pemuda yang gelisah, Orang Gila yang lebih waras dari yang disebut waras, Mahasiswi dengan keresahan akademis dan jiwa yang mengebu-gebunya, Mak Gabe yang terus cerewet, Juleha yang gemar mengomentari hidup orang lain, dan tentu saja Tukang Sol Sepatu, yang tahu betul kapan tambal-tambalan sepatu diperlukan. Lewat tokoh-tokohnya, “Sepatu Gila” menyoroti bagaimana sistem yang rusak seringkali tidak dibongkar, hanya ditambal. Reformasi yang hanya mempercantik permukaan tanpa menyentuh akar kerusakan. Dan kita, sadar atau tidak, terus melangkah dengan sepatu itu. Kita tahu tak nyaman. Tapi kita tetap memakainya.

Pementasan ini menjadi ruang refleksi yang dibalut dengan satir, humor, dan sedikit kegilaan. Karena barangkali, untuk bisa melihat betapa gilanya dunia, kita memang harus ikut gila sebentar.

Tinggalkan Balasan