Guru Baruak

Oleh Yoga Mestika Putra

Baruak atau beruk punya arti penting dalam hidupku. Iya, beruk binantang berkaki empat yang bernama latin Macaca nemestrina ini, adalah primata yang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari hidupku. Tapi bukan karena aku penggemar berat serial televisi Kera Sakti yang dulu tayang setiap Senin sampai Jumat selepas magrib. Serial televisi itu berkisah tentang, Sun Go Kong, siluman kera yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dari kera lainnya. Namun, kemampuannya itu justru menjadikan ia kera yang nakal. Dengan bersenjatakan tongkat sakti, ia merasa jumawa dan bertindak sesuka hati di negeri para dewa. Buntut dari kekacauan yang dibuatnya, ia disegel di sebuah bukit selama lima ratus tahun sebagai hukuman supaya insaf. Dalam pada itu seorang biksu yang bernama Tang mendapat mandat melakukan perjalanan ke barat mencari kitab suci. Perjalanan yang sangat jauh itu hendak dilakukannya seorang diri. Para siluman jahat bisa kapan saja mencelakainya. Supaya terbebas dari hukuman, Sun Go Kong yang cerdik mengajukan diri menjadi murid yang akan menemani dan menjaga sang biksu selama perjalanan. Singkat cerita Sun Go Kong diangkat menjadi murid oleh biksu bersama dua murid lainnya yakni Tie Pat Kay⸺siluman babi, dan Sam Cheng⸺sang pendeta. Biksu dan ketiga muridnya berhasil mengatasi segala rintangan selama perjalanan tersebut.

Jelas bukan karena serial tv itu yang menjadikan beruk punya arti penting dalam hidupku.

Bukan juga karena orang kampungku yang terkenal pencemooh itu kerap mengumpat atau mencela orang lain dengan memakai kata beruk. Misalnya untuk mengata-ngatai orang yang berperangai buruk, dikatakan orang itu memiliki parangai baruak. Untuk orang yang bicara tak berkesudahan, dikatakan omongannya sapanjang tali baruak. Dan untuk menggambarkan sesuatu yang pada dasarnya sama dipakai pula istilah batuka baruak co cigak. Atau ketika amat kesal dengan seseorang, bisa saja orang tersebut diteriaki “baruak.

Bukan, bukan karena ungkapan-ungkapan seperti itu yang menjadikan beruk memiliki arti penting dalam hidupku.

Beruk punya arti penting dalam hidupku sebab keluargaku hidup dari beruk. Maksudku ayahku dan kakekku adalah orang-orang yang hidup dari melatih beruk. Kalau ditelusuri riwayat keluargaku, hampir semua leluhurku pernah berhubungan dengan beruk. Ayah dari kakekku adalah penjinak beruk, kakekku pelatih beruk yang ulung. Dari cerita yang kudengar, dia termasuk orang yang pertama-tama melatih beruk di kampungku. Ilmu melatih itu kemudian diturunkan ke beberapa muridnya termasuk ayahku. Jadi kalau ditarik kesimpulan keluarga kami tidak dapat dipisahkan dari beruk.

Pekerjaan menjadi pelatih beruk tidak boleh dipandang sebelah mata. Bayangkan kalau tidak ada beruk terlatih, bagaimana menjangkau buah kelapa yang tinggi itu. Kalau disuruh orang untuk memanjat sangat berisiko. Orang bisa saja terjatuh dan menderita cidera fatal. Kalau menggunakan galah, harus berapa panjang galahnya? Itu pun dapat mencelakai orang.

Beruk tidak sama dengan monyet dan kera. Beruk, terlebih yang betina, berpanggul lebih besar dan berekor lebih pendek. Dulunya beruk adalah hewan liar yang menjadi hama bagi para petani. Tidak ada sumber pasti yang menyebutkan siapa yang pertama kali menjinakkan beruk. Tapi cerita punya cerita, para pemburulah yang pertama-tama menjinakkannya untuk perintang-rintang hari di tengah hutan. Saat ingin makan buah-buahan yang tinggi dan susah dijangkau, para pemburu menyuruh beruk memetiknya. Ternyata bisa. Jadilah beruk hewan yang mulai dilatih untuk membantu pekerjaan manusia sebagai panyambuang tangan nan singkek, panjapuik nan jauah. Akhirnya, beruk lazim digunakan sebagai pemetik buah kelapa, jengkol, dan pohon tinggi lainnya. Lihatlah betapa pentingnya beruk bagi masyarakat. Bayangkan tidak mungkin gulai ayam atau rendang nan gurih dapat kita nikmati jika tidak ada tangan-tangan terampil yang terlibat di dalamnya, termasuk tangan beruk.

Sudah lumrah bahwa untuk mengerjakan sesuatu di dunia ini ada ilmunya. Setiap ilmu ada gurunya. Beruk pun begitu. Tidak mungkin beruk bisa dimanfaatkan, kalau tidak ada yang melatihnya. Dan barangsiapa yang ingin memiliki beruk terlatih, datanglah pada ayahku. Orangnya tegas, tapi penuh kasih sayang, dan tentu saja disegani para beruk. Karena itu, kendati usianya tidak muda lagi, tenaganya tetap dibutuhkan untuk melatih beruk. Dulu pelatih beruk memang cukup banyak di kampungku. Namun, tidak banyak orang yang memiliki kemampuan itu. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Ayahku memang pantas disebut sebagai guru beruk andal. Di tangannya, beruk liar dapat dijinakkan dan dilatih sehingga menjadi penurut. Tentu saja, Ayah tidak bisa bicara bahasa beruk. Tapi beruk bisa mengerti bahasa Ayah. Setelah dilatih, beruk bisa membedakan mana kelapa yang harus dipetik hanya dengan perintah singkat dan ayunan tali ikatnya.

Tetapi sudah sebulan ayahku tidak melatih beruk lagi. Bukan karena tidak ada orang yang meminta jasanya. Bahkan, ada saja orang berdatangan untuk meminta tolong kepada melatih beruk. Bukan juga karena beruk susah didapatkan. Setiap pekan di pasar rakyat, penjual beruk selalu menawarkan beruk dari berbagai daerah seperti Ujung Gading, Padang Tujuh, Simpang Tonang, dan Rimbo Panti. Ayah kehilangan semangat melatih beruk lantaran Wati, beruk kesayangannya mati dua bulan lalu. Kepergian Wati membuat Ayah terpukul dan ingin istirahat dulu dari dunia kepelatihan beruk.

Sejak peristiwa itu, setiap kali memandangi foto di dinding, Ayah sering tercenung di hadapan sebuah potret. Potret itu adalah potret Wati yang sengaja ditempatkan di sebelah foto keluarga. Yang dipotret pandai pula memosisikan diri layaknya model. Ayah sudah menganggapnya bagian dari keluarga. Andai saja boleh menambahkan Wati ke dalam kartu keluarga, tentu sudah ia lakukan dari dulu.

Susah memang mencari beruk yang seperti Wati. Ia cekatan, penurut, patuh, dan tidak banyak perangai. Untuk membentuk beruk seperti Wati mungkin butuh waktu bertahun-tahun. Ayah masih teringat pesan ayahnya, kakekku, ketika ia malas-malasan bersekolah. Melihat gelagatnya yang demikian Kakek bertanya, “Kalau begini caranya lebih baik kamu berhenti saja sekolah. Tapi kamu bisa kerja apa kalau berhenti sekolah? Kalau begitu bawalah beruk ini olehmu. Rawatlah ia dengan baik.” Sejak saat itu resmilah yah memiliki beruk sendiri.

Dua puluh tahun kebersamaan mereka bukanlah waktu yang singkat. Perjuangan dijalani bersama. Ratusan bahkan ribuan pohon kelapa telah dipanjat Wati. Penghargaan demi penghargaan telah diraih. Tapi, aturan hidup di dunia berlaku untuk siapa saja tanpa pandang bulu. Tidak ada yang kekal di dunia fana ini.

