PUISI-PUISI UNTUK IBU

Oleh Yoga Mestika Putra

HATI IBU

Tak ada yang lebih tabah
dari hati seorang ibu
pagi-pagi sebelum ayam jantan berbunyi
sudah grasak grusuk di dapur.
Menggoreng,
merebus
menumis,
membikin aneka penganan
dan secangkir cinta
untuk ayah.

SENYUM IBU

Di simpul senyum ibu
hidup yang keras dan payah
terasa renyah seperti kembang loyang.

Di rekah senyum ibu
segala duka lara
beranjak sirna.

Senyum ibu
begitu bermakna
bagi jiwa hampa
yang kerap
dilanda nestapa.

Senyum ibu seperti mata air pegunungan
di tengah gurun pasir
begitu sejuk
begitu damai.

WAJAH IBU

Aku bersyukur masih bisa menatap
wajah ibu di balik jendela kamar
di bawah temaram cahaya lampu
wajah yang selalu mendatangkan tentram
dan paling kurindukan pada saat di perantauan
walau belum bisa membanggakan
baik atau buruk, aku tetap anakmu, Bu.

SELIMUT DARI IBU

Malam ketika itu dibelai angin
Bulan ketika itu mulai mengambang di puncak cakrawala
Sedang langit yang gelap mengantarkan titik-titik yang berkilauan
dingin perlahan menusuk-nusuk kulit.

Di bawah selimut dari ibu
samar masih kudengar detak jam dinding kamar
masih ada bias-bias cahaya
jauh kuperhatikan di balik pepohonan berpendar cahaya yang begitu terangnya
sedang di kejauhan binatang malam bersorak sorai
kegelapan yang menyergap jiwa dengan tiba-tiba
tertelan olehnya seperti masuk ke lubang hitam
waktu tak memberikan kesempatan.

Malam makin sunyi, hujan menikam bumi
kau menyala dalam benakku
kebanggaan yang menggumpal di dada
mondar mandir di labirin perasaan.

DOA IBU

Tuhanku yang Maha Pengasih
kasihilah anakku,
yang sedang berjuang
menulis skripsi.

Tuntun langkahnya
agar selalu di jalan-Mu yang lurus.

Nyalakan api semangat
di dalam dadanya.

Lunakkan hati pembimbingnya
sehingga ia lulus secepatnya.

Setelah itu ya Tuhan, berikan dia pekerjaan yang layak
tempatkan ia di posisi yang baik
sebab empat adiknya menunggu di belakang
menunggu gilirannya juga.

DASTER IBU

Daster ibu sudah lusuh dan usang
dipanggang di bawah terik matahari
tapi cinta ibu tidak pernah hilang
selalu berseri setiap hari.

Daster ibu kusam dan pudar
dibasahi hujan bulan juni
namun sayang ibu selalu berpendar
meski diterpa kerasnya hidup ini.

Ibu tidak pernah minta dibelikan daster baru
kata ibu yang lama masih bagus
biar uangnya ditabung saja
untuk penambah biaya sekolah
yang tak pernah mau mengalah.

Januari 25, 2026

Tinggalkan Balasan