Patung yang Retak oleh Waktu
Oleh Siti Fitriah
Aku pernah mencintaimu dengan begitu hebatnya, namun kau acuhkan keberadaanku. Kau hanya menganggapku seperti angin yang membawa hawa panas, hingga kau gerah jika melihat kehadiranku. Matamu yang sipit, tubuhmu yang jakung dan wajahmu yang tirus semakin membuatku jatuh cinta. Tapi, di matamu aku hanya seonggok batu yang menghalangi jalanmu. Aku tak menyalahkannya, waktu itu, aku hanyalah remaja cupu yang tidak tau cara berdandan. Rambutku pendek dan cepak, fashion-ku juga acak kadut, ditambah lagi aku juga berkacamata. Lengkap sudah kesanku sebagai remaja wanita yang cupu.
Ketika aku menapaki jalan setapak menuju rumah, bayangan tentang sosok lelaki itu muncul. Bagaimana kabarnya, apakah ia sudah menikah dengan remaja wanita yang waktu itu ia pacari?, Apa pekerjaannya?, Apakah dia mengikuti jejak ayahnya?, Aku mengakhiri pertanyaan yang bejibun tentangnya di kepalaku ketika seseorang menegurku dan menanyakan tujuanku.
“Anu..Mbak, mau ke mana? Kok jalan kaki, ngk pake kendaraan? ” ucapnya sambil membungkukkan badan dan tersenyum hangat.
“Oh, iya pak, ini mau ke rumah Bu Nur”, balasku dengan senyum hangat pula sembari membetulkan letak rambut panjangku ke belakang.
“Apanya Bu Nur ya Mbak?” tanya bapak paruh baya tersebut menyelidik ingin tahu. Ia turun dari sepeda jengkinya dan berhenti di sampingku. Matanya sipit, tubuhnya jakung, wajahnya sedikit tirus, mirip dengan bayanganku tentang sosok lelaki waktu SMA itu. Namun, bapak paruh baya itu pastinya bukan dia. Sergah pikiranku. Ia menggunakan kaos partai dengan celana panjang usang. Topi buntutnya diletakkan di stang sepeda jengki.
Aku masih berdiam diri mengingat-ngingat wajah yang pernah aku kenal dulu. Aku yakin bapak ini bukan dia. Pikiranku sedikit melegakan hatiku. Lelaki itu anak orang kaya, bapaknya seorang lurah. Asetnya di mana-mana. Rumahnya paling megah dan mewah di antara rumah yang ada di lingkungan kami.
“Saya anaknya pak, Ratih”. Balasku dengan senyum tipis sembari pamit untuk melanjutkan perjalanan. Aku tidak lagi menunggu responnya. Ekor mataku masih mengikutinya, terlihat ia mengusap wajahnya menggunakan ujung kaos partai itu dan beranjak mengayuh sepeda jengkinya.
Cuaca hari ini cukup terik. Padahal masih pukul 09:00 pagi. Tidak ada pepohonan yang menyergah daya panasnya. Dulu, waktu aku kecil, jalan setapak ini asri. Pepohonan berjejer rapi, setiap depan rumah ditanami bunga warna-warni. Jadi teringat dengan kenakalaku dulu. Cekikikku kemudian. Aku pernah dimarahi oleh bu Sri yang rumahnya berada di samping rumahku karena kerap memetik bunga mawar kesayangannya untuk dibuat mainan. Bu Sri sangat pintar merawat bunga mawar, di terasnya dipenuhi mawar dari berbagai jenis. Ada mawar eden, double delight, dan mawar putri.
Yahh…., itu sudah 10 tahun berlalu sejak aku meninggalkan kampung halaman untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Ku langkahkan kaki dengan ringan, akhirnya aku bisa pulang kampung setelah sekian lama. Sontakku bergembira.
Aku memilih memakirkan mobilku di toko dekat simpang pertigaan sebelum memasuki jalan setapak. Aku ingin merasakan kembali suasana tempo dulu. Berlarian dengan teman sebaya sambil tertawa lepas, tidak peduli setelahnya diamuk ibu karena pulang terlalu sore. Ah… aku merindukan masa itu…, masa di mana tidak banyak yang perlu dipikirkan. Aku menghelas napas dalam, mengingat pontang-pantingnya 10 tahun lalu sejak bapak pergi meninggalkan aku dan Ibu.
Tidak terasa aku sudah berada di depan rumah. Rumah masa kecil yang hangat meski hanya dibangun dengan papan kini sudah direnovasi menjadi bagunan yang megah berlantai 2. Ada taman kecil di depan rumah ditumbuhi dengan berbagai jenis mawar. Pasti ibu meminta bu Sri untuk merawatnya. Ucapku lirih.
“Assalamualaikum”, sapaku dengan penuh semangat. Pintu rumah terbuka lebar, tapi tak ada sahutan ibu. Aku berjalan ke samping rumah. Samar-samar ku dengar suara ibu sedang membaca Al- Qur`an di kamar belakang. Aku mengetuk jendela samping rumah. “Assalamualaikum bu”, ucapku kemudian sambil menyembunyikan diriku di belakang jendela. Ku dengar ibu jalan mendekati jendela sembari menjawab salamku.
“Waalaikumsalam, siapa itu?”, ucapnya sambil melongokkan wajahnya di jendela.
“Ibu….” teriakku kemudian yang muncul tiba-tiba di hadapannya. “Ya Allah, nak.., katanya pulang lebaran. Ibu belum masak lauk kesukaanmu. Kapan berangkat ke sini. Naik apa?”, tanyanya panjang lebar sambil memelukku dan membelai rambutku. Hangat sekali pelukan ibu. Bau khas ibu yang bikin Ratih rindu dan pingin segera pulang.
“Cantik sekali anak ibuk, ayo masuk ”, ucap ibu sambil mencubit pipiku. Aku hanya tersenyum manis mendengar pujian dari ibu.
Tiba-tiba aku teringat dengan bapak paruh baya tadi. “Bu, si Eko sekarang kerja apa?”, tanyaku seolah ingin tahu. Ibu memintaku untuk duduk dan menyuguhkanku tela goreng yang ada di atas kulkas. “kamu itu, baru juga sampai rumah sudah tanya Eko”. Seloroh ibu yang tau isi hatiku. “Nanti dia bakal ke sini, tadi ibu memintanya untuk beli obat buat tanaman ibu yang di depan itu. Kata Bu Sri, kalau daun mawarnya ada bintik-bintik hitam harus segera diobati biar tetap cantik”.
Pernyataan ibu setidaknya melegakan hatiku, bahwa bapak paruh baya tadi tentu saja bukan Eko yang dulu aku taksir di masa SMA. Rumahku dan rumahnya sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya beda lorong saja. Di masa mudanya, banyak sekali yang menyukainya. Siapa yang tidak suka, perawakannya yang tinggi, bersih, dan selalu juara kelas, ditambah anak orang kaya menjadi daya tarik baginya untuk digandrungi para wanita saat itu.
Eh…Tapi…, kok ibu bisa nyuruh-nyuruh dia?, bukanya dia harus kerja?, aku mencoba berpikir jernih. “mengapa ibu meminta Eko membeli obat untuk tanamannya?”. Setidaknya, saat ini Eko pasti sudah menjadi lurah atau setidaknya dengan otaknya yang encer dia kerja di sebuah kantor ternama yang memberinya gaji 3 digit. Rasanya tidak masuk akal.
Sebelum aku selesai menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada di kepalaku, ku dengar seseorang menekan bel rumah. Aku berlari menghampiri pintu dan membukanya. Ku lihat sosok yang tidak asing di hadapanku. Bapak paruh baya dengan kaos partai dan celana usang menyunggingkan senyum tipis sembari menyodorkan kresek hitam.
****
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.