Pesona Malam Gentala*

Oleh : Lilyana Agnesia. S
Suatu malam yang tenang di pusat kota Jambi, langit malam terhampar luas seperti kanvas hitam yang dihiasi oleh ribuan bintang berkelap-kelip. Udara sejuk menyapa kulit, membawa aroma sungai yang segar meskipun malam telah menutupi segala noda. Gentala, dengan jembatan ikoniknya, menjadi magnet bagi para pengunjung yang ingin menikmati keindahan malam. Lampu-lampu kota berkilauan di sepanjang tepian sungai Batanghari, yang pada siang hari sering kali terlihat keruh akibat aktivitas manusia, namun malam ini sungai itu tampak seperti permukaan cermin yang tenang, tanpa sampah-sampah yang biasanya mengotori permukaannya. Festival Batanghari saat ini sedang berlangsung, mengisi udara dengan suara musik tradisional, tawa, dan aroma makanan khas yang menggoda selera.
Di antara kerumunan pengunjung, ada seorang turis asing yang sedang menjelajahi tempat itu. Namanya Thomas, seorang pria berusia sekitar 40-an tahun dari London, Inggris. Dengan ransel di punggungnya yang berisi buku catatan, kamera, dan peta di gawainya, ia tampak kebingungan. Festival ini bukanlah acara biasa, itu adalah perayaan budaya yang meriah, dengan pertunjukan tari, musik, dan stan-stan yang menjual berbagai makanan unik dan kerajinan tangan seperti kain songket dan ukiran kayu. Thomas, yang sedang dalam perjalanan panjang menelusuri budaya Indonesia, merasa sedikit tersesat di tengah keramaian itu. Ia datang ke Jambi untuk mengumpulkan bahan tulisan tentang kehidupan budaya Melayu, yang ia yakini akan menjadi artikel menarik bagi pembaca di negerinya. Namun, tanpa pengetahuan bahasa lokal, ia kesulitan memahami apa yang terjadi di sekitarnya.
Tidak jauh dari sana, Juan, seorang mahasiswa Universitas Jambi, sedang duduk di bangku taman sambil menikmati pemandangan. Ia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, yang selalu antusias membagikan pengetahuan tentang kota kelahirannya. Juan, berusia 20 tahun, memiliki kulit sawo matang, rambut hitam yang selalu rapi, dan senyum ramah. Ia sedang menunggu teman-temannya untuk bergabung di festival, tapi saat melihat Thomas yang tampak sendirian dan kebingungan, hatinya tergerak untuk membantu. “Ini kesempatan bagus untuk berlatih bahasa Inggrisku dengan bule itu,” pikirnya. Dengan niat baik, Juan mendekati Thomas, yang sedang memandangi sungai dari tepi jembatan Gentala.
“Hello, Mister. How are you? Kau terlihat kebingungan. Ada yang bisa ku bantu?” Juan memulai percakapan dengan berbahasa Inggris yang cukup lancar, meskipun dengan aksen Indonesia yang kental. Ia tersenyum lebar, berharap tidak membuat Thomas merasa terganggu.
Thomas menoleh, terkejut namun lega. “Yes, aku pikir aku memang membutuhkan bantuan. Apa kau warga lokal dari tempat ini?” tanyanya, matanya berbinar penuh harap. Ia merasa seperti menemukan penyelamat di tengah lautan orang asing.
“Ya, Mister. Saya warga lokal di sini. Nama saya Juan, seorang mahasiswa di kota ini. Apakah kau sedang berwisata ke tempat ini?” Juan memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Thomas menyambutnya dengan erat.
“Oh, iya, saya sedang berjalan-jalan dan sekalian menelusuri budaya Melayu yang salah satunya ada di Jambi ini. Saya Thomas, saya suka budaya-budaya yang ada di Indonesia ini. Saya juga bercerita dan membuat essay tentang budaya yang saya ketahui. Dan itu ramai sekali dilihat dan disukai. Aku ingin tahu festival yang diadakan ini,” jelas Thomas, suaranya penuh semangat. Ia menceritakan sedikit tentang dirinya sebagai penulis yang telah mengunjungi beberapa negara Asia Tenggara, dan Jambi adalah salah satu destinasi terakhirnya sebelum kembali ke London. Ia tertarik dengan cerita-cerita rakyat dan tradisi yang masih hidup di masyarakat.
“Senang bertemu dengan anda, Mister Thomas. Sungguh luar biasa ada yang suka menelusuri budaya kami. Anda berasal dari mana, Mister?” tanya Juan, penasaran dengan latar belakang tamunya.
“Saya berasal dari UK, kota London, dan saya sudah beberapa bulan ada di Indonesia menelusuri hal-hal yang menarik dan unik. Anda berasal dari Universitas apa, Juan?” Thomas balik bertanya, ingin tahu lebih banyak tentang pemandu barunya.
“Saya mahasiswa Universitas Jambi, Fakultas Ilmu Budaya. Saya bisa mengajak anda berkeliling dan menjelaskan beberapa hal di sini,” tawaran Juan, merasa bangga bisa membantu. Ia ingat betapa pentingnya membagikan pengetahuan tentang budaya lokal kepada orang asing, terutama di era moderen ini.
“Saya sungguh berterima kasih jika anda bersedia membantuku, Juan,” kata Thomas, tersenyum lega. Ia merasa seperti mendapat teman baru di tempat asing ini.
“Dengan senang hati, Mister. Mari kita mulai perjalanan kita,” ajak Juan, menunjukkan langkah pertama mereka.
Langkah pertama mereka terinjak di jembatan Gentala Arasy, yang begitu indah dihiasi lampu-lampu berwarna-warni yang berkilauan seperti permata di malam hari. Jembatan ini panjangnya sekitar 500 meter, melengkung anggun di atas sungai Batanghari, dengan taman taman kecil dan tempat makan yang menawarkan pemandangan langsung ke aliran sungai. Lampu tiang di sekitarnya menciptakan suasana romantis, dengan cahaya kuning dan biru yang memantul di permukaan air. Thomas berjalan perlahan, memotret dengan kameranya, sementara Juan menjelaskan detail-detail kecil.
“Saat ini kita berjalan di atas jembatan Gentala Arasy, Mister. Panjangnya ini sekitar 500 meter dan cocok untuk berfoto dengan latar yang cantik seperti ini,” kata Juan, menunjuk lampu lampu tiang yang menyala terang.
Thomas mengangguk, tapi ia tampak ragu. Dahinya mengerut sambil melihat ke bawah jembatan, ke arah sungai yang tenang. “Mister, jika kau ingin bertanya dari apa yang kau lihat ini, tanyakanlah padaku. Aku akan menjawab semuanya,” kata Juan, menyadari kegelisahan Thomas.
“Di malam hari, sungai itu terlihat tenang dan sejuk dilihat. Tapi saat aku melihatnya siang hari tadi, sangat berbeda. Mungkin karena warnanya terlihat sekali keruh dan kuning di siang hari. Tapi berbeda dengan saat ini, rasanya ingin sekali terjun menikmati airnya,” tanya Thomas, tampak kritis dan penasaran.
“Itu benar, Mister. Sebenarnya sungai ini memiliki sebuah kisah. Apa kau ingin mendengarnya?” tanya Juan, memastikan apakah Thomas benar-benar tertarik.
“Tentu saja. Aku ingin mendengarkan kisahnya,” jawab Thomas riang, matanya berbinar penuh antusiasme.
Juan mulai menceritakan dengan suara yang tenang dan penuh penghayatan. “Sungai Batanghari dulu itu jernih menurut kesaksian orang-orang tua di sini. Sayangnya, karena penambangan emas liar dan pasir, serta kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai, menjadikan sungai ini keruh dan berwarna kuning. Tapi Mister perlu tahu, panjang sekali sungai ini. Sekitar 800 KM panjangnya dan menjadi sungai terpanjang di pulau Sumatera. Sungai ini bukan hanya sumber kehidupan bagi masyarakat Jambi, tapi juga saksi bisu sejarah. Dulu, orang-orang Melayu menggunakan sungai ini untuk transportasi, perdagangan, dan
bahkan ritual adat. Ada cerita tentang nenek moyang yang menyeberangi sungai ini untuk mencari tanah baru, membawa harapan dan impian. Namun, sekarang, dengan polusi yang meningkat, sungai ini menjadi simbol tantangan lingkungan yang harus kita hadapi bersama.”
Thomas mendengarkan dengan saksama, terpukau. “Wow, sayang sekali airnya kini keruh, tapi sungai ini juga panjang sekali ya. Ini membuatku ingin tahu lebih banyak tentang sejarah yang ada di Jambi. Apakah ada upaya untuk membersihkan sungai ini?” tanyanya, menunjukkan kepeduliannya.
Juan tersenyum, senang dengan pertanyaan itu. “Ya, ada program pemerintah dan LSM untuk rehabilitasi sungai. Misalnya, ada kampanye Batanghari Bersih yang melibatkan masyarakat. Kami mahasiswa juga sering ikut serta dalam aksi bersih-bersih. Ini bukan hanya tentang sungai, tapi tentang melestarikan warisan budaya kami. Sungai ini adalah bagian dari identitas Jambi, seperti halnya sungai Thames di London untukmu.”
Thomas mengangguk, merasa terinspirasi. “Itu menarik. Di London, sungai juga punya cerita sendiri, tapi tidak sepanjang ini. Aku ingin menulis tentang ini di artikelku.”
Percakapan mereka berlanjut saat mereka berjalan lebih jauh. Thomas kembali bertanya, “Aku mendengar di seberang Gentala ini adalah pasar Angso Duo? Kenapa namanya Angso Duo?”
Juan tersenyum, siap menceritakan legenda. “Jadi, cerita legendarisnya, Angso Duo itu adalah sepasang angsa yang diyakini telah memimpin Puteri Mayang Mangurai dan Orang Kayo Hitam dalam pencarian tempat tinggal untuk membuka negara baru, yang sekarang dikenal sebagai Kota Jambi, Mister. Angsa-angsa itu dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan petunjuk ilahi. Cerita lengkapnya ada di buku yang aku punya. Aku memiliki buku cerita tentang kisah itu, nanti akan kutunjukkan padamu.”
“Itu menarik sekali! Aku ingin tahu cerita lengkapnya. Jangan lupa untuk menunjukkannya padaku ya,” kata Thomas, sangat riang. Ia membayangkan bagaimana legenda ini bisa menjadi bagian dari tulisannya, menarik pembaca dengan elemen mitos dan sejarah.
“Tentu saja. Ayo kita kembali berjalan menuju Festival yang ramai di sana,” ajak Juan, menuntun Thomas menuju pasar Angso Duo.
Festival Batanghari sedang dalam puncaknya di pasar Angso Duo, sebuah pasar tradisional yang kini menjadi pusat perayaan. Udara dipenuhi aroma rempah-rempah, seperti kari ayam dan rendang, yang dijual di stan-stan makanan. Musik-musiknya mengalun lembut,
diselingi dengan tarian zapin yang energik. Pengunjung dari berbagai usia berkumpul, ada yang menari, ada yang membeli souvenir. Juan menjelaskan setiap detailnya “Festival ini adalah perayaan tahunan untuk menghormati sungai Batanghari sebagai sumber kehidupan. Ada pertunjukan tari tradisional, seperti tari Melayu yang menggambarkan kehidupan nelayan dan petani. Lihat itu, Mister, itu adalah kain songket yang dibuat dengan tangan, motifnya melambangkan kekayaan budaya kami.”
Thomas terpukau, memotret segala sesuatu. Ia mencoba beberapa makanan, seperti lemang dan kue lapis, sambil bertanya tentang resep dan maknanya. “Ini sangat berbeda dari festival di Inggris. Di sana, kami punya festival musik atau pasar Natal, tapi tidak ada yang seperti ini, dengan elemen sungai dan legenda,” katanya. Juan pun senang, merasa bangga bisa memberikan pengalaman baru. Ia menceritakan lebih banyak tentang adat istiadat pernikahan Melayu, di mana sungai sering menjadi saksi janji suci, atau tentang upacara adat seperti kenduri yang melibatkan seluruh kampung.
Selama perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa warga lokal. Ada seorang penjual kerajinan yang menceritakan tentang ukiran kayu yang diwariskan turun-temurun, dan seorang penari yang menjelaskan gerakan tari yang melambangkan harmoni dengan alam. Thomas merasa seperti sedang dalam petualangan budaya, dan Juan merasa lebih percaya diri dalam berbagi pengetahuan. Malam itu berlalu dengan cepat, penuh tawa dan cerita.
Esok paginya, Juan bangun dengan semangat. Ia berangkat ke kampus dengan jadwal mata kuliah Adat Melayu. Di kelas, dosen memberikan tugas baru yaitu, membuat video penjelasan tentang Adat Melayu Jambi untuk warga pendatang atau orang awam. Juan tersenyum, teringat pada Thomas. Untung saja mereka saling bertukar nomor telepon semalam. Ia langsung menghubungi Thomas, meminta bantuan untuk rekaman video.
“Mister Thomas, aku punya tugas kuliah. Bolehkah aku minta bantuanmu untuk ikut dalam rekaman video tentang adat Melayu? Kau bisa jadi narator dari perspektif orang asing,” katanya via telepon.
Thomas, yang masih di Jambi untuk beberapa hari lagi, setuju dengan senang hati. “Tentu, Juan. Aku senang bisa membantu. Ini juga bagus untuk artikelku.”
Mereka bertemu kembali di Jembatan Gentala, tempat yang sama di mana mereka bertemu pertama kali. Udara pagi terasa segar, dengan sungai yang mulai ramai oleh perahu nelayan. Juan membawa kamera sederhana, tripod, dan skrip singkat. Mereka mulai merekam
Thomas bertanya tentang adat seperti upacara adat, pakaian tradisional, dan makanan khas, sementara Juan menjelaskan dengan detail. “Adat Melayu Jambi sangat kaya, Mister. Misalnya, adat pernikahan yang disebut adat bersanding, di mana pasangan duduk di pelaminan dengan hiasan bunga dan kain songket. Ini melambangkan kesatuan dan harmoni,” jelas Juan.
Thomas menambahkan perspektifnya, “Sebagai orang luar, aku terkesan dengan bagaimana adat ini masih hidup. Di London, banyak tradisi hilang karena modernisasi, tapi di sini, kalian melestarikannya dengan bangga.”
Proses rekaman berlangsung selama beberapa jam, dengan jeda untuk makan dan tertawa. Juan merasa tugasnya akan sempurna, dan Thomas mendapatkan bahan tambahan untuk tulisannya.
“Terima kasih, Mister. Aku bisa membuat tugasku karena adanya dirimu. Seharusnya semalam jika ada video kita berjalan-jalan di Festival, mungkin tugasku sudah selesai sebelum diberikan tugas,” canda Juan, memecahkan tawa Thomas.
“Kau ini bisa saja. Kapan pun itu, jika aku bisa membantu, tentu saja aku akan melakukannya untukmu. Aku menikmati buku cerita semalam yang kau berikan itu dengan translate di ponselku,” jawab Thomas.
“Syukurlah Mister menikmati cerita buku itu. Dan dengan rekaman video ini juga bisa menambahkan pengetahuan lebih luas tentang Adat Melayu Jambi untukmu, Mister,” kata Juan, tersenyum iseng.
“Benar juga itu. Aku jadi lebih tahu banyak. Kalau boleh, aku juga menginginkan video yang kita rekam tadi ya. Kirimkan kepadaku, aku akan mentraktirmu makan siang nanti,” jawab Thomas.
“Untuk apa video itu ku kirimkan padamu?” tanya Juan penasaran.
“Kirimkan saja, nanti kau akan tahu,” jawab Thomas singkat, misterius.
Akhirnya, tugas Juan berhasil dibuatnya dengan mendapatkan nilai sempurna dari dosen, karena hasil video penjelasan itu bersama orang awam dari luar negeri yang sama sekali tidak mengetahui Adat Jambi. Video itu menampilkan dialog alami, penjelasan budaya, dan perspektif Thomas yang membuatnya unik. Juan masih penasaran dengan video yang dikirimkannya kepada Thomas, karena ia tidak menjelaskan alasannya sama sekali.
Beberapa minggu kemudian, Juan mendapat kabar dari Thomas. Thomas adalah seorang penulis terkenal di kotanya. Ia datang ke Jambi untuk menelusuri cerita dan adat-adat dari luar negeri yang akan menjadi pengetahuan untuk warga-warga di negerinya. Video itu sudah tersebar luas di internet, dengan ceritanya tentang Adat Melayu dan sedikit pengalaman Thomas dari Festival Batanghari yang menarik perhatiannya juga diceritakan. Artikel Thomas berjudul “Hidden Gems of Malay Culture in Jambi” menjadi viral, membawa nama Jambi ke mata dunia. Juan merasa bangga, dan mereka tetap berteman, saling berbagi cerita melalui pesan.
Pengetahuan dan etika kita terhadap budaya menjadi hal yang perlu dinormalisasikan pada zaman ini. Ini menjadi peluang untuk bangsa kita kepada orang awam, karena kaya sekali budaya di Indonesia yang bisa menarik perhatian dunia luar. Bagaikan bakal biji bunga yang tak terlihat, kita bisa menunjukkan fungsi dan indahnya di balik itu semua dengan tetap melestarikan budaya yang kita miliki. Cerita Juan dan Thomas mengingatkan kita bahwa pertemuan kecil bisa membawa dampak besar, membuka pintu dialog antarbudaya, dan menjaga agar tradisi tidak punah di tengah arus modernisasi. Di Jambi, sungai Batanghari terus mengalir, membawa harapan untuk masa depan yang lebih bersih dan harmonis.
*Cerpen ini meraih Juara Ketiga pada LITERAFEST X KUJU 2025
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.