Puisi Yoga Mestika Putra

HUJAN DI BULAN TANPA NAMA

Hujan jatuh tanpa suara,
di jalan yang lupa pada langkahmu.
Tak ada payung, tak ada sapa,
hanya aroma tanah
yang mengingat setiap kehilangan.

Aku berdiri, menatap awan
seperti menatap wajahmu dari jauh—
tidak basah, tapi juga tidak utuh.

IA MENUNGGU DI AKAR WAKTU

Ia menunggu seperti pohon,
tanpa tahu kapan musim datang.
Air matanya mengalir pelan,
menjadi sungai kecil di dada sendiri.

Bulan berganti,
tapi rindunya tak pernah selesai.
Seperti hujan yang jatuh
bukan untuk reda,
melainkan untuk memahami sepi.

DOA YANG TAK PERNAH TERUCAP

Aku belajar dari hujan,
bagaimana jatuh
tanpa membuat luka.

Belajar dari awan,
bagaimana menahan rindu
tanpa berkata apa-apa.

Dan dari dirimu,
aku belajar menjadi sabar—
menjadi hujan
yang tak menuntut pelangi.

SURAT DARI LANGIT MENDUNG

Kau tak datang.
Tapi hujan turun lagi.
Aku kira, itu caramu
mengirim salam lewat udara.

Setiap tetesnya seperti huruf
yang tak sempat kutulis.
Dan aku membacanya perlahan,
hingga senja larut
dalam nama yang sama—
namamu.

RINDU YANG MENYEMAI DIRI

Hujan tak selalu berarti dingin,
kadang ia hanya ingin pulang
ke tanah yang menunggunya.

Begitu pula aku,
yang tak ingin apa-apa
selain diam di hatimu.

Biarlah waktu jadi payung,
biarlah jarak jadi taman—
tempat rindu tumbuh
dalam kesunyian yang lembut.

Januari 26, 2026

Tinggalkan Balasan