Novel Shadow Light Karya Putu Felisia

Oleh: Auzi Ilaturahmi

Putu Felisia dalam novelnya, Shadow Light, menyuguhkan tabir perseteruan dalam dunia yang begitu rumit. Tabir itu diungkapkan lewat segelumitan peristiwa yang sambung-menyambung membentuk sebuah sebab akibat yang jelas ujung pangkalnya. Putu melekatkan sisi baik dan jahat setiap tokohnya menjadi buram, abu-abu. Oleh sebab itu, pembaca akan mendapatkan jalinan kisah yang tidak mudah ditebak, sebab tokoh protagonis, antagonis tidak bisa ditentukan dengan mudah.

Contohnya, tokoh Agni. Agni adalah seorang pemunuh berjenis kelamin perempuan. Agni diceritakan sebagai wanita yang keras kepala, kejam, dan kasar. Namun, pada suatu titik tertentu, ia merupakan wanita yang lemah, terlebih dari tatapannya yang sendu. Sebagai pembunuh, ia tentu dapat dicap jahat atau antagonis. Namun, layaknya dunia nyata, kisah pencuri yang mencuri uang di jalanan demi meghidupkan keluarganya merupakan cerminan tokoh Agni. Agni rela berkorban nyawa demi seorang Shadow yang telah menyelamatkan dan memotivasinya untuk hidup. Agni menyerahkan dirinya kepada bayangan kematian yang tiap saat dapat menghampirinya dengan ganas. Ia telah lama hidup dari banyak kematian. Padahal, tidak ada yang memaksanya, termasuk Shadow. Burukkah tingkah lakunya, pencuri dan Agni?   

Serangkaian peristiwa dalam novel ini tidak mudah ditebak. Jalinan cerita yang menarik membuat pembaca menjadi tegang. Akan tetapi, walaupun menegangkan, Putu Felisia mampu membuat pembaca tak bisa berhenti membaca hingga halaman terakhir. Jadi, kisah dalam novel ini menegangkan sekaligus menggairahkan.

Cerita dalam novel ini menegangkan karena bercerita tentang pembunuhan-pembunuhan sadis yang dilakukan oleh agen-agen terlatih, laki-laki ataupun perempuan. Cerita diceritakan oleh pengarang dengan mengambil latar di Indonesia. Pembunuhan demi pemunuhan terjadi antar Bali dan Jakarta. Namun, walaupun demikian, jalinan ceritanya ada unsur balutan campuran budaya Indonesia, Jepang, dan Korea. Contohnya saja, nama tokoh dalam cerita. Tokoh dalam cerita itu ada yang bernama, Lee Shin, Joong, Fox, Orchid, dan Phoenix.

Kelebihan novel ini adalah adanya alasan yang jelas dalam setiap pergerakan dan peristiwa yang terjadi. Setiap gerak-gerik tokoh dan aksesoris yang digunakan tokoh mempunyai alasan tertentu dan pasti selalu menyimbolkan sesuatu yang tidak dapat diduga oleh lawan bicara tokoh, termasuk pembaca. Contohnya, anting yang digunakan oleh Agni. Ketika pertempuran terjadi antara Agni dan Phoenix, Phoenix terlihat sangat percaya diri mampu mengalahkan Agni yang sudah kehabisan peluru di pistolnya. Namun, tak disangka, Agni dengan gerakan secepat kilat mengambil anting logam yang masih melekat di telinganya dan seketika anting itu berubah menjadi pisau tipis yang mampu mematikan musuhnya.

Peristiwa-peristiwa pembunuhan dideskripsikan Putu dengan cara-cara pembunuhan yang tidak dapat ditebak atau dibaca oleh pembaca. Cara, strategi, dan alat pembunuhan yang dipakainya juga berbeda dengan cara pembunuhan ketika kita menonton film-film Asia lainnya. Pengarang memiliki imajinasi tersendiri mengenai alat pembunuhan yang diungkapkannya dalam cerita. Contohnya, pisau es. Pisau es adalah sebuah alat mematikan yang dapat membuat luka sayatan tipis dengan sedikit darah pada kulit sasaran musuh. Sekejap saja, darah si musuh menjadi beku dan kemudian si musuh itu mati. Pisau es itu tentu saja alat yang tidak biasa ditemukan sebagai alat pembunuhan dalam dunia nyata. Oleh sebab itu, pembaca bisa saja bertanya-tanya dalam hati mengenai kecanggihan alat pemunuhan semacam itu.  

Kelebihan lainnya dalam novel ini adalah tokoh perempuan yang digambarkan sebagai seseorang yang perkasa. Tokoh perempuan, serupa Agni, Phoenix, dan Orchid, digambarkan sebagai orang yang memiliki kecerdasaaan hati dan pikiran. Kecerdasan itu dilengkapi pula dengan kekuatan fisik yang sangat mumpuni. Dalam pertempurannya, ketiga wanita tersebut tidak kenal kalah dan mundur terhadap siapapun musuh yang sedang mereka hadapi. Mereka pandai melindungi apa yang ingin mereka lindugi walaupun peluru tertancap di bagian tubuh mereka. Inilah yang membuat tokoh wanita dalam novel ini berbeda dengan tokoh wanita dalam novel-novel lain yang cenderung digambarkan lemah dan tak berdaya.

Dibalik semua kelebihan yang ada, novel ini juga tidak terlepas dari kekurangan. Menurut pembaca, pengarang terlalu membuat tokoh utama, Shin, berkesan sempurna. Tokoh utama digambarkan sebagai orang yang paling beruntung dalam cerita. Shin diceritakan sebagai sosok yang kaya, tampan, pandai berkelahi, dan tidak pernah kalah. Bahkan, pengarang sama sekali tidak menyelipkan kekurangan pada sosok Shin. Shin digambarkan sebagai seorang yang seolah-olah dapat mematahkan semua strategi musuh. Dalam kisahnya, Shin dapat dengan mudah saja mengetahui pergerakan musuh tanpa ada sebab yang jelas. Pengarang tidak menceritakan dengan detail bagaimana seorang Shin mampu membaca setiap strategi dengan mudah seolah-olah ia memang sudah ditakdirkan untuk tidak mati dan tidak kalah. Padahal, dalam kenyataannya, semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri.

Alhasil, novel ini sangat berkualitas untuk dibaca, baik laki-laki ataupun perempuan. Sebab, cerita tidak lagi menekankan pada persoalan romantisme percintaan. Akan tetapi, cerita syarat akan nilai perjuangan dan semangat tidak mudah menyerah. Pengarang mengisahkan perjuangan sekaligus pengkhianatan kasih sayang. Kisah percintaan tidak merupakan topik utama, melainkan pelengkap jalan cerita yang ikut mengamanatkan kisah inti, yaitu kepercayaan adalah pengakuan tertinggi manusia terhadap manusia lainnya.

Maret 7, 2026

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan