Bahasa yang Mengaliri Batanghari*

Oleh : Widya Angraini Ramadhani
Teriknya mentari di Kota Jambi tak pernah ramah pada kepala yang sudah lama terlalu penuh. Memaksa siapa pun untuk tetap sadar, meski pikirannya ingin segera menghilang. Rasanya bak setungku air menggelegak yang jatuh tepat di atas ubun-ubun. Mata gadis itu tak berpaling dari layar ponselnya yang padam sedari tadi. Tubuhnya lesu setelah membaca ulang pesan dari dosennya untuk yang ketiga kalinya. Berharap ada perubahan, tetapi yang ia dapati hanyalah kekecewaan.
“Tugas ujian akhir semester, menuliskan esai dengan minimal dua ribu lima ratus kata dengan tema bahasa sebagai cerminan budaya. Wajib mengangkat kekhasan daerah masing-masing.” Cicit Bestari lemas. Tangannya mengacak rambut pelan dan melempar ponselnya secara sembarangan ke atas kasur.
Diah Bestari, mahasiswa semester lima yang diserbu berbagai dilema. Ia lahir di Jambi. Besar di Jambi. Mendengar bahasa Jambi sejak kecil di dapur rumahnya, di warung tempat ia biasa membeli es krim, di teras rumah tempat ia bermain boneka, dan di acara-acara keluarga. Namun, bahasa itu tak pernah lama menetap di memori otaknya. Ia memahaminya, iya. Ia menggunakannya, jika perlu. Sayangnya, bahasa itu tak pernah menjadi rumahnya untuk pulang. Tak pernah ia gunakan untuk mengatakan bahwa hidupnya terlalu berat untuk usia dua puluh tahun. Hal ini menjadikan bahasa Jambi terdengar asing di lidahnya. Membiarkan Bestari menjadi tamu di rumah sendiri.
Bestari menyukai bahasa Indonesia yang baku dan agaknya kaku. Sama logisnya dengan benteng kokoh yang memagari perasaannya. Ia sangat menolak keras bahasa Jambi, dialek itu terlalu lembut baginya yang ingin berteriak. Terlalu ketat aturan baginya yang mendambakan kebebasan. Terlalu indah baginya yang tak peduli estetika.
Bestari membantingkan tubuhnya di atas kasur, tangannya sibuk memijit pelipisnya yang mulai pening. Tidak, ia tidak takut akan tugas itu. Melainkan pada satu pertanyaan yang mengetuk kepalanya berulang-ulang. Budaya apa yang bisa ia cerminan, kalau dirinya sendiri merasa kosong?
Di kamar kos yang sempit dan masa sewanya tinggal dua bulan itu, Bestari menarik napas panjang dan menggerakkan kursor laptopnya. Mau tak mau ia harus menuntaskan tugas ujian akhir semester yang terasa menyebalkan baginya. Laptop tuanya itu berkedip seolah mengejeknya yang tak kunjung mengetik satu kalimat pun. Jemarinya bergerak cepat menuliskan satu kalimat, menghapusnya, lalu menuliskannya lagi.
Bahasa adalah jati diri dan identitas suatu masyarakat.
Bestari tersenyum getir. Ia membaca ulang, lalu menghapusnya kembali. Kalimat itu terasa seperti sebuah kebohongan. Kalimat itu terdengar seperti suara orang lain, bukan miliknya. Karena baginya, bahasa adalah cermin yang selalu terawat dan dipoles hingga mengkilap. Tidak retak, tidak buram, tidak pernah memperlihatkan luka. Seolah kejujuran selalu menghantamnya dengan rasa bersalah.
Bagaimana ia bisa menuliskan tentang budaya, jika setiap tuturan jujur selalu berakhir dengan penyesalan? Sedih dianggap tak bersyukur, marah dianggap tak tahu adat, menyerah dianggap lemah.
Bestari menutup laptopnya. Di luar, deru motor bersahutan dengan cekikikan mahasiswa yang baru saja keluar dari tempat makan. Kota Jambi hidup seperti biasa, sementara ada sesuatu yang perlahan mati di dalam kepalanya. Bestari memeluk lututnya erat-erat, menatap lantai kosnya yang sedikit kotor dengan helai rambut. Ia ingin sekali menulis tentang kecemasan yang tak pernah bisa diutarakan. Kecemasan yang membuatnya sulit bernapas di tempat ramai. Tentang malam-malam saat pikirannya ingin menghilang. Tentang dorongan untuk menyakiti diri sendiri hanya agar ia merasa ada.
Tapi bahasa apa yang boleh memuat semua itu? Bahasa daerahnya terlalu sopan. Bahasa nasional terlalu formal. Bahasa asing terlalu jauh. Bestari menunduk, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang menakutkan. Mungkin ia tidak depresi karena kehilangan kata, melainkan karena terlalu lama menggunakan bahasa yang bukan miliknya.
Tugas itu, esai tentang bahasa dan budaya tiba-tiba terasa bagai hukuman. Ia diminta bercermin, sementara ia sendiri tidak tahu bayangan siapa yang selama ini ia pantulkan.
…
“Apolah gawe kau ko tunak bae di umah?” Gerutu perempuan berusia empat puluh lima tahun yang merupakan ibu dari Bestari. Ibu membuka pintu dapur lebar-lebar sembari menggelar tikar hijau yang ujungnya sudah terkoyak.
“Aku ini lagi pusing, Bu. Banyak sekali hal yang mengusik pikiranku,” keluh Bestari sambil menenggak tandas segelas teh hangat yang sudah mendingin karena ia diamkan sedari tadi.
“Aduhai cucung aku ko, cubo kau tengok sunge Batanghari tu. Dio kenyok cuma aek. Dio tu cerminan. Kito nak tengok apo? Tengoklah di aek. Dio magi tau kito dengan arus e yang tenang. Ado lagu e tu cung. Apo yo? Nyai lupo pulo.” Cerocos Nyai yang datang entah dari mana.
“Batanghari aeknyolah tenang. Biakpun tenang deraslah ketepi. Anaklahnyo jambi oy jangan lah dikenang. Siang tebayang bamimpi malam lah bamimpi. Hah, serupo tu dak mak lagu e? Masih ingat nian aku ko, Mamak dulu abe senang nyanyi lagu tu di depan tv.” Seru Ibu bersenandung lembut.
“Entah lagu apa pula yang dinyanyikan nenek ini.” Gumam Bestari memutar bola matanya malas. Terlihat jenuh mendengar khotbah yang akan segera dilontarkan oleh sang Nenek.
“Bestari, kau nganing cakap aku ko! Dak baek macak itu, itu budaya kito. Kau ko entahlah pulo reti apo idak cakap aku. Bahaso tu cerminan budaya. Contoh e pantun, di Jambi kito punyo yang namo e seloko adat. Empat baris. Baris satu, baris duo, dio tu sampiran. Kenyok inti. Tapi kalo dak ado sampiran, dak akan pulo jadi pantun yang elok.” Celoteh Nyai menyerang Bestari bertubi-tubi.
Nyai memutuskan untuk duduk di sebelah Bestari. Tak sanggup untuk berdiri terlalu lama akibat sendi lututnya yang linu karena faktor usia. Nyai menarik napas panjang. “samo jugo macak kau, cung. Saro e kau, litak e kau, itu sampiran. Batin kau ko yang inti. Dak akan nyampe kau ke inti tu, kalu dak kau akui sampiran tu. Nak tulis apo? Nulis esai budaya tu? Akuilah bahaso kau.” Sambung Nyai dengan senyum tanpa gigi.
“Bu, aku ini pulang untuk cari jawaban tugas. Bukan untuk mendengar seminar kebudayaan dengan nenek sebagai narasumber.” Bentak Bestari dengan muka yang sudah masam.
“Bestari! Kurang ajar nian kau ko bentak-bentak orang tuo. Anak gadis tu lembut tutur kato e, dak ado nyegak orang tua macak kau iko. Apo yang Nyai kau tu cakap betul, kau ko nampak e la jauh nian dari budaya kito.” Tegas Ibu.
Ibu benar, perempuan Jambi terkenal dengan tutur katanya yang tertata. Bestari tahu akan hal itu. Bestari selalu mencobanya. Sungguh, Tuhan tahu betapa kerasnya Bestari berusaha. Hingga kini rasanya Bestari sudah cukup lelah dalam mencoba. Sejak kapan ia mulai merasa begini? Entahlah, Bestari tak ingat. Yang ia tahu, setiap kali ingin jujur, kata-kata di kepalanya selalu terasa kotor. Terlalu berisik, terlalu gelap untuk dilahirkan dalam bahasa yang katanya berbudaya.
Dengan hati yang memanas, Bestari memutuskan pergi dari rumahnya. Bangunan yang didesain bak panggung supaya berdiri kokoh saat terombang-ambing oleh derasnya luapan tangis Batanghari.
…
Bestari berjalan tanpa arah, tak tahu ke mana ia akan bersinggah. Hanya kakinya yang terus melangkah maju, sementara atensinya masih tertinggal dengan ucapan wanita tua di rumah kayu itu. Baginya saat itu, yang terpenting hanyalah menjauh sejenak dari penatnya kehidupan. Matahari sudah miring sembilan puluh derajat, tetapi panas Jambi masih memeluknya tanpa diminta. Membakar kulit kuning langsatnya meski telah terbalut kain yang cukup tebal.
Tapak kakinya terhenti pada sebuah lapak toko buku kuno di area pasar. Dari luar, tersusun tumpukan buku-buku tua yang kertasnya sudah menguning. Bau kertas menguar dan menari di dalam indra penciumannya. Bercampur dengan debu jalan dan aroma kopi hitam milik penjaga lapak yang berasal dari warung sebelah. Tempat ini cukup sunyi, tak ada suara bising selain kertas yang dibelai lembut oleh angin sore.
Bestari menatap tumbukan buku-buku itu. Entah mengapa tempat yang berantakan justru lebih membuat dadanya tenang ketimbang barisan buku di perpustakaan kampus yang rapi. Bestari menjajaki tempat itu lebih dalam. Seseorang sedang menata buku di ujung lapak. Lelaki tua, berkemeja lusuh berwarna hitam abu, dengan rambut yang separuhnya telah memutih. Ketika Bestari mendekat, pria itu menyadari kehadirannya dan sontak mendongakkan kepala.
“Singgah sebentar. Ado nyari buku apo, Nak?” sambutnya lembut, suaranya sedikit serak khas kakek-kakek berumur tujuh puluh tahunan. Logat bicaranya terdengar sedikit berbeda, seperti dialek orang seberang.
Bestari menggeleng pelan, “Cuman melihat-lihat saja, Pak.”
Namun mata lelaki itu menangkap sebuah kebohongan kecil dari ucapan Bestari. Dirinya tersenyum, ia tahu akan hal itu. “Tugas kuliah yo, Nak? Biasonyo itu penyebab anak mudo datang kesiko.” Ucapnya sambil tertawa kecil.
Bestari terdiam sejenak, “buku apa saja yang … tidak terlalu baru.” Imbuhnya sedikit gugup.
“Yang lamo tu biasonyo lebih jujur.” Beo lelaki itu yang kemudian sibuk sendiri mengobrak abrik buku dalam jejeran rak kayu.
Bestari tak tahu harus merespon apa dan bagaimana. Ia hanya mengikuti lelaki itu ke rak kayu yang dipenuhi dengan buku syair, pantun, catatan adat, dan manuskrip fotokopi dari foto Jambi lama. Tangan Bestari terhenti pada satu buku tipis berwarna kuning gading yang ujung sampulnya sedikit terkelupas.
Syair Pusako Sungai Batanghari
Ia membalik halaman pertama. Tulisan tangan di sana rapat dan miring khas tulisan orang zaman dahulu. Bestari menahan tawa, membayangkan seolah penulisnya menulis buku sambil menahan napas.
Sungai surut di ujung hulu,
Daun kering jatuh melintang.
Kalau hatimu sedang sembilu,
Ceritakan, jangan dipendam.
Ia membacanya secara perlahan, tapi jantungnya mulai terasa aneh dan berdetak lebih kencang. Seolah syair itu berbicara tepat pada ruang kosong yang sudah lama ia biarkan membeku.
“Kau suko syair, Nak?” Tanya lelaki itu.
Bestari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “saya … tidak tahu apakah saya pantas untuk memahaminya.”
Lelaki itu tertawa kecil, “sejak bilo nak keno pantas untuk memahami, Nak?”
Bestari menunduk. Belum siap baginya untuk menjelaskan bahwa ia merasa terputus dari tanah tempatnya lahir. Dari bahasa yang seharusnya menjadi rumah tapi malah terasa seperti pagar yang terlalu tinggi.
“Kato orang bahaso tu kaco,” lanjut lelaki itu sambil menepuk buku di tangan Bestari. “Padahal yo kaco cuma mantulin apo yang ado bae. Kalu di dalam kaconyo kosong, yo kosong jugo nampaknyo.”
Bestari menggigit bibirnya malu, “Saya orang Jambi. Tapi … saya tidak terlalu fasih. Kalau dengar orang bicara logat Jambi pekat, saya suka bingung dan merasa aneh. Rasanya saya … bukan bagian dari sini.”
“Nak, bahaso tu macak aek sunge. Kau minum dari bagian hilir, aku dari hulu. Rasonyo dak samo. Tapi tetap aek Batanghari.” Terang lelaki itu.
Bestari menunduk. Kata-kata itu sederhana, tapi seperti mengetuk sesuatu yang sudah lama tertutup.
“Banyak orang pikir budaya tu cuma yang lamo-lamo,” lanjut lelaki itu. “Padahal budaya itu idup dari ati manusionyo. Kalu ati kau lagi berantakan, bahaso kau pun akan ikut berantakan.”
Bestari menelan ludah. “Berantakan … iya.”
“Dan dak apo,” lelaki itu menambahkan. “Sunge pun ado musimnyo keruh. Bukan berarti hilang kejernihannyo.”
Bestari tidak tahu kenapa tenggorokannya mendadak panas. Ia tidak sedang menangis. Tidak. Ia hanya… terlalu disapa. Bestari menelan ludah. “Saya merasa … kayaknya budaya saya itu… bukan buat saya. Terlalu… indah. Saya tidak cocok.”
Kata tidak cocok terasa seperti pengakuan dosa.
Lelaki itu tidak kaget. Ia malah duduk, memberi isyarat agar Bestari ikut duduk di bangku kayu kecil di samping rak kayu.
“Nak,” katanya pelan, “bahaso dan budaya itu macak masakan. Gulai Ikan Patin orang Jambi di Seberang dak samo rasonyo dengan Patin masakan orang Kerinci. Tapi duo-duonyo tetap gulai, tetap umah bagi orang yang lapar.”
Bestari mengernyit. Masih sulit menangkap maksudnya.
Lelaki itu melanjutkan, “Kadang kita jauh dari bahaso kito kareno ado yang lukokan kito di masa kecik. Kadang kareno kito merasa dak dipahami. Kadang kareno kitonyo dewek takut nak jujur.”
Bestari terpaku.
“Bahasa daerah bukan museum. Bukan dak boleh kotor. Kalu ati kau lagi kelabu, mako bahaso kau pun boleh kelabu jugo.” Ia menunjuk buku syair di tangan Bestari. “Syair pun ado yang sedih nian, Nak. Penyair dulu pun manusia jugo, ado atinyo pecah.”
Bestari meremas ujung bajunya. “Tapi … saya takut salah. Takut kalau saya menulis yang gelap-gelap, itu dianggap tidak tahu adat.”
Lelaki itu menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. Senyum yang seperti cahaya redup tapi cukup untuk melihat jalan. “Yang gelap tu kenyok dak tau adat. Yang gelap tu manusio. Kalu kau cuma menulis yang manis-manis, tu kenyok e budaya. Itu topeng.” Ujarnya
Bestari seperti ditampar dengan kelembutan. Ia sudah lama menulis untuk terlihat baik, bukan untuk sembuh. Sudah lama ia memakai bahasa sebagai pagar, bukan jendela.
“Cubo tulis dengan jujur. Tentang apapun yang diraso. Kadang bahasa daerah itu baru balek kalau kitonyo berani berenti besingit.” Sarannya.
Bestari menunduk, dadanya terasa hangat dan sakit pada waktu yang sama. Seperti sesuatu yang selama ini terjepit mulai mencari celah. “Pak …” bisiknya, “kalau saya mulai nulis … dari yang gelap dulu … boleh?”
“Kenapo dak boleh?” Lelaki itu menyentuh bahunya pelan. “Sunge pun bermula dari hulu yang sempit, Nak. Gelap dulu, barulah jernih.”
Bestari merasakan kulit tengkuknya merinding.
“Nak … kalu isi ati kau gelap, mako gelap tu lah bahaso kau ari ko. Dak apo, Bahaso tu cermin. Dan cermin kenyok cuma untuk wajah yang cantik-cantik bae.” Tutur lelaki itu lembut.
Bestari terdiam lama. Angin sore lewat, meniup rambutnya. Untuk pertama kalinya, seseorang memperbolehkannya menjadi rusak … tanpa syarat.
“Saya boleh beli buku ini?” Suaranya akhirnya keluar.
Lelaki itu tersenyum hangat. “Ambek bae lah. Kau perlu lebih dari sekadar baca. Kau perlu nganing diri kau dewek.”
Bestari memeluk buku itu erat, seolah memeluk sesuatu yang ia tidak tahu ia butuhkan. Ia berjalan pulang dengan dada yang masih berat. Namun untuk pertama kalinya, berat itu punya bentuk.
…
Malam turun dengan lambat, seperti kain hitam yang digelar dari atap langit. Bestari kembali ke kamar kosnya yang sempit. Lampu neon berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala penuh, menyinari ruangan yang hanya berisi meja belajar, kasur tipis, dan rak kecil dengan buku-buku acak.
Buku syair yang ia beli dari lelaki tua kemarin sore terletak di sebelah laptop. Debunya sudah ia tiup, tapi aroma tua halaman-halamannya masih kuat, seperti membawa masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi.
Bestari duduk.
Layar laptop kembali putih, kosong. Kosong seperti ruang di dadanya. Ia menghela napas panjang. Lalu membuka halaman pertama buku itu lagi.
Syair-syair itu menatapnya, tidak menuntut apa pun, tidak memaksanya menjadi “gadis Jambi yang baik” atau “anak yang patuh”. Untuk pertama kalinya, Bestari melihat bahasa daerahnya sebagai sesuatu yang … manusiawi.
Tidak sempurna. Tidak rapi. Tapi jujur.
Bestari mencoba menulis syairnya sendiri. Awalnya tangannya gemetar. Seakan ia sedang menyentuh sesuatu yang sakral. Namun perlahan, kata-kata itu muncul.
Awak berjalan di tengah kota,
Lampu redup jatuh ke dada.
Kalau rindu tak lagi bersuara,
Diam pun jadi bahasa juga.
Ia menatap bait itu lama. Dadanya terasa panas. Ada rasa asing di sana, apakah ini lega? Atau ketakutan baru?
Ia melanjutkan.
Batanghari tampak tenang,
Airnya hitam menahan hujan.
Bukan aku tak ingin pulang,
Hanya takut tak ada yang memanggil kemudian.
Bestari memejamkan mata. Ia tidak pernah berani menuliskan rasa ini sebelumnya. Perasaan menjadi asing di tanah sendiri. Seolah semua orang memiliki “bahasa pulang”, sementara ia hanya punya gema kesunyian. Namun malam itu, sunyi itu mulai punya bentuk. Dan bentuk itu … adalah bahasa.
Lalu ia membuka dokumen barunya. Bestari mulai menulis. Bukan tentang sejarah bahasa Jambi. Bukan tentang adat. Bukan tentang pepatah formal yang dihafal untuk ujian. Tapi tentang dirinya sendiri.
Tangan Bestari bergerak terus. Kadang cepat, kadang tercekat. Tapi bergerak. Ia menulis tentang hari-hari ketika ia merasa hancur tetapi tetap harus tersenyum karena “perempuan baik harus manis bicara.” Ia menulis tentang bagaimana logat daerahnya membuatnya takut karena ia merasa tidak layak memakainya. Ia menulis tentang bagaimana budaya bisa terasa seperti rumah … tapi juga seperti pagar.
Ia menulis tentang lelaki tua penjaja buku. Tentang syair yang pahit. Tentang malam yang menjadi saksi runtuhnya dinding-dinding yang selama ini ia bangun di dalam kepalanya.
Ia menulis.
“Budaya adalah suara yang mengikutiku bahkan ketika aku menutup telinga. Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku berani mendengarnya kembali. Mungkin aku tidak akan pernah ‘sempurna’.
Tapi bahasa Jambi mengajarkanku bahwa pulang tidak selalu berarti kembali, kadang artinya membiarkan diri ditemukan.”
Ketika ia selesai, lebih dari dua ribu kata telah memenuhi dokumen itu. Laptopnya hangat. Jarinya pegal. Tapi hatinya tidak se-kosong kemarin. Bestari menyandarkan kepala ke dinding.
Bestari tersenyum kecil, senyum pertama yang tidak ia paksa hari itu.mBahasa, pikirnya, bukan pakaian adat. Bukan panggung. Bukan tuntutan.
Bahasa adalah cermin.
Dan ia akhirnya berani melihat bayangannya sendiri.
* Naskah cerpen ini meraih Juara Pertama pada LITERAFEST X KUJU 2025
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.