Angpao untuk Bumi

Oleh : Rein De Komar

Pukul empat pagi, Melan memesan taksi online dari kos-kosannya di Jagakarsa. Pesawatnya dijadwalkan berangkat pukul tujuh pagi ini. Waktu tempuh ke bandara Soekarno Hatta bisa memakan waktu dua jam pada subuh hari yang lengang. Ia harus bergegas sebelum kendaraan mulai memadati jalanan.

Pesawat ke Jambi ada tiga kali penerbangan dalam sehari. Melan memilih pesawat pertama agar ia cepat tiba. Dua hari sebelumnya ia dimarahi kakek via telepon. “Kenapa tidak pulang segera padahal imlek tinggal tiga hari lagi”. Melan bilang bahwa ia memang memesan tiket H-1 imlek. Kakek terdengar kesal karena biasanya mereka akan menjalankan ritual Fang Sheng di pagi H-1 imlek itu.

“Kau nak tibo jam berapo? Fang Sheng tu pagi-pagi, kau berangkat dari Jakarta bae hari lah siang.”

Melan malas menjawab panjang lebar kalau kakek sudah ngomel-ngomel begitu. Maka ia yakinkan kakek bahwa ia akan tiba pukul delapan pagi dan langsung ikut melepas anak labi-labi ke sungai Batanghari.

Di pesawat, saat akan mendarat di Jambi, Melan menengok ke bawah. Dataran hijau yang luas dan rapi tapi samar-samar terlihat karena sedang berkabut. Dia teringat Indah, teman kerjanya yang pernah ikut ke Jambi saat libur natal tahun lalu. Indah anak Jakarta yang baru pertama kali ke Jambi, bahkan ke pulau Sumatera. Ia merasa takjub melihat pemandangan yang menyambutnya di bawah pesawat. Katanya, apakah di bawah sana hutan rimba? Wah Jambi itu banyak hutan?

Aku tertawa dan bilang bahwa itu kebun sawit. Hutannya sudah digunduli, diganti kebun sawit. Indah manggut-manggut saja. Ia tidak paham bedanya kebun sawit dan hutan. Yang ia tahu semua tampak hijau seperti hutan.

Syukurlah pagi ini pesawat mendarat dengan mulus di Jambi walau jarak pandang terlihat buram. Masih untung tidak delayed saja pesawatnya, Melan membatin.

Melan sudah di rumah. Buru-buru ia mandi dan berganti pakaian.

“Kakek mana, Ma?”, Melan menyapa ibunya di dapur sambil menyendok tepek ikan yang masih mengepul di atas kompor.

“Kau cepat lah susul kakek ke sungai. Kagek marah dio.” Melan mengangguk, mengiyakan perintah ibu sambil buru-buru menghabiskan sarapan paginya.

H-1 perayaan Imlek di Kota Jambi terlihat muram. Melan jalan kaki menuju tepian sungai Batanghari yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Untuk menuju ke sungai, Melan melewati kelenteng Hok Tek. Kelenteng tempat ia dan keluarganya sembahyang. Di gerbang pintu masuk kelenteng, Melan mematung sebentar, menatap lampion-lampion merah yang tergantung di sana.

“Lihatlah. Warnanya tidak lagi merah terang. Abu menutup warna merahnya. Abu yang tiap tahun selalu ada di kotanya imbas dari kebakaran lahan. Biasanya jerebu datang dari wilayah sekitar kota Jambi yang lahannya mudah terbakar. Entah terbakar atau dibakar. Tak bisa dibedakan. Yang pasti tak lama setelah lahan itu terbakar, sawit-sawit kecil berjejer rapi di sana. Melan menarik nafas panjang, lalu terbatuk. Asap sialan”.

Tiba di tepi sungai, di bawah jembatan Gentala Arsy, Melan melihat kakek duduk di tangga beton yang mengarah ke sungai. Melan mencari-cari sepeda motor tua kakek, tapi tak jumpa.

“Kek, mana honda kita?” tanya Melan.

“Honda dipinjam Hendra ke pasar, nak beli tenggiri titipan emak kau.”  

“Baru tibo nian kau Melan?”

“Labi-labi ini nunggu kau lah, nak kito lepas ke sungai.”

Melan duduk di sebelah kakek. Sepertinya kakek sudah tidak kesal lagi dengannya karena terlambat pulang ke Jambi. Melan menatap dua ekor labi-labi di dalam plastik putih yang dipegang kakek. Lalu Melan menatap sungai Batanghari di hadapannya. Sungai keruh berwarna cokelat yang sedang surut. Bungkus detergen terlihat di atas lumpur coklat yang menutupi sungai.

