Ketapang di Pinggir Jalan

Oleh : Baiq Annisa Yulfana Nalurita

Dialah ketapang
yang setia berdiri di tepi jalan,
akar-akarnya memeluk bumi
tanpa pernah meminta pelukan kembali.
Ia tumbuh dari sunyi,
dari kemandirian yang tak dirayakan,
namun batangnya tegak seperti janji
yang tak pernah diucapkan.

Rindangnya adalah rumah sementara
bagi pejalan yang lelah,
bagi burung-burung yang singgah sebentar
lalu lupa mengucap terima kasih.
Ia menantang matahari
dan menjadikannya teduh bagi yang lain.
Menjadi payung,
Begitulah bahasa kasihnya yang tak bersuara.

Ketika hujan turun deras,
daun-daunnya gugur satu per satu
seperti rahasia yang tersimpan lalu hilang.
Angin mengguncang tubuh tuanya,
memaksanya berpegangan lebih dalam
pada tanah yang tak pernah benar-benar memeluknya.

Ia ingin rebah sejenak,
ingin mengaku lelah
namun siapa yang bertanya pada pohon yang kokoh tentang perasaannya?
Waktu perlahan mengikis usia
Daunnya menguning di ujung ranting,
dan layu menjadi takdir yang pelan-pelan datang.

Kokohnya tercatat sebagai sejarah,
tetapi letihnya tak pernah menjadi cerita.
Ia tetap berdiri.
Bukan karena tak pernah rapuh,
melainkan tak ada yang mengizinkannya runtuh. 

Maret 31, 2026

Tag: ,

Tinggalkan Balasan