Suatu ketika  Zul, teman Ayah sepermainan domino, datang. Dia bilang pada Ayah kalau ingin punya beruk yang sudah terlatih.

“Jo Bakar, saya perlu beruk seekor.”

“Beruk kau kan sudah ada. Lagipula kau kan sudah tahu, aku tidak melatih beruk lagi sekarang.”

“Minta tolong benar saya sekali ini, Jo… Beruk yang saya punya tidak bisa lagi diandalkan. Kelakuannya membuat pusing kepala saya. Disuruh memanjat, ia malah berjingkrak. Disuruh petik kelapa tua, diturunkannya yang muda. Akibatnya penghasilan saya pun jadi menurun. Siapa lagi yang saya bisa harapkan, untuk melatih beruk kalau bukan Ajo?”

Agak lama Ayah terdiam. Ayah paham betul bagaimana keadaan orang yang mengandalkan beruk sebagai mata pencarian. Dan, sekali beruk sudah malas-malasan maka seterusnya kerjanya tidak akan beres. Lalu Ayah berkata, “Baiklah, kau mau yang jantan atau betina?”

“Betina, Jo. Yang jantan seperti inilah tingkahnya. Biarlah, mahal sedikit tidak mengapa.”

“Ya, kalau yang jantan memang begitulah ulahnya. Tidak bisa terlalu keras dan tidak bisa terlalu lembut. Kalau misalnya diajar dengan keras serta dimarahi ia akan melawan, kalau dilembutkan dia jadi manja.”

“Jadi kapan saya bisa ambil, Jo?”

“Sebulan lagi datang ke sini.”

Tak berapa lama setelah deru motor butut Zul menghilang, Ayah menyuruhku ke pasar mencari beruk betina untuk dilatih. Kebetulan hari itu hari pekan, jadi tentu banyak beruk yang dijual. Aku pun mendatangi penjual beruk untuk melihat-lihat kalau ada yang cocok.

“Dari mana beruk ni, Jo?” Tanyaku ke penjual.

“Dari Ujung Gading.”

“Kok kecil-kecil sekali badannya ini, Jo?”  aku mengamati beruk-beruk yang ada di dalam kerangkeng.

“Ini karena baru diambil dari hutan. Cobalah pilih satu dan rawat dengan baik. Sekarang ini sangat mudah untuk membesarkan badan beruk. Beri ia susu formula sekali seminggu selama sebulan. Badannya akan tumbuh besar. Saya sendiri sudah mencobanya. Percayalah,” rayu  si penjual beruk.

“Berapa duit, Jo?”

“Yang betina 350 ribu yang jantan 150.”

“Kalau yang di kerangkeng sebelah situ?”

“Sama. Tinggal pilih. Yang agak murah ada juga. Tapi matanya 1-0 alias buta sebelah. Harganya 270 ribu” si penjual sambil menunjuk beruk yang dimaksud.

“Saya ambil yang betina saja satu ekor, berapa pas nya?”

“340 ribu boleh lah.”

Beruk itu dimasukkan ke dalam karung lalu kubawa pulang.

Jambi, 24 Oktober 2024

Biodata Penulis

Yoga Mestika Putra adalah pengajar Sastra Indonesia Universitas Jambi. Cerpen-cerpennya tersiar di Republika, Pikiran rakyat, Suara Merdeka, Haluan, Janang.id, Lensastra.id. Beberapa buku kumpulan cerpen yang telah terbit di antaranya Terjebak Masa Lalu (2022), Buah Simalakama (2023), Loneliness (2023), Derai Renjana (2023), Arina dan Perempuan Penjual Kenangan (2023), Nesia (2023), Belia (2023). Akun Instagram @yogamestikaputra

Januari 25, 2026

Tinggalkan Balasan