“Kek, lah berapo lamo ndak turun hujan?” Melan berpaling menatap langit.

“Hujan dak ndak turun caknyo. Camano lah rezeki kito tahun ini. Heii parah nian kini.”

Melan melirik kakeknya, ia melihat wajah tua penuh kekecewaan. Melan yang sudah hampir delapan tahun merantau ke Jakarta karena harus kuliah dan lanjut bekerja di sana tak lagi mengingat kapan terakhir kali Fang Sheng di kota kelahirannya terasa semarak.

Hujan tidak turun lagi tahun ini di bulan Februari. Sungai kering, lahan-lahan terbakar, asap menyesakkan dada, abu menutup apa saja yang disinggahinya.

Lalu, sepasang labi-labi akan dilepaskan ke sungai yang kering kerontang? Melan merasa berat hati.

“Kek, biarlah ndak usah bae kito lepas labi-labi tu. Bukan menyambut hoki, kito malah ngantar nyawo mereka. Cakmano menurut kakek?”  

Kakek terdiam. Lama ia menatap sungai. Dulu sekali sungai ini sumber kehidupan. Riuhnya kota, suara orang-orang mengobrol di sini terasa menyenangkan. Anak-anak ramai mandi di sungai, sampan lalu lalang membawa jaring dan hasil tangkapannya. Ikan masih mudah didapat kalau kita mau mancing barang satu atau dua jam. Kini, semua tinggal cerita saja rasanya.

“Melan, Fang Sheng tu memang dak wajib nian, namun ritual ini penting. Kito akan nyambut tahun baru penuh berkat kalau kito selalu menjaga tradisi ini. Kau kan pernah sekali tak ikut Fang Sheng. Tahun berapa itu, pas kau magang. Coba kau ingat, habis tu hilang honda kau di Jakarta sana kan? Ndak ado berkatnyo memang.”

Melan tak mau menjawab apa-apa tentang itu, ia menawarkan sesuatu kepada kakek.

“Kek, cakmano kalau kito tanam pohon bae di belakang rumah?”

“Pohon apo?”, dahi kakek mengernyit.

“Hmm..basing lah. Labi-labi ini kito kasi ke Hendra nanti, tau dio letak di sungai dekat Merangin kalau dio nak ke sano minggu depan. Kasian nian kek.” pinta Melan.

Kakek menarik napas panjang, menghembuskannya dengan lirih dan memejamkan matanya. Melan melihat bibir kakek komat-kamit, mungkin sedang berdoa. Melan menunggu.

“Ayo kek.” Melan menggamit lengan kakek dan berjalan menuntunnya meninggalkan sungai Batanghari yang menyedihkan.

Kakek dan Melan pulang ke rumah setelah sebelumnya singgah di pekarangan rumah Kak Yuni. Mereka meminta tiga batang bibit pinang yang memang dibudidayakan oleh Kak Yuni. Dengan tentengan bibit pinang mereka pulang ke rumah.

Melan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya sudah berkeluarga dan memiliki masing-masing dua orang anak. Rumah mereka tak jauh dari rumah yang ditempati Melan bersama ibu dan kakek. Empat keponakannya yang masih usia SD itu sudah menunggu di teras rumah. Melihat Melan tiba di pagar bersama kakek buyut mereka, para keponakan berteriak kegirangan.

“Ii Melan.. ii Melan.. horee.. ii Melan datang.. minta angpao ii.. angpao..” sorak mereka kegirangan.

Melan yang sejak di Jakarta memang telah menyiapkan angpao untuk keponakannya buru-buru masuk ke kamar, mengambil angpao, lalu memeluk para bocah satu persatu.

“Kita tanam pohon dulu yaa di belakang, baru ii kasi angpaonyo.” Melan berlari ke halaman belakang rumah diikuti kejaran para keponakan kecilnya. Kakek mengambil cangkul dan mulai membuat tiga buah lubang. Mereka mengatupkan tangan, memejamkan mata, dan berbisik lirih menghaturkan harapan-harapan untuk tahun yang penuh berkat dan kesejahteraan. Melan lega, hari ini labi-labi tak jadi menyelam di sungai yang keruh dan bumi dapat angpao darinya sekeluarga.

Februari 17, 2026

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan