Shadow Light: Perempuan dalam Genggaman

Oleh: Auzi Ilaturahmi
Sastra adalah seni, ungkapan batin yang mendalam, dan inspirasi kehidupan manusia yang diwujudkan dalam berbagai bentuk keindahan (Rokhmansyah, 2014:2). Sastra hadir sebagai hasil proses perenungan panjang akan hakikat hidup dan kehidupan. Dengan begitu, sastra dapat dijadikan wadah untuk menyampaikan pandangan tentang realita kehidupan yang ada disekitar manusia. Oleh karena itu, sastra didominasi oleh sesuatu yang berisi nilai-nilai kehidupan dalam bermasyarakat. Melalui karya sastra, fenomena peristiwa kehidupan manusia dapat terungkap dan dinikmati, serta dijadikan pelajaran dalam berkehidupan sosial.
Semua yang dijadikan renungan dalam pikiran tentu tidak terlepas dari realita masyarakat di sekitar. Sastra hadir karena adanya kehidupan bermasyarakat dan bersosial. Oleh sebab itu, sastra merupakan mimesis dari kehidupan nyata. Hal itu jugalah yang dingkapkan Plato. Plato beranggapan bahwasanya sastra adalah tiruan kehidupan nyata.
Novel Shadow Light karya Putu Felisia berisi tentang perseteruan raga dalam kemasan dunia yang begitu rumit. Keegoisan diri membuat peperangan sering kali terjadi. Peperangan itu terjadi dilandaskan atas dasar kekuasaan. Keinginan berkuasa, pihak yang satu terhadap pihak yang lain, membuat pertumpahan darah sering kali tidak dapat terelakkan. Satu kematian tentu akan menjadi pemicu munculnya kematian berikutnya. Sebab, di dunia ini, hal yang satu selalu berkaitan dengan hal yang lain begitu juga dengan manusia. Hal itulah yang menyebabkan persoalan tampaknya rumit untuk disudahi atau diselesaikan.
Persoalan-persoalan yang diangkat tidak hanya mutlak berkisah tentang pembunuhan yang didasarkan atas kekuasaan. Aksi pembunuhan dalam novel Shadow Light karangan Putu Felisia juga didasarkan atas alasan cinta. Demi rasa cinta yang membara, segala sesuatu rela dilakukan dan dikorbankan untuk orang yang tercinta termasuk mengorbankan nyawa. Hal itu terjadi pada tokoh dalam novel ini bernama Fairish Alena Wangsattama atau yang dikenal Agni.
Fairish Alena Wangsattama atau yang akrab disapa Agni merupakan tokoh perempuan yang melakukan aksi pembunuhan dilandaskan alasan cinta terhadap kekasihnya, Shadow atau yang akrab disapa Joon. Agni mengorbankan segalanya termasuk dirinya dalam peperangan demi membalas dendam kekasihnya. Ia menceburkan diri pada banyak peristiwa pembunuhan. Hal itu tampak pada kutipan berikut.
Kemudian, di luar harapan gadis itu… Shadow tidak melakukannya. Dalam ledakan pesawat yang belakangan menjadi heboh di media massa, untuk pertama kalinya ia mendengar suara Shadow, saat bisikan lembut itu membelai telinganya….Gadis itu telah mengabaikan kebebasan yang menari di depannya saat itu, dan memutuskan saat itu juga akan menyerahkan hidupnya kepada lelaki itu. Kepada Sang bayangan.
(Felisia, 2011:39)
Kutipan di atas menegaskan kondisi sikap yang dialami Agni. Satu perlakuan istimewa yang diterimanya dari seorang laki-laki yang tidak ia kenal telah mampu merubah pandangannya terhadap hidup. Agni memutuskan untuk melakukan segala hal untuk melindungi seseorang yang ia cinta, puja, dan rindu. Ia menyerahkan hidupnya pada lelaki yang baru ia kenal juga lelaki yang pernah berusaha membunuhnya, Joong. Agni tidak peduli dengan julukan malaikat maut pada diri Joong. Ia telah terpaut pada kerendahan hati dan ketertarikan pada ucapan lelaki itu. Satu persitiwa yang tidak bisa dilupakan Agni adalah saat Joong bermurah hati untuk tidak menarik pelatuk pistolnya pada kepala Agni. Perlakuan Joong itulah yang membuat hati Agni luluh terhadap Joong. Peristiwa itu yang menyebabkan Agni masuk ke dalam medan pertempuran untuk membantu Joong mengalahkan segala musuh Joong.
Dalam hal itu, tokoh Agni dalam novel ini telah menggambarkan realita yang banyak terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Perempuaan–perempuan yang telah terikat dan tertarik pada suatu hal dalam diri seseorang akan cenderung rela melakukan apa saja demi seseorang yang ia cintai. Bahkan, dengan ketulusan hatiya, Agni melindungi Joong dengan bertaruh harta dan nyawa.
Sifat-sifat yang melekat pada diri perempuan juga sangat tampak pada sosok Agni. Perempuan biasanya digambarkan sebagai sosok yang setia. Hal itu terlukis dalam sikap Agni. Putu Wijaya menggambarkan kesetiaan Agni terhadap Joong lewat berbagai peristiwa pembunuhan. Agni yang mencintai Joong ikut melawan musuh Joong. Bahkan, ia mengklaim bahwasanya musuh Joong adalah musuhnya juga.
