Harta Terakhir Bapak

Oleh: Alpi Anwar Pulungan
Bagi orang kampung seperti saya, untuk menjadi kaya hanya ada dua jalan. Pertama melalui pendidikan dan yang kedua melalui pernikahan. Malangnya, tak ada satu pun jalan yang bisa saya pilih.
Saya tidak bisa memilih jalan pendidikan karena terkendala biaya. Saya juga tak bisa memilih jalan pernikahan karena banyak hal. Selain karena tak ada keluarga kaya yang sukarela menikahkan putrinya dengan saya, wajah saya juga tak begitu tampan. Meskipun ibu selalu bilang kalau saya adalah lelaki paling tampan yang pernah ia lihat. Saya tahu ia berbohong tapi saya senang. Dua tahun ini saya juga hanya ongkang-ongkang kaki di kampung. Sudah pasti tak ada yang mau.
Tiga bulan lalu –beberapa minggu setelah lebaran idul fitri- saya hampir saja menikah. Menikah menurut sepemahaman saya: tidak lagi tidur sendirian di kasur, tidak lagi merusak banyak sabun, dan tak ada ketakutan digerebek warga. Itu adalah cerita yang panjang dan selalu saja berhasil membuat saya mengepalkan tangan ketika mengenangnya. Saya akan menceritakan semuanya panjang lebar.
Saya gagal menikahi Hasna, perempuan yang sudah saya pacari sejak duduk di bangku kelas dua SMK. Saya sudah mengenalnya sejak bisa menaiki sepeda tanpa roda bantu. Saya telah gagal menikahi teman masa kecil sekaligus sahabat sendiri.
Saya selalu turut berbahagia ketika ada orang yang bisa menikahi temannya sendiri, seperti film yang pernah saya tonton. Menikahi teman sendiri adalah sebuah keistimewaan. Pasalnya, semua orang memiliki teman tapi tidak semua orang diberikan keberuntungan itu oleh Tuhan. Saya hampir menjadi salah satu orang yang beruntung tersebut.
Saya selalu membayangkan bisa menikahi sahabat sendiri. Alasannya sederhana: saya sudah tahu baik dan buruknya, sudah kenal keluarganya, dan tahu hal apa saja yang membuat pipinya memerah atau yang membuat wajahnya cemberut. Dan yang tidak kalah penting, saya tidak perlu malu-malu saat malam pertama.
Sialnya, yang tidak sempat saya pikirkan adalah cara menyikapi kegagalan menikahi teman sendiri yang sudah dipacari lama. Saya kehilangan dua orang sekaligus; teman dan pacar. Saya kehilangan segalanya.
Empat tahun kami berpacaran. Selama itu pula saya mengajaknya ke dangau di tengah sawah selepas sekolah dan sesekali ke rumah ketika Bapak bepergian lama. Di sana kami akan bercanda sepuasnya. Saya tidak akan menceritakan bagaimana serunya kami bercanda di atas ranjang yang dingin untuk memuaskan nafsu kalian. Itu tidak penting dan takutnya bisa merusak cerita ini. Lagi pula ia tidak pernah memberikan saya kesempatan untuk mencetak gol ke gawangnya. Paling jauh hanya sebatas tendangan pojok dan semua pemainnya berada di garis pertahanan.
Kami gagal menikah karena saya tidak sanggup membayar tuhornya yang dipatok 60 juta. Marga Nasution, keturunan harajaon dan sedang sekolah kebidanan di Padangsidempuan. Sebuah kombinasi yang mahal. Selain persolan pelik itu, kami juga terbentur oleh adat. Kami memiliki marga yang sama. Di tanah Batak Selatan, pernikahan satu marga adalah pantangan keras dan dosa adat. Kata orang, jika tetap dilakukan maka anaknya akan cacat dan membawa kutukan.
