Surat Drop Out untuk Kaspul Anuar

Oleh : Alpi Anwar Pulungan
Pagi ini, tokoh utama kita —seorang mahasiswa semester dua belas, kita sebut saja namanya Kaspul, Kaspul Anuar— terlambat dan terlambat lagi. Sebenarnya ia tidak pernah ingin terlambat. Tidak ada manusia yang bercita-cita selalu terlambat. Namun, seperti banyak tokoh lain yang terjebak di dalam cerita yang saya tulis, niat baik jarang punya kuasa. Saya selalu benci orang yang tidak menghargai waktu.
Saya sudah memberi Kaspul semua fasilitas. Mulai dari alarm yang sudah saya setel berbunyi tepat pukul enam, matahari bersinar ramah, dan kopi hangat yang sudah menanti di atas meja. Tapi, seperti kebanyakan cerita mahasiswa semester akhir, mereka sulit sekali bangun pagi hari. Kaspul doyan sekali terlambat.
Ia pun terlambat.
Bahkan Kaspul pun sadar ia sedang berjalan, atau lebih tepatnya berlari menuju adegan yang terlalu sering saya tulis. Suatu waktu dia terlambat bangun, satu waktu dia terlalu asyik men-scroll TikTok, dan pernah juga, ia sudah tiba di kampus tetapi tiba-tiba diminta dosen membeli nasi padang untuk konsumsi rapat.
“Kenapa aku selalu terlambat?” gumamnya.
Kalimat itu bahkan bukan bagian dari cerita yang sedang saya tulis. Itu adalah improvisasi tokoh yang mencari pembenaran. Namun, baiklah, saya biarkan ia berbicara sebentar sebelum saya menariknya kembali ke dalam naskah.
Begini kelanjutan kisah yang saya ketik:
Koridor gedung FIB yang laiknya bangunan purbakala itu memantulkan suara langkah Kaspul. Napasnya terpotong-potong. Ia merasa jarak parkiran dengan gedung FIB lebih jauh dari biasanya. Saya memang sengaja memperpanjang jaraknya. Sedikit sadis, memang, tapi begitulah cara saya mengekspresikan kebencian tenang kepada tokoh yang tidak menghargai waktu.
Kaspul menoleh sekilas ke langit, seolah ingin menegur saya, seolah sadar ada sesuatu di luar dirinya yang mengatur nasibnya.
Kaspul menaiki anak tangga hingga lantai tiga. Di tikungan dekat papan pengumuman usang, yang barusan saya tambahkan, sebuah paku mencuat dari papan kayu. Kaspul tidak melihatnya. Ia hanya tahu tiba-tiba bajunya tersangkut.
Srreeekkk.
Suara kain robek itu saya buat terlalu keras, supaya pembaca tidak melewatkannya. Kaspul berhenti. “Bajingan,” ujarnya, tapi langsung saja makian itu saya hapus. Saya buat Kaspul terlambat menyadari bajunya telah robek.
Tanpa saya sadari, di belakangnya terdengar suara lain.
“Ya ampun, bajuku robek.”
Seorang perempuan. Mahasiswa juga. Kemejanya tersangkut paku yang sama. Paku yang baru saya tambahkan itu kini menjadi jembatan pertemuan mereka. Klise bukan? Tentu saja. Saya sendiri agak muak pada mekanisme pertemuan tak sengaja seperti ini. Namun saya sudah kehabisan cara yang lebih elegan untuk mempertemukan Kaspul dengan perempuan yang, sayangnya, terlalu cantik untuk berada di cerita yang tidak mengasyikkan ini.
Kaspul melihat paku itu, sejurus kemudian memandangi kemejanya sendiri yang ternyata juga robek. Sobekan kecil, tapi cukup menyingkap perutnya yang kecoklatan itu. Mereka saling tertawa.
“Namamu siapa?” tanya Kaspul.
Saya akui, Kaspul memang tidak sepenuhnya menyebalkan. Ada keberanian kikuk di wajahnya. Sedikit brewok, kacamata bulat, dan jika ia tersebyum tipis, ada semacam kepolosan yang bisa membuat seseorang lupa bahwa ia mahasiswa semester dua belas yang terus mengulang banyak mata kuliah.
“Aulia,” jawab perempuan itu singkat. Hanya nama depan. Bodohnya, Kaspul tidak menanyakan nama belakang, tidak menanyakan program studi, bahkan tidak meminta nomor atau akun media sosial. Tokoh laki-laki yang saya benci ini terlalu percaya diri bersandar pada kebetulan, terlalu yakin bahwa cerita ini akan mempertemukan mereka lagi. Ia lupa bahwa cerita ini ditulis oleh saya, bukan oleh takdir romantis.
Kaspul mengangguk, terlalu gugup untuk bertanya lebih jauh.
Mereka berpisah. Perempuan itu berjalan menyusuri koridor, langkahnya saya percepat, tubuhnya menghilang di balik pintu dan baris kalimat ini. Namun, yang tidak Kaspul tahu, perempuan itu sempat menoleh sekali, berharap ada obrolan singkat yang dipanjangkan. Ia sempat ragu untuk menanyakan nama Kaspul, lalu mengurungkan niatnya.
Kaspul masuk kelas dengan kemeja robek dan terlambat dan terlambat lagi.
***
Saya belum memberi tahu Kaspul bahwa hari ini bukan sekadar hari terlambat. Ini kesempatan terakhir baginya. Dosen mata kuliah Analisis Wacana itu terkenal tidak mengenal kata toleransi. Seperti yang sudah ia sampaikan pada kontrak perkuliahan: Empat kali tidak hadir tanpa keterangan = tidak lulus.
Kaspul sudah tiga kali absen. Absen pertama, Kaspul masih di kampung halaman. Ia berbohong kepada ibunya kalau libur diperpanjang seminggu. Absen kedua dan ketiga, ia terlambat. Ia datang saat dosen akan menutup dengan salam.
Hari ini adalah yang keempat. Ia tidak tahu ini. Saya tahu. Dengan tanpa dosa Kaspul masuk kelas.
Saya tidak menuliskan ekspresi dosen itu. Biarlah Kaspul membayangkan sendiri kalimat administratif yang lebih menyakitkan daripada makian yang akan ia terima.
***
Malam hari, Kaspul menyesal dan sedikit bersedih. Ini bagian paling manusiawi dari keseluruhan kisahnya. Kaspul menitikkan air mata. Anehnya, pada bagian ini, saya mulai merasa kasihan. Kaspul masih punya kapasitas untuk menyesal. Penyesalan selalu membuat seseorang terlihat lebih baik.
Saya yakin Kaspul hanya berpura-pura menyesal. Ia memang pandai menangis, terutama pada saat yang tidak tepat. Apalagi ia pernah jadi anak teater. Namun, saat ia duduk lama dan memandangi sepatu di tepi kasur malam itu, saya ragu. Mungkin Kaspul memang ingin berubah.
Untuk mengalihkan pikirannya dari mata kuliah yang harus diulang tahun depan, saya memberinya kegiatan lain. Aktivitas remeh, tapi untuk ukuran Kaspul, ini bisa menjadi obsesi kecil yang menyenangkan.
Ia membuka Instagram.
Ia mencoba mencari nama perempuan yang ditemuinya pagi tadi.
“Aulia Sastra Indonesia Universitas Jambi.”
Terlalu banyak Aulia di dunia digital. Nama itu berkembang biak terlalu cepat. Ia membuka satu per satu profil, menelusuri wajah-wajah asing, bahkan menyelisik daftar pengikut akun himaprodi se-FIB. Ia mencari wajah yang pagi tadi tertawa bersamanya di dekat paku yang sudah saya hapus.
Kaspul bahkan membuka PDDIKTI. Ya Tuhan, laki-laki yang sering terlambat ini mencoba menelusuri arsip negara. Ia mengetik nama depan perempuan itu dan memasukkan nama kampusnya.
Ia gagal.
Selama seminggu, setiap harinya Kaspul datang pada jam yang sama. Ia berdiri di dekat papan pengumuman usang. Menunggu paku yang kini sudah dicabut petugas kebersihan.
Aulia tidak pernah muncul.
Pembaca mungkin berharap saya mempertemukan mereka lagi. Seperti selalu ada kesempatan kedua bagi siapa saja yang tidak pernah berhenti berusaha. Tapi ini bukan kisah cinta. Ini kisah tragedi. Saya sebagai narrator tidak pernah berniat memberi Kaspul sesuatu hal yang indah.
***
Dua minggu kemudian, Kaspul tiba-tiba bangun di tengah malam. Tanpa saya perintah, tanpa saya ganggu. Ia menggelar sajadah biru yang masih tampak baru. Ia salat tahajud, bersujud lama, dan berdoa dengan suara yang tidak bisa saya dengar. Ia menghamba kepada-Nya.
Saya tidak berani mencuri dengar doanya. Untuk pertama kalinya, saya merasa tidak berhak masuk ke dalam kepalanya. Barangkali ada wilayah yang sebaiknya tidak boleh disentuh narator: doa, penyesalan, dan niat yang mungkin tulus.
Ia bersujud lama. Tidak ada yang bisa saya tuliskan. Untuk beberapa menit, cerita ini berhenti. Saya tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu.
Untuk sesaat, saya bahkan berencana mempertemukannya dengan Aulia.
Untuk sesaat saja.
Beberapa saat kemudian, ia melipat sajadah. Keheningan itu hilang.
Usai salat, Kaspul kembali ke kebiasaan lamanya dan menjadi karakter awal yang saya benci. Ia menyalakan laptop dan mencari situs bajakan untuk menonton Liga Inggris. Klub kesukaannya, Liverpool, sedang menjamu Manchester City.
Ia berteriak kegirangan saat Szoboszlai mencetak gol indah melalui tendangan bebas. Ia merasa hidup memberinya keadilan kecil. Apakah doa di sepertiga malamnya untuk kemenangan Liverpool? Membayang itu membuat saya semakin ingin mengakhiri kisahnya. Syukur saja Liverpool kalah 2–1, dan pencetak gol itu mendapat kartu merah. Saya buat Kaspul tidak bisa tidur dengan suasana hati yang sudah rusak.
Pagi menjelang, Kaspul berencana berangkat ke kampus. Kali ini, rencana itu tampak serius. Tapi saya mengubah alarmnya. Seperti biasanya.
Tidak banyak. Hanya lima belas menit lebih lambat.
Cukup untuk membuatnya terlambat lagi.
Cukup untuk memastikan jika Aulia datang, mereka tidak akan bertemu.
Mengapa saya lakukan itu?
Saya tahu, Kaspul tidak pernah benar-benar serius. Kuliah saja tidak bisa ia selesaikan. Ia menghindari komitmen dan keputusan. Dan seperti yang sudah saya bilang di awal, saya benci orang yang tidak disiplin.
Dan, tentu saja, ada alasan lain yang lebih tidak filosofis:
saya penggemar Manchester United, dan saya tidak sudi melihat penggemar Liverpool mendapatkan akhir yang bahagia.
***
Ia tidak lulus mata kuliah itu.
Ia tidak bertemu Aulia lagi.
Ia tidak belajar tepat waktu.
Kini, sepucuk surat peringatan DO ada di tangannya. Kaspul membaca surat itu dengan terlambat. Dan ia menangis. Saya tidak menuliskan bagaimana tangisnya. Saya memilih membiarkan Kaspul duduk di pinggir kasur, menatap dinding, dan berpikir, mungkin memang hidupnya ditulis oleh seseorang yang tidak terlalu menyukainya.
Pagi hari, saya menutup cerita ini dengan alarm yang sengaja saya atur sedikit terlambat berbunyi.
Tidak banyak. Hanya lima belas menit.
Cukup untuk membuatnya terlambat lagi.
Cukup untuk memastikan ia selalu tiba setelah segala sesuatu selesai.
Namun Kaspul bangun 15 menit lebih cepat dan memilih tidak ke mana-mana.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.