Kesetiaan seorang perempuan terhadap laki-laki jarang diragukan. Kalimat itu telah menjadi asumsi publik dalam kehidupan bermasyarakat. Perempuan yang telah terikat jarang untuk beralih ke yang lain, meskipun orang yang ia cintai telah meninggal dunia. Di bumi ini, faktanya adalah lebih banyak wanita yang memilih menjanda seumur hidupnya daripada laki-laki yang memilih menduda. Oleh karena itu, selayaknya Agni, Ia memillih sendiri walaupun ada Light atau yang akrab disapa Lee Shin mencintai Agni dengan sepenuh hati. Bahkan, Shin ikut mengorbankan harta, jiwa, dan raganya demi Agni, sosok pujaannya. Kutipan dalam novel Shadow Light berikut memperjelas hal tersebut.
Gadis ini kembali melukainya. Teramat dalam. Gadis Joong selamanya milik Joong. Dan, dia hanya seseorang yang terhimpit dalam perasaannya sendiri. Shin memandang Iris lagi. Gadis itu telah terpekur dalam bacannya. Tidak memedulikannya. Kemarahan bergulung-gulung mulai memasuki dirinya. Dia marah, mengapa harus dia yang berada dalam posisi ini? Mengapa bukan Fox yang bertarung melawan Joong? Atau, Phoenix? Atau, Taejo Yamada? Atau, yang lainnya? Mengapa harus Lee Shin?.
(Felisia, 2011:272)
Dalam kutipan di atas, Putu Felisia juga menyiratkan perempuan sebagai sosok yang mudah terluka. Apabila telah dibohongi, perempuan biasanya tidak akan mudah memaafkan dan melupakan kejadian itu. Hati yang semula lembut akan berubah menjadi batu jikalau dikhianati oleh seseorang yang telah dianggap dekat olehnya. Kutipan di atas menjadi bukti sifat ini.
Agni sama sekali tidak menghiraukan apapun yang dikatakan dan dilakukan Shin kepadanya. Ia telah merasa dikhianati oleh Shin. Shin dianggap telah membunuh Joong dan tidak mengakui kalau dirinya adalah orang yang membunuh Joong. Padahal, anggapan itu belum tentu benar adanya karena bisa jadi bukan Shin yang membunuhnya melainkan orang lain. Akan tetapi, Agni tidak ingin mendengar dan tidak ingin mencari kebenarannya. Sikap itu sekaligus menjadi bukti bahwa perempuan cenderung berpikir pendek dan mudah mempercayai sesuatu hal yang belum pasti.
Sementara itu, Lee Shin, yang merupakan orang yang dengan setulus hati mencintai Agni, ditolak Agni. Bahkan, setelah merasa dibohongi, Agni tidak memperdulikan Lee Shin yang sudah jauh masuk ke dalam hidupnya. Dengan mudahnya, Agni melupakan semua bantuan dan budi yang diberikan Lee Shin.
Selain tokoh Agni, ada satu lagi sosok perempuan dalam novel Shadow Light karangan Putu Felisia yaitu Phoenix. Dalam diri phoenix, Putu Felisia melukiskan perempuan sebagai seorang yang penurut dan tunduk akan perintah. Hal itu dikarenakan sikap Taejo Yamada yang telah mampu mengambil hati Phoenix. Jadilah Phoenix sebagai robot yang siap menjalankan perintah ketika disuruh.
Selayaknya Agni, Phoenix juga terperangkap dalam jalinan peristiwa pembunuhan. Atas dasar perintah Taejo Yamada, Phoenix yang semula merupakan gadis berparas cantik, berkulit kuning, dan berlesung di pipinya, menjadi seorang sosok gadis liar dan buas dalam memangsa buruannya. Ia masuk ke dalam organisasai pembunuhan di Asia. Ia menjadi pembunuh yang teramat sadis bagi Agni. Kutipan berikut memperjelas kondisi perempuan yang berada dalam genggaman Taejo Yamada yaitu Phoenix.
Taejo Yamada menyerahkan berkas kepada seorang gadis di sebelahnya. Postur gadis itu tinggi-langsing, dengan kulit kuning kecokelatan khas orang Asia Tenggara. Lesung pipit terlihat jelas dekat hidung bangirnya. Memperlihatkan seraut wajah tanpa dosa, menutupi semua kejahatannya sebagai pembunuh bayaran. Phoenix—gadis itu menyambut berkas tanpa bersuara.
(Felisia, 2011:78)
Dalam kutipan itu, Phoenix tampak menghargai Taejo Yamada. Ia mendengarkan dan melakukan perintah yang diberikan oleh Taejo Yamada. Padahal, tugas yang diberikan Taejo bukanlah hal yang mudah dan lagi-lagi berhubungan dengan hidup matinya. Namun, karena bantuan dan perhatian yang telah diberikan Taejo kepada Phoenix menjadikan Phoenik sebagai gadis yang buas dan terkenal ganas dalam membunuh targetnya. Begitulah sosok Phoenix digambarkan dalam novel Shadow Light karangan Putu Felisia.
Putu Felisia menyiratkan bahwa perempuan merupakan sosok yang lemah dan mudah diperdaya oleh seseorang yang ia cintai. Agni dan Phoenix merupakan cerminan realita yang terjadi di dalam masyarakat. Agni dan Phoenix cukup mewakilkan sifat wanita yang berada di dalam genggaman laki-laki. Pengorbanan yang diberikan tidak hanya harta melainkan nyawa. Begitulah sosok perempuan yang digambarkan Putu Felisia.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.