Sebenarnya semua itu tidak dapat dijadikan alasan. Saya tahu semua itu hanyalah tameng. Andai saja ia sungguh-sungguh mencintai saya, pasti ia akan menunggu berapa pun lamanya, mengajak saya kawin lari ke Batam atau berpura-pura hamil agar semuanya dipermudah keadaan. Begitu juga dengan pernikahan satu marga yang tidak dilarang oleh hukum agama dan negara. Nyatanya, tak ada satu pun yang ia lakukan selain menghilang tanpa kabar. Satu-satunya kabar yang saya terima adalah kabar pernikahannya yang saya dengar dari orang lain. Bukan dari bibirnya yang dulu sering saya curi kecup di balik pohon kelapa.
***
“Jangan lupa kau cuci pakaianmu. Bantu ibumu memasak dan membersihkan rumah ini,” teriak Bapak dari balik kemudi angkotnya. Saya hanya mengangguk dan memang hanya bisa mengangguk. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Saya begitu pengecut. Bahkan setelah semua hal yang Bapak perbuat.
“Ayo makan,” ajak Sandra lembut dari arah dapur. “Jangan dengarkan Bapakmu. Letakkan saja pakaian kotormu di ember dekat kulkas. Nanti biar ibu yang cuci.”
Saya tidak mengindahkannya. Seperti yang biasa saya lakukan. Saya mengambil pakaian kotor dari gantungan baju di balik pintu; lima celana jin, empat celana pontong, tiga kaus oblong, dan sisanya celana dalam, kemudian memasukkannya dalam ember hitam lalu membawanya ke Sungai Angkola. Saat hendak membuka pintu, kepala Sandra nongol di balik dinding. Mata kami sempat beradu pandang. Saya melotot. Ia berpaling. Matanya berkata sesuatu yang tidak saya pahami.
Sandra adalah perempuan yang Bapak nikahi dua tahun lalu, tepat setelah kuburan ibu dibikinkan keramik. Ia janda dari kampung Sihepeng, yang berjarak lima belas menit dari rumah. Kata Bapak, ia ditinggal cerai dan belum memiliki anak. Umurnya baru 32 tahun. Sebelum menikah dengan Bapak, Sandra adalah biduanita satu kabupaten yang terkenal dengan suaranya yang sopan masuk telinga dan goyangan yang selalu membuat celana jadi sempit
Saya tidak pernah mengerti apa yang dilihat Sandra dari Bapak. Mungkin bagi Sandra, menikah dengan lelaki pemarah seperti Bapak lebih baik daripada terus-menerus digoda lelaki mabuk di bawah panggung. Mungkin janji-janji manis yang biasa Bapak obral di terminal, atau mungkin Sandra hanya butuh seseorang untuk melunasi utang lamanya di Sihepeng. Saya tahu sebenarnya mereka saling memanfaatkan.
Mereka menikah tanpa pesta sebagaimana lazimnya pernikahan orang Angkola-Mandailing. Saya rasa tak ada keluarga atau warga yang sudi menghadiri dan merayakannya. Saya sendiri malas untuk datang. Lebih-lebih saya tidak diundang. Saya bahkan baru mengetahuinya ketika Bapak memperkenalkan Sandra.
“Ini Ibu barumu,” ujar Bapak enteng. “Kau salim dulu,” pintanya dengan tegas.
Tatapan Bapak tajam. Saya menurut, seperti biasanya. Perempuan itu cantik dan masih muda. Bapak punya selera bagus. Saya ingin marah tapi tidak tahu caranya. Saya melangkah menuju Sungai Angkola yang berada di ujung kampung. Melewati gundukan tanah tepian kolam ikan lele dengan pohon kelapa setinggi tiang bendera yang tumbuh di setiap sudutnya. Satu dua moncong lele muncul ke permukaan memamerkan kumisnya.
Setengah perjalanan saya dipanggil seseorang dari arah depan. “Bere! Bisa pangkas?” teriak Subur setelah menghentikan kegiatan mencuci sepeda motornya. Saya hanya membalasnya dengan acungan jempol. Saya mendatanginya, bercakap-cakap sebentar, lalu saya dibonceng menuju lapangan bola.
Saya melupakan cucian setelah mengetahui cukup banyak orang yang antre potong rambut. Kebanyakan anak-anak sekolah. Saya peregangan otot sejenak, kemudian mulai mengeluarkan satu per satu peralatan pangkas rambut dari plastik hitam yang isinya gunting biasa, gunting sasak, sisir, dan satu silet Goal. Saya mulai bekerja, memperbaiki tatanan rambut yang sudah tidak jelas dan membuang semua kesialan dari setiap kepala mereka.
“Coba kau bikin ganteng dulu Tulangmu ini,” seloroh seorang penjual air mineral. Saya mengangguk dan melanjutkan pekerjaan. Saya sempat bingung bagaimana pangkas ganteng itu, karena menurut saya ganteng tidak hanya masalah model rambut tapi juga masalah sikap.
Hasil dari potong rambut memang tak banyak tapi setidaknya cukup untuk makan tiga kali dengan menu ikan mas ditambah ubi tumbuk dan sambal terasi di rumah makan Ucok Simpang. Meskipun tak jarang saya hanya dibayar dua tiga batang rokok Surya.
Saya memangkas rambut mereka satu per satu di pinggir lapangan sembari menonton orang-orang bermain bola di sore hari yang cerah. Hanya pertandingan biasa, pertandingan antara kampung saya dengan kampung tetangga yang sudah pasti kemenangan selalu berada di pihak kami. Semua orang yang bertanding juga saya kenal dan kebanyakan adalah teman sekolah dulu. Saya sudah malas bermain bola. Bermain bola hanya menambah cucian kotor, membuat lelah dan tak jarang didera cedera.
Sore semakin jatuh, matahari melarikan diri, di langit terlihat burung-burung terbang membentuk huruf V, pertandingan semakin tidak berimbang, dan hanya tersisa satu orang yang belum dapat giliran.
Saya mendadak sedih, ingatan saya tersangkut pada kejadian dua hari lalu di rumah. Di bawah lampu ruang tamu yang temaram, saya memotong rambut Sandra. Ia duduk di kursi kayu yang sedikit reyot, sementara saya berdiri di belakangnya.
Ketika sisir saya menyibak helaian ikalnya, jemari saya tak sengaja menyentuh kulit tengkuknya yang putih bersih. Ada getaran ganjil yang merambat dari ujung jari saya, naik ke lengan, lalu menetap di dada sebagai rasa sesak yang asing. Sandra tidak menghindar; ia malah sedikit mendongak, membiarkan lehernya terbuka.
Bau parfum melati murahan bercampur aroma keringatnya menyerbu penciuman saya, mengacak-acak ingatan saya tentang ibu, tentang Hasna, dan tentang pengkhianatan Bapak. Di detik itu, saya merasa bukan sedang memangkas rambut seorang ibu tiri, melainkan sedang meraba garis batas antara harga diri dan dendam yang mulai kehilangan arah. Gunting di tangan saya gemetar. Di rumah yang hancur ini, saya baru menyadari bahwa Sandra adalah satu-satunya benda berharga yang masih bisa saya curi dari Bapak.
***
Saya menghentikan langkah. Mengukur jarak yang saya rasa cukup untuk melihat dengan jelas pernikahan Hasna hancur. Saya sudah mengabulkan permintaannya yang ia sampaikan lewat Minalti: Kutunggu kau di pesta pernikahanku! Persis seperti pilu lagu “Ro do Au Tu Pestami”.
Saya tidak tahu apa tujuannya mengundang saya. Ingin memamerkan kemenangannya? Menghukum saya karena tak punya enam puluh juta? Ataukah ini cara paling sadis untuk membunuh sisa cinta yang saya miliki? Saya mendadak jadi orang linglung.
“Selamat menikah, Hasna. Semoga bahagia selalu”. Terlalu munafik. Saya tentu tidak menginginkan ia bahagia.
“Selamat menikah, Hasna. Semoga kau hidup sengsara”. Saya tidak sejahat itu.
Saya hanya berdiri di bawah pohon kedondong yang malas berbuah, melihatnya dari kejauhan. Sepi dan sedih sendiri. Beginilah rasanya punya mantan pacar satu kampung yang menikah. Kalau pun datang hanya menambah sakit dan beban pikiran saja. Kalau tidak datang, setiap dentum musiknya terdengar mengejek dan memukul tepat di ulu hati.
Saya datang karena terus didesak Sandra untuk menghadiri pernikahan Hasna sebagai seorang lelaki sejati. Saya bahkan ikut marpege-pege dan menyumbang seratus ribu. Tapi ketika melihatnya memakai pakaian pengantin adat Mandailing membuat nyali saya seciut kismis. Saya akhirnya setuju kalau perempuan memang akan semakin cantik ketika sudah menjadi mantan, dan akan semakin memesona ketika sudah menjadi milik orang lain.
Pestanya segera usai. Lagu Rere Au Baya Na Rere terus dinyanyikan biduanita dengan nada yang sengaja dibuat sedih. Saya lihat ia menangis. Entah sudah berapa tisu habis menyeka air matanya yang bening itu. Sebentar lagi ia akan meninggalkan kampung ini beserta seluruh kenangan dan orang-orang yang ada di dalamnya. Saya ingin memeluknya atau kalau bisa menciumnya untuk yang terakhir kali.
Sebelum pergi, ada satu tradisi yang harus mereka lakukan: mangondat boru. Mereka sudah dicegat di ujung jalan, dengan satu meja dan tiga kursi yang tersusun rapi layaknya penyelidikan kejahatan oleh seorang detektif. Seorang lelaki seusia saya berdiri menanti mereka. Juga orang-orang yang mulai melingkar tidak sabar menyaksikan acara tersebut. Ini adalah acara paling ditunggu setiap pesta pernikahan.
Ia duduk di sebelah suaminya yang seorang polisi. Di depan mereka ada Zailani yang merupakan anak namborunya dan berperan sebagai pangondat. Orang-orang berdesakan mengelilingi mereka. Saya ikut mengintip dari belakang. Hasna terisak-isak menggendong ayam betina dengan paroppa coklat. Zailani menyalami Hasna dan suaminya. Ia menawarkan kelapa muda. Kelapa yang kami tanam sewaktu kecil dulu. Mereka mulai berkenalan, lalu Zailani memulai aktingnya.
“Jadi begini pareban. Aku adalah anak namborunya dan dia boru tulangku. Aku sudah menjaganya dari kecil sampai secantik sekarang ini. Seperti yang pareban lihat. Arian na borngin, manyogot tu potang, milas niari dohot udan nagogo leng totop dei ujago,” orang-orang sontak tertawa dan tepuk tangan.
“Aku sering mengajaknya makan bakso dan nasi goreng setiap malam minggu. Ketika ia mengadu kalau bedak dan gincunya habis, langsung kupacu motorku membelinya ke Kota Padangsidimpuan. Ketika malam tiba dan ia digigit nyamuk, segera kubeli obat nyamuk. Saat ia kepanasan di siang hari langsung kupinjamkan kipas angin dari rumah. Tidak pernah sekali pun kubiarkan ia kesusahan.” Orang-orang kembali tertawa dan tepuk tangan.
“Jadi maksud tujuanku memberhentikan dan menghalangi jalanmu pareban karena ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiranku. Setelah semua hal yang kulakukan dan kuberikan padanya selama ini, justru bukan aku yang menikahinya. Ibarat pepatah, kita yang menanam orang lain yang menuai. Kira-kira apa ganti rugi atau balas budi yang bisa diberikan oleh pareban?” tutur Zailani dengan bahasa Angkola yang diakhiri sorakan dari orang-orang yang hadir.
Suasana semakin sore semakin riuh. Para ibu rumah tangga yang tidak lagi mempedulikan urusan dapurnya terus memprovokasi. Saya hanya menyimak. Melihat Hasna dari balik pundak orang-orang yang tertawa. Lelaki yang menikah dengan adat Angkola-Mandailing seharusnya sudah paham situasi seperti ini. Biasanya mereka akan menyiapkan uang pecahan, dimulai dari seribu, dua ribu hingga seratus ribu, kemudian memasukkannya dalam amplop. Bodohnya, lelaki yang saat ini jadi pusat perhatian semua orang malah tidak mempersiapkannya, atau mungkin memang ia tidak tahu adat. Pria itu mulai tampak gelisah.
“Ayo Pak Polisi, segera keluarkan uang warna birudan merah”, teriak ibu di sebelahnya.
“Ternyata dia polisi kere, tidak punya uang”, ujar lelaki dari balik keramaian.
Ia meraba-raba saku celananya. Ia diam, sesaat kemudian menyalam tempel Zailani. Zailani menunjukkan lembar uang yang ia terima ke atas. Orang-orang tertawa.
“Kalau cuma lima puluh ribu, berarti kau sudah meremehkanku pareban. Jumlah ini jelas tak sebanding dengan apa yang sudah kuberikan padanya,” Zailani membetulkan posisi duduknya.
“Begini saja pareban, kau kukasih uang lima puluh ribu tapi istrimu kubawa pulang ke rumah,” jawab Zailani persis seperti yang kami rencanakan. Orang-orang kembali bersorak, sore semakin meriah. Seorang lelaki paruh baya -saya duga itu ayah dari polisi tersebut- menyelipkan uang ke saku celananya. Ia memberikannya lagi. Orang-orang kembali bersorak.
“Cuma seratus ribu?” Zailani menggoyang-goyangkan uang tersebut di udara. “
Setiap lebaran ia selalu kubelikan baju baru. Kalau seratus ribu paling hanya cukup beli kutang,” ujar Zailani yang disambut tawa dari semua orang yang hadir.
Seorang wanita kembali memberikan uang. Lelaki tersebut sudah mulai emosi. Ia mengeluarkan uang tiga ratus ribu untuk yang terakhir kali. Orang-orang semakin bersemangat. Zailani mengangkat lembaran uang bergambar Soerkarno-Hatta tersebut ke udara.
“Kurang! Teriak orang-orang. Aku pernah ditilang polisi dan harus bayar lima ratus ribu”, ujar seseorang tidak jelas dari mana asalnya. “Huuuuuu!!”, sorak orang-orang.
“Cukup. Itu yang terakhir,” ujar wanita tua dari belakang polisi tersebut. “Hari sudah petang dan sebentar lagi magrib. Perjalanan kami masih jauh,” ucapnya memelas.
Wanita tua itu mungkin tidak tahu kalau perempuan yang mereka bawa pulang adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya dan bunga desa kampung ini. Sudah tentu tidak semudah itu melepasnya.
“Alasan! Aku bisa duduk seharian di sini menunggunya. Solat di tempat ini juga aku bersedia,” jawab Zailani sinis.
“Sudah. Buka saja jalannya,” jawab beberapa ibu rumah tangga yang hadir.
“Jangan dulu. Hari masih cerah,” jawab yang lain.
“Pareban ini kan polisi. Masa cuma segini? Aku bahkan susah tidur dan makan jadi tak enak beberapa malam ini karena terus memikirkan pernikahannya. Lagi pula ini hanya sekali seumur hidup, kalau tidak bercerai,” Zailani tertawa tetapi tawanya membisukan suasana.
Pakkkkk!!! Pengantin pria memukul meja. Ia mendorong Zailani hingga terlempar ke belakang. Badannya terpantul pada orang-orang yang melingkarinya. Beberapa orang jatuh mencium aspal.
Semua orang terdiam, sejenak suasana hening, lalu terdengar sorakan dan gunjingan. Suasana semakin kalut dan tak terkendali. Saya mencuri kesempatan untuk memukul polisi itu. Semua membubarkan diri setelah tokoh adat dating melerai. Hasna hanya menangis menyaksikan kejadian yang terjadi di depan matanya itu. Orang-orang bersorak dan terus memaki.
Semua orang tahu kalau mangondat boru hanya omong kosong dan sekadar hiburan. Saya sedikit bahagia setelah memastikan kalau suaminya yang polisi itu memang seorang temperamental. Sudah pasti ia tak akan segan memukul atau menampar Hasna. Begitulah yang terjadi saat menikahi orang yang baru satu dua hari dikenal.
Saya tertawa tetapi hati saya menangis. Seharusnya saya yang ada di sana, duduk di kursi itu, dihina oleh Zailani, dan membayar semua tawa itu dengan kebahagiaan. Mereka telah pergi meninggalkan kampung ini.
***
“Anjing kau! Anak kurang ajar!” teriak Bapak kepada saya sesaat setelah kami berkelahi. Tiga kali tinjuan saya arahkan ke muka dan sekali sengaja saya pilih pelipisnya hingga ia terhuyung. Ada bercak darah segar di lantai.
“Sertifikat itu harta saya satu-satunya, Pak! Seharusnya itu buat tuhor Hasna. Dasar anjing tak berguna!” Teriak saya balik. Saya hanya mematung di depan pintu kamar dengan tangan yang gemetar.
Bapak terduduk di kursi meja makan. Sandra mendatangi saya. Mendekap dan mengelus kepala saya. Saya menangis. Untuk pertama kalinya saya berani memukul Bapak. Tinjuan itu juga dari ibu dan adik.
Sandra menenangkan Bapak, ia membawanya ke kamar. Mereka bercakap-cakap dengan Bahasa Angkola. Hening sesaat. Tak lama kemudian terdengar derit dan dentuman kayu yang menghantam dinding beton. Terus menerus. Semakin lama semakin keras, semakin jelas. Bapak seharusnya meredamnya dengan bantal. Bapak seharusnya belajar menjadi suami yang baik.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan omongan Bapakmu. Pergi saja bermain bola,” bujuk Sandra menemui saya lagi.
Saya memukul Bapak setelah mengetahui kalau rumah ini sudah dijual untuk menutupi utangnya. Bapak rugi jadi bandar togel. Banyak nomor orang-orang yang tembus karena kode alam dari kecelakaan truk di jembatan Trans Sumatra.
Saya telah kehilangan semuanya. Bapak sudah menjual sawah, mobil, dan kebun sawit di Natal. Tak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di rumah. Saya mengambil foto ibu. Saya peluk. Saya menangis. Saya rindu ibu. Saya juga terlalu sedih untuk bermain bola. Saya masuk kamar.
Tak lama suara knalpot kolong milik Bapak terdengar. Beberapa saat saya beranikan diri keluar kamar. Saya bertemu Sandra. Ia hanya memakai handuk ungu yang melilit tubuhnya dari dada hingga setengah paha. Rambut ikalnya yang saya potong dua hari lalu tergerai basah di bahu. Dari jarak satu meter, saya bisa melihat dengan jelas bekas-bekas merah menyerupai cubitan di atas payudara kirinya
“Lupakan saja kejadian barusan. Biar ibu yang membujuk Bapakmu,” ucapnya sebelum melangkah pergi ke kamar mandi belakang rumah.
“Usir saja Bapakmu kalau ia berani membawa perempuan lain ke rumah ini. Kalau butuh sesuatu yang mendesak, jual saja sawah atau kebun sawit kita, ibu pasti ikhlas kalau untuk kalian.” Saya tiba-tiba teringat percakapan terakhir dengan ibu. Saya teringat adik yang dititipkan kepada paman dari pihak ibu. Saya tinggal di rumah ini untuk mendapatkan hak saya tapi semua sudah jadi begini. Semua sudah terlambat.
Suara motor Bapak semakin menjauh dan benar-benar lenyap, meninggalkan sunyi mencekam di rumah yang sudah bukan milik kami lagi. Di kamar mandi belakang, suara guyuran air seperti memanggil-manggil. Saya tahu ini adalah jalan pintas menuju neraka, tapi Bapak sudah lebih dulu membakar rumah ini. Saya melangkah pelan, mengunci pintu depan dengan mantap, mematikan lampu ruang tamu, dan melangkah ke belakang dengan napas memburu. Jika Bapak bisa mencuri masa depan saya, maka saya akan mengambil apa yang tersisa dari miliknya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.